
Hari demi hari, bahkan bulan demi bulan dilalui Naura di rumah Firmansyah dengan sangat dingin. Hanya saat suaminya membutuhkan pasangan untuk menghadiri undangan terkait pekerjaan saja, dia akan mengajak Naura pergi. Sedangkan untuk masalah tidur bersama, tidak pernah mereka lakukan. Bahkan sampai sekarang ini, Naura belum pernah masuk ke kamar suaminya. Jadi Naura merasa diperlakukan sebagai anak asuh oleh Firmansyah. Tetapi meskipun demikian, Naura tetap memposisikan sebagai seorang istri yang baik. Dia membatasi diri dari pergaulan dengan teman-temannya, terutama teman laki-laki.
"Naura..., kita ngadakan event lagi yok. Seperti semester kemarin, Minggu Keakraban, banyak lho yang apresiasi kegiatan kita waktu itu." Fikri mengajak Naura untuk mengadakan event lagi seperti semester lalu.
"Ya, silakan Fikr, tapi aku tidak usah terlibat ya besok. Aku banyak aktivitas lain sekarang, jadi tidak sembarangan keluar seperti dulu." kata Naura sambil menyesap es jeruk.
Saat ini mereka sedang menunggu jadwal kedua, yang ada jeda Off pada setelah kuliah pukul 7 pagi. Saat Naura belum sempat sarapan pagi, dia kemudian pergi ke kantin secara diam-diam, tetapi ternyata di koridor Fikri melihatnya, dan akhirnya menyusulnya ke kantin.
"Naura, aku mau tanya. Tolong deh, kamu jawab dengan jujur ya."
Naura menganggukkan kepala, sambil menyuap satu sendok makan soto ayam ke mulutnya.
"Kamu kenapa Naura, aku dan teman-teman sering ngomongin kamu. Sudah satu semester lebih, kamu itu beda. Tidak seperti dulu lagi Naura, selalu aktif, responsif, dan helpfull. Apa kamu ada masalah Naura?"
"Contoh seperti sekarang, kita yang sering mendiskusikan selalu mengadakan event untuk kegiatan kemahasiswaan. Saat ini aku ngajak kamu untuk diskusi kegiatan lain, tetapi responmu beda Naura." Fikri panjang lebar menanyai Naura.
Fikri berusaha meraih tangan Naura, tetapi dengan sigap Naura menarik tangannya.
"Maaf ya Fikr, kita bukan muhrim." ucap Naura yang membuat Fikri terkejut.
"Naura, Naura..., cerita donk. Apakah kamu tidak menganggap aku sebagai teman atau sahabatmu lagi? Nauraku yang selalu ceria, optimis, aktivis, confident.., kenapa sudah hilang. Ayo Naura, ceritakan padaku, apa masalahmu."
"Fikri.., aku tidak ada masalah apa-apa. Suatu saat kalau sudah tiba masanya, aku akan ceritakan pada kalian semua. Aku tidak sebebas dulu lagi Fikr, meskipun tidak ada yang melarangku, tetapi aku menempatkan posisiku saat ini."
"Dan jika kalian mengadakan acara lagi, meskipun aku bukan pelaku utama, aku janji tetap akan membantu kalian. Cuma aku harus membatasi langkah dan berapa jam aku harus keluar rumah."
Fikri memandang wajah Naura tanpa berkedip, dia berusaha menangkap apa yang dirasakan sahabatnya itu. Tetapi dia tidak dapat menemukan apa-apa. Naura malah tersenyum, tetapi tidak berkata apa-apa.
"Hai Fikr..., Naura, aku pikir kamu pulang ke rumah Na. Ternyata pada di kantin, tidak ajak-ajak." tiba-tiba Akbar datang dan duduk di samping Fikri.
"Maaf Bar.., tadi habis kelas pak Theo aku langsung ke sini. Habis lapar sih, dari jam 6.30 dari rumah, belum sempat sarapan." sahut Naura.
__ADS_1
"Tapi kenapa bisa bareng sama Fikri. Kalian tidak sedang kencan bukan?" tanya Akbar.
"Apa Bar, kencan? Ya jelas tidak. tadi aku ke kantin duluan, tiba-tiba Fikri nyamperin kesini tuh. Tanya sendiri sama Fikri, kenapa dia bisa di meja ini bareng aku."
"Hm..., makanya keramas loe kalau pagi hari. Jadi otak loe itu jernih." sahut Fikri.
"Apa hubungannya memang?"
