PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Sabarlah sayang


__ADS_3

Semua yang ada di dalam kamar itu sontak menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Ditya yang tampak acak-acakan meskipun tetap terlihat tampan berdiri di belakang mereka, dengan 3 orang laki-laki yang mengawalnya. Matanya berkantung dan sedikit menghitam, dan masih mengenakan kemeja kantoran. Karena dari kemarin, dia tidak memiliki waktu untuk mandi.


"Aku sudah menduga, dia pasti akan datang mencariku." Naura membatin sendiri, dan bingung apakah dia merasa senang ataukah sedih.


"Bayiku yang dikandung Naura Dok, bagaimana keadaannya?" Ditya tampak berbinar matanya menghampiri Dokter.


"Jaga bicaramu Dity? Memang bisa, baru berhubungan dua hari, sekarang kamu bilang sudah menghamili Naura?" Edward berdiri dan akan mencekal kerah Ditya, tetapi para pengawal lebih cepat memegang tangannya.


Dokter dan perawat sangat terkejut dengan keadaan di depannya.


"Ini rumah sakit, tolong jangan buat keributan disini! Kasihan pasiennya." dengan ketakutan, Dokter berbicara pada mereka.


"Seret dia keluar kamar!" Pradipta memberi perintah, sambil menunjuk Edward.


Sedangkan Naura hanya diam pasrah dengan nasib apa yang akan membawanya ke depan. Apalagi dengan kondisi kabar kehamilan yang baru saja dia dengar, hanya air mata yang tampak deras mengalir dari kelopak matanya.


"Jangan bicara keras di depan..!" belum selesai Edward berbicara, mulutnya sudah ditutup tangan pengawal, dan langsung diseret keluar dari kamar.


Melihat Naura menangis, Ditya langsung bergegas menghampiri gadis itu.


"Sabarlah sayang, aku akan membawamu kembali! Terimakasih atas kabar baik ini, sebentar lagi aku akan menjadi seorang Daddy." dengan penuh kelembutan, Ditya menghapus air mata Naura, kemudian meraih tangannya dan menciumnya.


"Kondisi mbak Naura harus dijaga, karena bayi yang di perutnya masih di trimester pertama. Jadi sangat riskan akan stimulus. Saya tunggu di ruang saya, kalau anda mau konsultasi."


"Baik Dokter, sebentar lagi saya akan ke ruang Dokter."


Tanpa disadari mata Ditya berkaca-kaca memandang Naura, yang belum mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Naura memandang ke arah lain, bingung dengan apa yang akan dia hadapi nanti. Pradipta keluar kamar, memberi waktu berdua bagi mereka.


"Aku akan menikahimu secepatnya sayang, pegang janjiku!" perlahan Ditya meraba perut Naura, kemudian sedikit mengangkat badannya sendiri untuk memberi ciuman di perut Naura.


"Cepat besar ya kid, segera hadir ke dunia ini menemani Daddy!" bisiknya perlahan.


Merasa risi, Naura menggeser sedikit tubuhnya ke kiri. Ditya tersenyum lembut, tetap menggenggam tangan Naura.

__ADS_1


"Istirahatlah Naura, aku tidak akan mengganggumu!"


Ditya meletakkan kepalanya di atas ranjang samping Naura berbaring, dan tidak sampai 5 menit terdengar dengkuran halus dari laki-laki itu. Melihat Ditya tertidur pulas, Naura mencoba melepaskan tangannya, tetapi dengan erat Ditya mempertahankannya. Akhirnya Naura membiarkan laki-laki itu tidur dengan menggenggam erat tangannya.


Sudah satu jam lewat, Naura sudah sedikit bisa mengendalikan perasaannya. Tiba-tiba dia menengok ke pintu, karena ada yang mendorongnya. Terlihat Pradipta masuk dan memberi Naura senyuman tulus.


"Selamat Naura, atas bayi penerus Aditya Herlambang."


Naura hanya tersenyum kecut, tidak tahu bagaimana menyikapi kehamilannya nanti. Dia sudah bercerai, dan saat ini hamil bayi orang lain.


"Bagaimana kabarmu, sudah merasa lebih baik?" tanya Pradipta lagi.


"Sudah lumayan pak Dipta, pusingnya sudah agak berkurang."


