PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Keponakan


__ADS_3

Hari demi hari, bahkan bulan demi bulan dilalui Naura tanpa ada perkembangan hubungan antara dia dan suaminya. Firmansyah masih tetap mengacuhkannya, dan tidak pernah secara khusus mengajaknya ngobrol atau pergi bersama. Hanya yang dirasakan olehnya sekarang, bagaimana dia menjalani hari-harinya. Dia diuntungkan dengan adanya dukungan dari teman-temannya. Kakaknya Jessica sering mendatangi ke kampus, dengan harapan mengajak Naura untuk meninggalkan suaminya. Tetapi Naura menolaknya, karena dia memikirkan keadaan papa dan mamanya.


Saat ini Naura sedang mengerjakan tugas kuliah di pinggir kolam renang. Karena hari ini dosennya sedang tugas dinas luar, maka hanya mengirimkan tugas agar diunggah mahasiswa ke Google Classroom.


"Tuan Edward..., dengan siapa datang kesini Tuan?" terdengar suara bibi Ijah berbicara dengan seorang laki-laki.


"Sendiri, naik taksi ini tadi." jawab laki-laki yang dipanggil Bibi dengan panggilan Edward.


"Bi .., sementara aku akan menginap disini ya. Siapkan kamar untukku." lanjutnya lagi


"Iya Tuan, tunggu sebentar ya. Bibi akan siapkan."


Naura mendengarnya, tetapi dia kembali fokus pada tugas yang sedang dia kerjakan. Dia punya prinsip, bahwa dengan sedikit tahu, maka dia akan aman untuk saat ini.


"Hai, ada cewek cantik ternyata disini. Kamu siapa kok ada di tempat Omku?" tiba-tiba Edward mengagetkan Naura yang sedang mengetik.


Naura menengok ke arah suara berasal, dan di depannya terlihat seorang anak laki-laki dengan rambut di cat warna blonde. Edward mendekati Naura, kemudian mengulurkan tangan mengajak gadis itu jabat tangan.


"Kenalkan namaku Edward. Keponakan om Firmansyah yang tinggal di Australia. Kamu siapa?"


"Naura. Silakan tanya sama omnya, siapa dan status yang saya miliki disini." jawab Naura sambil tersenyum.


"Wow nice .., I like you. Seorang gadis yang berani. Boleh, aku duduk disini?"


Naura tidak menjawab pertanyaan Edward, dia hanya mengangkat kedua bahunya, dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Edward penasaran, dia mengintip apa yang dikerjakan oleh Naura.


"Tolong geser sedikit Tuan Edward, aku lagi mengerjakan tugas ini lho. Harus dikirimkan ke GC saat ini juga."


"Boleh aku bantu, aku juga kuliah Business Administration lho. Swear." Edward mengangkat dua jarinya ke atas, tapi Naura mengacuhkannya.


"Tuan Edward.., kamarnya sudah siap Tuan. Silakan kalau mau istirahat, trolly bag Tuan sudah dimasukkan Ujang ke dalam kamar." terdengar suara Bi Ijah memanggil Edward.


"Owalah Tuan disini ternyata. Kenalkan Non, ini Edward keponakan Tuan Firmansyah. Jadi Edward ini keponakan Non Naura juga."


"Iya Bi, sudah tahu. Bibi, Naura bisa minta tolong untuk menyingkirkan Edward sebentar. Naura butuh konsentrasi soalnya Bi."

__ADS_1


"Oh my God..., Naura.., nama yang cantik, secantik orangnya. Tapi aku keponakanmu, jadi... she is my aunty benarkah?" Edward tidak mempercayai apa yang barusan dia dengar.


Tetapi Bi Ijah langsung menarik tangan Edward, dan membawanya menjauh dari Naura.


"Bibi..., benarkah Naura my aunty? Dia istri Om Firmansyah?"


Bi Ijah tidak menjawab, tetapi tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Oh My God..., crazy." seru Edward.


Sambil berpikir, Edward langsung masuk ke dalam kamarnya. Bi Ijah mengikuti di belakangnya, untuk memastikan jika Edward tidak mengganggu Naura lagi. Sesampainya di kamar, Edward menghubungi Firmansyah dan memberi tahu jika dia sudah berada di rumah Semarang. Dia berjanji akan menanyakan langsung pada Omnya tentang status Naura sebenarnya.


