
Pukul 05.00 pagi Naura sudah siap untuk berolahraga di halaman mansion, sebenarnya niat utamanya untuk melihat siapa tahu menemukan orang yang diceritakan oleh Laura pelayan rumah ini. Melihat putranya Ezaz masih terlelap, dia urung membangunkan putranya itu.
"Where are you going, Miss Naura?" beberapa pelayan heran melihat Naura sudah bersiap di pagi buta. Mereka saja baru saja bersiap untuk menyiapkan hari ini.
"Suddenly I feel bored, since last night I couldn't sleep. I'm going to do some exercise." Naura menyampaikan jika dia baru merasa bosan, sejak tadi malam tidak bisa tidur. Pagi ini akan melakukan olahraga sebentar.
"Oh, that's great, Miss. Have a good workout." pelayan memuji Naura. Dengan hati-hati Naura mulai melakukan peregangan di teras rumah ini.
Dia menggerakkan pinggangnya ke kanan dan ke kiri, kemudian kedua tangannya dia regangkan ke depan dan belakang. Demikian juga dengan kepalanya, dia tekuk ke kanan, kiri, dan ke depan. Dia merasa nyaman dengan gerakan-gerakan sederhana yang dia lakukan. Para maid tersenyum melihat apa yang dilakukan Naura, mereka merasa bahagia melihat gadis itu sudah mau melakukan aktivitas. Biasanya hanya di kamar, dan jikapun keluar hanya di sekitar dalam rumah.
"Hello Miss Naura... it's great to do morning exercise." seorang pelayan laki-laki yang bertugas membersihkan kebun, menyapa Naura.
"Hello too Smith." balas Naura dengan ramah.
Naura berjalan cepat bolak-balik di halaman rumah. Dia hendak ke jalan yang ada di depan rumah, tetapi kurang nyaman jika niatnya diketahui oleh para maid. Apalagi dini hari tadi, dia sudah bertemu dengan Edward. Dia hanya berharap jika laki-laki ini masih bergelung dengan selimutnya. Tiba-tiba dia mendengar keributan terjadi di pinggir jalan, seperti ada orang adu mulut.
"Smith, looks like there's a commotion outside the fence. Can I see it?" Naura memanggil Smith, dia memberi tahu jika mendengar keributan di luar pagar, dia ingin melihatnya.
"Okay.., I'll open the gate first." sambil berlari, Smith segera mengambilkan kunci pintu kecil di samping pintu gerbang. Begitu gerbang dibuka, terlihat ada dua orang petugas polisi sedang ribut dengan laki-laki di luar pagar. Melihat jika laki-laki itu seperti warga negara dari Indonesia, Naura berlari mendekat. Smith mengikuti gadis itu.
"I'm not a bad person, I'm just taking a break here. Please let me go!" Naura mendengar suara laki-laki berusaha meembela diri dari polisi yang menangkapnya. Dia mengatakan jika dia adalah orang baik, dan hanya menumpang istirahat disitu.
"Deg.." tiba-tiba jantung Naura berdetak keras, dia sangat hafal dengan suara orang itu.
__ADS_1
"Kak Ditya.., benarkah itu kamu?" Naura tergagap, dan mendadak gugup begitu mendengar suara dari laki-laki yang dicintainya itu. Tetapi melihat laki-laki itu terlihat kurus dari belakang, dia agak sangsi. Tetapi tinggi badan dan kulit putihnya persis dengan Ditya. Gadis itu mendadak diselimuti keraguan, wajahnya terlihat pucat seketika.
"Miss.., what happened to you?" melihat perubahan Naura yang mendadak pucat, pelayan itu tampak mengkhawatirkan Naura.
Naura menggelengkan kepala, matanya tidak mau lepas dari punggung laki-laki yang dibawa polisi itu. Dengan kasar, polisi itu mendorong laki-laki itu untuk memasuki mobil.
