
"Siapa yang kirim share location ke ponselku, aku betul-betul tidak mengetahui nomor siapa itu? Sudah aku cari informasi, itu kode negara Australia." Pradipta malam ini tidak bisa tidur, dia masih mengingat nomor ponsel yang mengirim chat berisi share location.
"Ada maknanya tidak ya?? Atau hanya chat nyasar?? Tapi jika chat whattsapps itu biasanya harus ada nomorku dulu, beda kayak kirim pesan via SMS."
"Australia... Edward?" Pradipta langsung terbangun dari tidurnya, tiba-tiba dia teringat dengan Edward. Laki-laki muda keponakan dari Firmansyah, yang pernah menculik dan membawanya sampai di Kepulauan Seribu.
"Apakah itu nomor ponsel Edward ya.., tapi mana mungkin laki-laki itu menghubungi aku? Secara kebetulan pun, aku belum pernah berinteraksi atau memiliki hubungan dengan dia. Ataukah..., jangan.., jangan.., Naura. Naura dibawa lari Edward ke Australia.., kemudian mencuri kirim chat pakai ponsel Edward?"
"Kalau benar Naura, kenapa dia tidak kirim chat ke Ditya malah kirimnya ke aku?"
Pradipta dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan kiriman share location via pesan melalui whattsapp. Dia berpikir sendiri, dan akhirnya merujuk ke Naura.
"Aku minta tolong Om Prasetyo saja, dalam hal ini aku tidak bisa mengajak Ditya membicarakan masalah ini. Setelah semuanya matang, baru aku akan mengajaknya untuk bicara. Aku harus ke Jakarta sekarang juga." akhirnya Pradipta bermaksud untuk mengajak papanya Ditya untuk membicarakan masalah share location tersebut.
Pradipta langsung bersiap malam itu juga, dia berniat akan membawa mobil sendiri dari kota Semarang. Dan langsung menuju ke rumah Prasetyo Pangestu. Untuk menemaninya dia mengajak salah satu pengawal Ditya, untuk bergantian mengemudikan mobil.
"Kandar.., kamu bawa mobilnya dulu ya!! Aku masih harus menghubungi Ditya untuk mengurus masalah operasional perusahaan besok. Karena untuk dua hari, tidak mungkin aku bisa datang ke perusahaan." Pradipta melempar kunci mobil pada Kandar, dan dia langsung masuk ke kursi mobil yang ada di belakang sopir.
"Siap Tuan."
Setelah masuk dan duduk, laki-laki itu mengambil ponselnya kemudian menekan nomor Ditya.
"Ya.., ada apa Dipt.. tumben malam-malam ingat aku?" Ditya ternyata juga masih terjaga karena panggilan masuk dari Pradipta langsung diterimanya.
"Kenapa juga kamu jam segini belum tidur.., sudah hentikan kebiasaan burukmu! Hentikan minuman alkohol, rokok.., itu semua malah merusak badanmu." Pradipta langsung menegur sahabatnya itu.
"Hmmm.., aku yakin. Kamu menghubungi aku bukan untuk mengomel padaku kan, ada apa?" malas mendengarkan omelan Pradipta, Ditya langsung mengajukan pertanyaan langsung.
"Aku berangkat ke Jakarta malam ini Dity.., ini sudah mau masuk tol. Aku ditemani sama Kandar.., so.. perusahaan selama minimal dua hari, kamu dulu yang urus. Jangan mabuk.. itu saja pesanku!"
__ADS_1
"*What the f*ck?? Bisa-bisanya kamu sudah di perjalanan baru memberi tahu aku. Kenapa tidak mengajakku?" mendengar Pradipta ke Jakarta, Ditya berteriak dengan nada tinggi.
"Sorry bro.., ini masalah keluargaku. Aku tidak bisa mengajak kamu, makanya daripada aku cemas di jalan. Malam ini aku minta Kandar untuk sopiri aku sampai Jakarta. Ingat pesanku, jangan lupa. Besok pagi kamu urus dan handle semua draft perjanjian kerja sama yang sudah aku siapkan di atas meja kantor!"
"Baik Dipt, harusnya tidak perlu kan kamu main rahasia-rahasiaan seperti ini padaku! Hati-hati di jalan, jangan lupa kasih kabar ke aku jika ada sesuatu yang penting dan harus seegra diselesaikan!" sahut Ditya bisa berpikiran dewasa.