"Titip Ditya sebentar ya, dia seperti orang gila mencarimu. Dari kemarin dia tidak mau tidur dan juga tidak makan, hidupnya dihabiskan di jalan. Biarkan sekarang dia tidur sebentar, yang penting tidak membahayakanmu."


Naura hanya bisa mengangguk mendengar perintah dari atasan langsungnya.


"Bagaimana Edward, jangan kalian sakiti dia!" tanya Naura, karena bagaimanapun Edward mereka pernah ditautkan hubungan Tante dan keponakan.


"Tolong pak Dipta, jangan pakai kekerasan. Selesaikan semua dengan kepala dingin, Edward tidak pernah menyakiti aku. Meskipun apa yang dia telah lakukan padaku, tapi dia anak yang baik."


"Ssttt, jangan keras-keras. Jangan puji laki-laki lain di depan Ditya, Naura!"


"Tenanglah, aku boleh istirahat disini sebentar?" Pradipta menunjuk sofa.


Naura mengangguk, dan tanpa disuruh lagi Pradipta merebahkan dan meluruskan kakinya di atas sofa. Tidak berapa lama, kamar perawatan Naura terdengar suara dengkuran halus kedua laki-laki itu.


********************


Ditya membuka matanya, dan mengangkat kepalanya. Di depannya, gadis yang sudah memporak porandakan hatinya sedang tertidur pulas. Dia tersenyum, kemudian berdiri dan saat membalikkan badannya keningnya berkerut. Dia melihat Pradipta tidur pulas dengan kaki diangkat di ujung sofa. Tetapi karena dia juga menyadari jika sahabatnya itu lebih capai dari dirinya, dia membiarkannya tetap tidur.


Ditya mengambil ponsel, dan mengirim pesan WhatsApp ke anak buahnya. Tidak lama kemudian dia keluar kamar, dan menerima bingkisan paper bag dari anak buahnya.

__ADS_1


"Kirim makanan ke kamar ini. Aku akan sarapan disini bersama Pradipta!"


"Baik Tuan, segera kami siapkan!"


Dia kemudian bergegas masuk ke kamar mandi, dan dengan peralatan kamar mandi seadanya, Ditya mulai membersihkan tubuhnya. Saat dia keluar dari kamar mandi, dia melihat Naura duduk dan akan mengambil kantong infus yang ada di tongkat besi penyangga.


"Mau kemana sayang?"


"Kamar mandi," jawab Naura singkat tanpa melihatnya.


Dengan sigap, Ditya mengambil kantong infus itu, kemudian tangannya akan mengangkat Naura.


"Tidak perlu diangkat, Naura akan jalan sendiri!"


Ditya menatap mata Naura sebentar, kemudian setelah menghela nafas akhirnya dia mengabulkan permintaan gadis itu. Dia memegangi badannya untuk pelan-pelan turun dari ranjang, kemudian menuntunnya ke kamar mandi.


"Naura bisa sendiri di dalam, cukup sampai disini!" Naura menghentikan Ditya yang akan ikut masuk ke kamar mandi.


"Tidak perlu malu padaku sayang, bahkan aku sudah melihat tubuhmu tidak mengenakan apapun." goda Ditya.


Naura memerah pipinya, dan tanpa kata langsung mengambil kantung infus di tangan laki-laki itu kemudian segera menutup pintu kamar mandi. Di luar pintu, Ditya tersenyum sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Ha..ha .ha.., baru kali ini aku melihat pemandangan lucu." tiba-tiba terdengar Pradipta di belakangnya tertawa terbahak-bahak.


"Hai, diam tidak kamu!"


"Kenapa melarangku tertawa, akhirnya setelah dari kemarin aku bisa mengendorkan saraf di mukaku. Ha..ha..ha.., Ditya, Ditya..., kamu yang setiap hari dikejar banyak wanita, pagi ini kamu ditolak oleh wanita. Ha..ha..ha.., betapa apes ya dirimu." Dipta tetap tertawa sambil meledek Ditya.


"Tutup mulutmu, bau. Sana keluar, mandi!"


"Iya.. .iya.., ternyata kamu sudah mengembalikan ketampanan kamu ya? Cckk..ckkk..., orang kalau sudah jatuh cinta dan ketemu tambatan hati, pokoknya harus perfect style."


Dipta melihat sahabatnya yang sudah rapi dan memiliki aroma harum. Ditya membiarkan Dipta yang terus meledeknya, dia segera merapikan rambutnya.

__ADS_1


***********************


__ADS_2