"Shut up, explain later at the police station! You can give information there." polisi meminta laki-laki yang dibawanya itu untuk diam. Dia diminta memberikan keterangan di kantor polisi.
Tiba-tiba laki-laki itu menoleh, dan wajah Naura semakin pucat. Meskipun wajah laki-laki itu tertutup bulu-bulu cambang, tetapi dari matanya, Naura bisa mengenalinya dengan jelas.
"Kak Ditya.." ucap lirih gadis itu.
Laki-laki itu kembali menoleh, dan terkejut dengan siapa yang dia lihat. Tetapi mobil polisi sudah membawanya pergi.
"Ada apa ini??? Kenapa Naura bisa berada di luar pagar, apa yang dia lakukan?" tiba-tiba terdengar suara Edward menegur Smith.
Tidak mau menimbulkan masalah, Naura membalikkan badannya dan melihat Edward sudah berada di depan pintu gerbang.
"Semoga Edward tidak melihat Ditya." dalam hati, Naura berharap. Laki-laki itu berjalan mendatangi Naura yang masih jongkok di atas aspal.
"Naura.. kenapa kamu?? Sepertinya kamu habis menangis?" Edward bertanya dengan penuh rasa khawatir pada Naura. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri, tetapi dengan cepat Naura bangun sendiri, kemudian dia berjalan meninggalkan Edward sendiri.
*****************
__ADS_1
Edward mengumpulkan para pelayan di rumah belakang, mereka ditanya kenapa Naura bisa menangis di pinggir jalan. Untungnya laki-laki itu tidak melihat Ditya, karena begitu dia keluar mobil polisi itu sudah berjalan.
"What happened to Naura?" suara keras Edward terdengar di ruangan itu. Semua pelayan hanya menundukkan kepala, mereka tidak berani menatap Edward.
"Perhaps Miss Naura is just touched, sir. There was someone who was arrested by the police." pelayan laki-laki yang membukakan pagar kemudian menceritakan kejadian sebenarnya pada Edward. Pagi tadi Naura berolahraga, dan mendengar ada keributan di luar pagar. Saat pintu gerbang dibuka, dia melihat ada orang yang ditangkap dan dibawa oleh dua orang polisi.
"Is it true, everything you told me?" Edward bertanya apakah cerita yang disampaikan Smith itu benar.
Beberapa pelayan yang mengetahui kejadian persisnya mengiyakan pertanyaan Edward. Setelah itu, laki-laki itu langsung keluar dari rumah belakang. Dia kembali ke rumah utama, dan melihat Naura baru menyuapi Ezaz.
"Selamat pagi Ezaz sayang..," sapa Edward dengan ramah pada Ezaz. Laki-laki itu kemudian mengambil sandwich yang sudah disiapkan oleh maid untuknya. Dia kemudian duduk di samping Ezaz.
"Pagi Uncle.." jawab Ezaz sambil tersenyum ceria.
"Naura bisa minta tolong, aku diambilkan orange juice!" di depan Ezaz, Edward sengaja meminta tolong pada Naura untuk melayaninya. Karena dia yakin, jika gadis itu tidak akan menolaknya jika berada di depan putranya.
Ternyata dugaan Edward benar, Naura segera mengambil gelas kosong dan menuangkan orange juice ke dalamnya. Kemudian dia memberikan gelas itu pada Edward.
"Ezaz mau sayang, orange juice seperti yang diminum Uncle. Jika mau, Mommy ambilkan." melihat putranya melihati Edward minum, Naura menawarkan pada putranya itu.
"Yes ma'am.., Ezaz wants to." Naura langsung menuangkan kembali orange juice ke gelas, dan memberikan langsung pada putranya. Edward tersenyum melihat interaksi antara Naura dan putranya itu. Dia membayangkan jika Naura adalah istrinya, kemudian Ezaz adalah putranya. Tanpa sadar dia tersenyum-senyum sendiri.
*****************
__ADS_1