PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Antri


__ADS_3

Pagi hari Naura meminta pada Bi Ijah untuk mengantarkan sarapan paginya ke kamar. Pagi ini dia merasa malas untuk ketemu Edward, karena bisa mengganggu mood nya. Karena pukul 10.00 dia harus melakukan interview di PT. Elang Jaya, maka dia harus menjaga agar mood nya tetap bagus. Untungnya Bi Ijah mengetahui apa yang telah terjadi antara Naura dan Edward, sehingga tanpa banyak bertanya, Bi Ijah mengantarkan apa yang diperintahkan oleh Naura.


"Kemana Naura Bi?" Bi Ijah terkejut karena tiba-tiba Tuan Firmansyah menanyakan ada dimana istrinya.


"Ada di kamar Tuan, sepertinya sedang menyiapkan sesuatu. Bahkan untuk sarapan paginya, Non juga meminta  pada saya untuk membawanya ke kamar."


Edward pura-pura tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, dia tetap diam tanpa bicara, dan mulai menghabiskan sarapannya. Tetapi dia akan menyusun strategi untuk berbicara pada Om-nya, jika dia menyukai Naura, dan akan memintanya.


"Apa perlu Bibi panggilkan Tuan, jika Tuan akan berbicara dengan Non Naura?"


"Tidak perlu Bi, biarkan saja. Mungkin ada hal yang lebih penting untuk dia selesaikan."


Firmansyah tetap melanjutkan sarapan paginya dalam diam, bahkan dia juga tidak mengajak Edward bicara.


"Edward siap-siap dulu ya Om. Kebetulan sarapannya sudah habis." akhirnya Edward pamit untuk keluar duluan dari meja makan.


"Hmm."


Dalam sendiri Firmansyah melanjutkan sarapan paginya, dan tidak lama dia sudah menyelesaikan dan segera bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan. Saat Firmansyah akan menuju kamar, dia berpapasan dengan Edward yang sudah akan keluar rumah, dan berangkat terlebih dulu.


"Edward berangkat dulu ya Om."


"Ya, hati-hati."


Melihat mobil Edward sudah keluar dari rumah, Firmansyah tidak jadi siap-siap untuk berangkat ke perusahaan. Dia malah mengambil majalah keuangan, dan membacanya di ruang tamu. Tidak lama kemudian, pintu kamar Naura dibuka dari dalam. Firmansyah terkejut melihat istrinya hari ini berubah penampilan menjadi seorang wanita pekerja. Menggunakan riasan tipis, menjadikan wajah Naura tambah bersinar. Di balik majalah, Firmansyah mengamati gaya istrinya.


"Ingat Fir.., dia pantas menjadi cucumu bukan istrimu." hati Firmansyah seperti berbisik.


"Mau kemana, masih pagi sudah rapi. Bukankah kamu sudah wisuda?" tiba-tiba tanpa Firmansyah sadari, mulutnya mengeluarkan perkataan untuk mengajak bicara Naura.


"Ya Om, mau interview di PT. Elang Jaya. Syukurlah, dari kampus Naura dikirimkan rekomendasi untuk kerja di perusahaan itu. Baru tadi malam Naura mendapatkan email, jika hari ini jam 10.00 diminta untuk interview."


"Perusahaan milik Prasetyo Pangestu ya, dan ada informasi sekarang yang memimpin adalah Aditya Herlambang, putra keduanya. Itu perusahaan bagus, mau tak antar atau berangkat sendiri?" Firmansyah sedikit terkejut dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba menawarkan pada Naura untuk mengantarnya.


"Naura ikut saja Om. Tetapi sebenarnya sudah pesan ojek online sih. Ini lagi mau nunggu di gerbang. Tapi kalau sekalian Om mau jalan, ya tidak apa-apa, Naura bareng Om saja berangkatnya." jawab Naura yang tidak mau mengecewakan suaminya.


"Ya, tunggu sebentar."

__ADS_1


Naura kemudian mengirimkan chat pada Ojolnya, bahwa dia tidak jadi dijemput, tetapi uang yang sudah dibayarkan via e-payment untuk abang ojolnya saja.


Firmansyah kemudian meninggalkan Naura, kemudian masuk ke kamarnya, dan tidak lama kemudian sudah membawa tas dan siap berangkat ke perusahaan.


"Ayo, karena jam kerja biasanya jalannya sibuk. Khawatir nanti macet." Firmansyah mengajak Naura segera berangkat.


Naura berjalan di belakang Firmansyah, kemudian masuk mobil dan duduk di sebelah kiri suaminya.


 


*******************************


 


Sepanjang perjalanan, Naura hanya diam dan tidak memulai pembicaraan. Jika suaminya bertanya, dia akan menjawab, tetapi jika tidak, dia juga akan diam. Seperti yang dikatakan Firmansyah, ternyata jalanan menuju PT. Elang Jaya lumayan macet. Tiba-tiba terdengar suara getaran ponsel, Naura melirik ke samping ternyata ponsel suaminya yang bergetar.