"Pasti Bro.., jangan lupa pesanku tadi ya. Makasih." Pradipta langsung mematikan panggilan telpon. Dengan bibir tersenyum, dia kembali meletakkan ponselnya di samping tempatnya duduk.., kemudian dia mulai memejamkan matanya.
***************
Pas memasuki waktu Shubuh, mobil yang dikendarai Kandar langsung menuju rumah Prasetyo Pangestu. Melihat nomor plat mobilnya, security mengijinkannya untuk masuk ke dalam komplek bangunan. Kandar menengok ke kursi belakang sesaat dia mematikan mobil, dan melihat Pradipta masih tidur pulas.
"Hmm..., sudah sampai ya??" Pradipta membuka matanya, kemudian meluruskan badannya sebentar.
"Sudah Tuan, tapi ini masih Shubuh. Apa tidak mengganggu jika Tuan masuk sekarang?" tanya Kandar, karena dia tidak tahu sedekat apa hubungan Wakil CEO itu dengan keluarga Prasetyo Pangestu.
"Aku mau masuk dulu, silakan kamu mau ikut aku ke dalam atau mau tidur di ruang security!" Pradipta langsung membuka pintu mobil, kemudian keluar. Belum sampai dia mengetuk pintu, tampak pelayan rumah sudah membuka pintu dari dalam.
"Ada Tuan Pradipta ternyata, mari masuk Tuan!" pelayan rumah mempersilakan Pradipta masuk.
"Kamar sebelah mana yang siap untuk aku pakai istirahat Bi?" tanya Dipta langsung.
"Yang paling ujung Tuan, sudah bersih dan sprei juga sudah terpasang." mendengar jawaban Bibi, Pradipta langsung menuju kamar yang berada di paling ujung.
__ADS_1
***************
Pukul 07.30 pagi, tersentak Pradipta dari tidurnya. Dia langsung berlari ke kamar mandi, dan langsung mengguyurkan shower ke kepalanya. Setelah beberapa saat, dia sudah merapikan dirinya dan langsung keluar dari dalam kamar.
"Aaaww...., siapa kamu ada keluar dari kamar itu?" tiba-tiba terdengar teriakan Claudia karena melihat Pradipta baru saja keluar dari kamar yang ada di paling ujung.
Pradipta langsung berlari dan memeluk gadis itu dari belakang, sambil menutup mulutnya dengan menggunakan tangan.
"Eh.., jangan asal teriak. Lihat dulu.., ini aku Kak Dipta!" sambil tetap memeluk Claudia yang meronta mau melepaskan diri, Pradipta memberi tahu siapa dia.
"Oh my God..., kenapa bisa kak Dipta keluar dari kamar itu. Kayak Jailangkung saja, datang ga dijemput, pulang ga diantar." ucap Claudia sambil memukul bahu laki-laki itu, setelah Pradipta melonggarkan pelukannya.
"He..he..he.., sorry. Kakak datang tadi pas Shubuh, karena ga enak bangunkan Tuan rumah, ya sudah sama Bibi ditunjukkan kamar paling pojok. Akhirnya, tidur deh. Belum mandi ya?" kata Pradipta sambil mengacak-acak gadis yang sudah lama dia taksir itu.
"Enak aja..., ga lihat apa kalau rambut Claudia basah dan bau harum samphoo?" protes Claudia sambil memonyongkan bibirnya.
"Mana.., mana.. yang bau Shampoo, kakak belum sempat menciumnya tadi?" Pradipta mendekatkan wajahnya ke kepala Claudia, tapi gadis itu menolaknya dan akhirnya tatapan mata keduanya bertemu untuk sesaat.. Tiba-tiba gadis itu jadi memerah mukanya menahan malu, dan berlari meninggalkan Pradipta yang masih bengong.
"Sialan.. kenapa juga aku jadi mati kutu jika berada di dekat Claudia. Semoga saja, ini awal aku berani untuk mendekatinya." gumam Pradipta sambil tersenyum kecut.
Dia kemudian melangkahkan kakinya ke ruang keluarga, tapi tidak menjumpai Prasetyo pangestu disana. Hanya ada satu pelayan rumah yang sedang merapikan sofa.
"Bi.., Om Prast dimana?" tanya Pradipta pada pelayan rumah itu.
"Sama Nyonya Marina di ruang makan Tuan.., sedang sarapan pagi." sahut pelayan rumah.
__ADS_1
**********************