**************************


Pukul dua siang, mobil Firmansyah sudah memasuki halaman depan rumah. Begitu mendapat panggilan telepon dari keponakannya, dia langsung melakukan re schedule acara yang sudah dia janjikan untuk diadakan.


"Om Firman, Edward sudah ada disini Om." Firmansyah menengok ke sumber suara, dan dia melihat ada seorang laki-laki berkulit putih dengan rambut blonde sedang berjalan ke arahnya.


"Edward...," Firmansyah meregangkan kedua tangannya, kemudian memeluk keponakannya itu.


"Sudah dari Minggu lalu Om. Tapi Edward berada di rumah mama yang ada di Jakarta. Tapi kok sepi, akhirnya hari ini terbang deh ke kota ini."


"Bagaimana kabar mama dan papamu.Semua dalam keadaan sehat kan?"


"Iya Om, masuk rumah dulu yuk."


Melihat suaminya sudah pulang, Naura ke dapur untuk membuatkan teh panas. Kemudian dia menghidangkan teh panas dan kudapan yang dibuat Bi Ijah di atas meja di ruang keluarga. Karena suaminya dan Edward sedang asyik mengobrol disitu. Setelah meletakkannya, Naura segera kembali ke dapur.


Melihat Naura sudah tidak kelihatan, Edward yang penasaran segera menanyakannya pada Firmansyah.


"Om, siapa Naura? Kok bisa dia berada di rumah ini?"


Firmansyah diam dan melihat pada Edward.


"Kamu sudah kenalan padanya? Dia tantemu untuk saat ini Edward."

__ADS_1


"Really...?"


Akhirnya Firmansyah menceritakan pada Keponakannya, siapa dan alasan dia menikah dengan Naura. Edward berkali-kali memandang wajah Omnya, dia seperti tidak mempercayai apa yang dia dengar. Dalam bayangan Edward, omnya seorang pedofil. Setelah minum teh panas, Firmansyah masuk ke dalam kamar.


Edward ke arah dapur untuk mencari Naura. Tetapi dia tidak menemukan keberadaannya, akhirnya dia keluar rumah dan menemukan Naura sedang berbincang dengan Ujang. Edward mendatangi mereka berdua


"Eh ada Tuan Edward. Tidak capai apa Tuan, kok tidak istirahat?" ucap Ujang.


"Tidak Jang, aku dari Jakarta kok, bukan dari Australia. Jadi sudah istirahat satu Minggu disana."


"Apakah aku boleh join duduk disini."


"Kalau aku tidak masalah, tapi bagaimana Non Naura, apakah Tuan Edward dibolehkan duduk disini?"


"Terserah dia Jang. Kalau mau ya silakan duduk, tetapi kalau tidak mau ya silakan pergi dari sini."


Mendengar perkataan Naura, Edward langsung duduk di samping mereka berdua. Dari jendela kamar, Firmansyah melihat Edward yang tampak mendekati istrinya. Tetapi dia tidak merespon apa-apa, malahan merebahkan tubuhnya di atas king size bed.


"Aku tadi sudah nanya sama Om Firmansyah. Ternyata benar ya, kalau kamu ini my aunty. Kamu masih muda Naura, kenapa mau menikah dengan Omku yang sudah tua. Om Firman itu kakak dari mamaku yang pertama."


Naura terdiam mendengar kalimat Edward, dia mengabaikannya. Karena bukan hanya dia yang kepo dengan apa yang sedang dia alami.


"Naura, kok kamu diam saja sih?" protes Edward.


"Keponakan aku, terus your aunty ini harus bilang apa? Sudah, selagi kita masih bisa nikmati anugerah dari Yang Maha Kuasa, nikmatilah. Tapi jika yang kita rasakan itu musibah, maka bersabarlah. Pada saatnya, tangan Tuhan akan menolong."


Ujang tersenyum mendengar wejangan dari Naura untuk Edward. Dia awalnya juga protes sama Bu Ijah, kenapa Non Naura mau nikah dengan Tuan Firmanzah. Tetapi dia malah dikasih wejangan sama Bibinya habis-habisan .


"Naura .., you.. unique girl."


"Sudah ya Ujang, sudah sore. Aku harus mandi dulu. Bye Edward..,"


Naura kemudian meninggalkan mereka berdua. Sedangkan Edward dia hanya memandang punggung Naura yang berjalan meninggalkannya.


**************************

__ADS_1


__ADS_2