"Iya, gimana San?" Firmansyah mengangkat panggilan masuk.


"Tunggu aku di perusahaan, aku masih di jalan, Sedang mengantarkan Naura sebentar."


"Sudah diam, tunggu aku di perusahaan saja." seru Firmansyah.


"Sudah sampai, aku hanya mengantarmu saja. Untuk urusan pulang, kamu bisa naik taksi."


"Ya Om, terima kasih." Naura kemudian mengulurkan tangannya untuk menyalami suaminya, kemudian mencium tangannya. Kemudian gadis itu keluar dari dalam mobil, dan langsung masuk ke pintu lobby.


"Seorang gadis yang cerdas, sopan. Sangat disayangkan karena ulah kedua orang tuanya, dia harus menderita seperti ini." Firmansyah bergumam sendiri.


Dia kemudian menjalankan kembali mobilnya menuju ke perusahaan. Dalam pikirannya dari tadi terbayang bagaimana Edward keponakannya tadi malam menyatakan perasaannya pada Naura. Sebenarnya dengan dia mengantar Naura ke perusahaan itu, dia berniat untuk menanyakan bagaimana perasaan Naura sebenarnya pada keponakannya. Tetapi dia sendiri tidak bisa memahami dirinya, karena ternyata mulutnya tidak berbicara ke arah itu.


 


***********************************


Naura mendatangi petugas receptionis. Kemudian dia menyampaikan maksud kedatangannya, dan menyerahkan bukti print out email yang dia dapatkan tadi malam. Karyawan yang bertugas melakukan pengecekan sebentar, kemudian mengembalikannya pada Naura.


"Mari mbak saya antarkan ke ruang tunggu ya. Tadi sudah ada 2 calon juga yang sudah datang." karyawan tersebut kemudian ke luar dari kubiknya, kemudian mengantarkan Naura ke ruang tunggu.

__ADS_1


"Silakan menunggu dulu ya mbak. Karena Tuan Pradipta belom hadir, katanya masih terjebak macet di jalan."


"Terima kasih mbak."


Naura melihat sebuah ruangan yang sangat bersih, kemudian dia duduk di sofa. Di dalam ruangan itu sudah ada 2 orang, satu laki-laki dan satu perempuan. Naura tersenyum pada kedua orang tersebut.


"Panggilan wawancara juga mbak? Kenalkan nama saya Bambang." laki-laki yang duduk di depan Naura mengenalkan dirinya.


"Iya, saya Naura mas. Mbaknya siapa namanya?"


"Saya Yetty mbak."


Mereka bertiga mengobrol sambil menunggu panggilan wawancara. Bambang ternyata lulusan dari program studi Manajemen Undip, dan Yetty lulusan dari sebuah Universitas Islam di kota tersebut. Sekitar satu jam kemudian, tiba-tiba ada seorang wanita yang masuk ke ruangan tersebut.


"Urut yang hadir dulu ya. Bambang, ayo ikuti saya." ternyata wanita tersebut adalah karyawan dari HRD, yang ditugaskan untuk memanggil mereka.


Sekitar setengah jam, tanpa ada Bambang, wanita tadi masuk dan mempersilakan Yetty untuk melakukan wawancara. Sepeninggalan Yetty, Naura duduk sendiri di ruangan tersebut. Untuk mengisi kekosongan waktu, Naura mengeluarkan ponselnya dan melakukan chat via whattsapps dengan teman-temanya via group.


"Naura lagi dimana kamu, terus apa kegiatanmu sekarang? Menikmati uang suami dan senang-senang atau?" Naura tersenyum membaca isi chat dari Iin.


"Memangnya Naura itu kamu In, isi otaknya hanya shopping, shopping and eating." sahut Akbar.


"Lha itu memang dunia wanita Akbar. Makanya besok kamu kalau kerja, cari duit yang banyak. Biar ada uang untuk shopping istrimu. Wkkk...wkk..."


"Aku tidak bisa membayangkan kalau tiba-tiba Iin dan Akbar menjadi pasangan ini. Bisa-bisa rumah tangganya gempar tiap hari." kata Fikri.


"Hua..ha..,ha.., jangan Fikr. Nanti tiap haru curhatnya ke aku donk." kata Naura.


Naura asyik melakukan chatting dengan teman-temannya, tiba-tiba namanya dipanggil.


"Mbak Naura, mari."


Tanpa sempat pamit dengan teman-temannya, Naura langsung keluar dari chat, dan menyimpan ponselnya di dalam tas, kemudian mengikuti karyawan wanita tersebut.


 


 

__ADS_1


 


****************************************


__ADS_2