"Aku tadi mau ke ruangan pak Yitno, mau nanya ada tugas tidak. Karena pak Yitno tadi pagi jam 07 Off. lagi jalan di koridor lihat Naura mau ke kantin. Berhubung nasibku juga sama dengan Naura, karena Lapar, ya udah aku duduk disini. Jelas mas Akbar?"
Akbar tertawa dan mengacungkan dua jempol.
"Okay, bisa diterima alasan kalian berdua. Masuk pak Eko..."
Mereka tertawa bersama, karena jam kedua sudah mau mulai, akhirnya Naura pamit ke kelas duluan. Melihat Naura pergi, Fikri juga ikutan balik mencari pak Yitno. Akbar marah-marah karena ditinggal sendirian.
**************************************************
Naura duduk di baris nomor dua dari depan, dan di sampingnya IinĀ dan Ditha sedang mencatat penjelasan yang disampaikan oleh bu Nunuk. Jam kedua kuliah hari ini adalah mata kuliah Bank dan Lembaga keuangan Lainnya.
Kelas yang tadi agak terdengar riuh, tiba-tiba menjadi hening saat Bu Nunuk memberikan kuis.
"Kok malah hening itu bagaimana, dimana suara kalian?" seru bu Nunuk.
Naura menoleh, dan melihat teman-temannya menunduk. AKhirnya dia mengacungkan telunjuknya.
"Ya Naura lagi, Naura lagi. Tapi sudahlah, daripada 40 orang mahasiswa tidak ada yang punya suara."
"Tugas utamanya, loanable funds bukan bu, dari unit surplus dengan menerbitkan sekuritas sekunder kepada unit defisit, dengan media sekuritas priner."
"Yupz, kamu benar Naura. Ayo teman-teman lainnya. Makanya kalau ada dosen menjelaskan, siapapun bukan hanya kelas Ibu, semua pada mendengarkan, dicatat, tidak malah pada ngomong sendiri."
__ADS_1
"Ya Bu." beberapa mahasiswa menjawab secara bersama-sama.
Dosen BLKL kemudian meneruskan kembali penjelasannya, dan setiap materi selesai disambung dengan kuis. Setelah dua jam lebih, Bu Nunuk mengakhiri pemberian materi kuliahnya, dan mengirimkan tugas di Google Classroom.
"Jadwal ngumpulnya kapan Bu?" tanya teman Naura laki-laki dari belakang.
"Sudah dibuka belum GC nya mas? Kalau sudah dibuka, dan disitu tidak ada time limit pengumpulan tugas, baru bertanya ya."
"Huuuuuu.., sok aktif kamu Herman." celetuk Basri.
Herman mengacungkan genggaman tangan pada Basri. Basri malahan menjulurkan ludah pada Herman. Teman-teman lainnya pada ketawa melihat ulah temannya itu.
"Sudah, sudah. Ibu akhiri ya, selamat siang. Dan jangan lupa, tugas dikerjakan." Bu Nunuk kemudian berjalan keluar dari ruangan kelas.
Karena sudah tidak ada jadwal kuliah lagi, Naura segera membereskan catatan dan memasukkannya ke dalam tas.
"Naura, jangan pulang dulu. Tunggu aku sebentar." Iin yang masih membereskan perlengkapannya, menahan Naura.
Naura berhenti dan menunggu Iin sampai selesai memasukkan perlengkapan ke dalam tote bag nya.
"Ada apa In?"
"Ikut kita yok. Sekalian mengerjakan tugas bareng, sudah berbulan-bulan lho kita tidak kumpul-kumpul bareng."
"Memang pada mau kemana ngumpulnya? Aku tidak bisa lama-lama In, soalnya tadi belum pamit."
"Oh My God..., kamu sekarang kenapa sih Naura. Kok jadinya susah banget. mau ngajak kamu."
Naura tersenyum, kemudian menggandeng Iin, dan mengajaknya keluar kelas.
"Kalian juga kenapa sih, tadi Fikri, terus Akbar. Aku masih Naura yang dulu Iin. Cuma aku sekarang punya keterbatasan waktu, tidak sebebas dulu lagi."
__ADS_1
"Apa alasannya, kenapa tidak bisa bebas? Apa aku yang memintakan ijin sama Tante Novi dan Om Samsuar?"
"Tidak perlu Iin sayang. Jangan hari ini, kalau besok aku usahakan. Nanti aku pamitan dulu, kalau besok pulang kuliah agak terlambat, karena mau diskusi tugas dengan teman-teman."