PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Pembebasan Bersyarat


__ADS_3

Sesampainya di dalam kamar, Naura kembali menangis sambil memeluk Ezaz yang masih tertidur. Masih jelas dalam ingatannya, orang yang dia yakini sebagai Ditya suaminya dimasukkan mobil oleh polisi. Lidahnya kelu, dan air mata perlahan mengalir membasahi kelopak matanya. Dia tadi ingin mengejar laki-laki itu, tetapi dia teringat dengan putranya yang masih berada di dalam mansion.


"Aku harus mencari alasan untuk tidak menimbulkan kecurigaan Edward. Semoga kak Ditya tadi bisa mengenali aku." Naura menghapus air matanya, terbersit rasa kebahagiaan sudah melihat suaminya, meskipun baru saling bertatapan.


"Ada apa Naura.., dari mana kamu? Tidak biasanya kamu keluar sampai di luar gerbang." Naura terkejut melihat Edward sudah berada di dalam kamarnya. Mendadak jantungnya berdegup kencang, dia mengambil nafas untuk menenangkan hatinya. Dia kemudian menghapus air matanya, dan segera duduk sambil melihat ke arah Edward.


"Jadi selama hidupku, kamu akan mengurungku disini? Bahkan hanya untuk melihat jalan saja, juga tidak kamu ijinkan? Jika begitu, kenapa sekalian kamu tidak membunuhku?" Naura tidak menjawab pertanyaan Edward, dia malah memberondong laki-laki itu dengan pertanyaan.


"Bukan seperti itu Naura, kamu jangan salah paham padaku. Aku hanya bertanya tidak biasanya, tetapi kalau kamu memang berniat untuk lebih mengenali wilayah disini, silakan saja. Tetapi kamu harus ingat, untuk tidak pergi terlalu jauh, karena apakah kamu memiliki ID Card di negara ini?" pertanyaan Edward kembali menyadarkan Naura, jika dia sebagai seorang warga negara ilegal di negara ini.


"Sampai kapan kamu akan menggantung statusku seperti ini Edward? Apakah aku pernah membuat kesalahan fatal sampai melukai perasaanmu, sehingga kamu menjadikan aku sebagai tawanan?" Naura bertanya dengan suara sedikit keras.


"Mommy...," tiba-tiba terdengar Ezaz terbangun dari tidurnya, dan saat Naura mau menidurkannya kembali, ternyata dia sudah duduk.


"Ezaz sudah bangun..? Ayok main sepak bola dulu sama Uncle, baru nanti kita mandi dan sarapan!" Edward tidak menjawab pertanyaan Naura, dia langsung mengajak Ezaz untuk bermain.


"Boleh ya Momm..., Zaz main sepak bola dulu!" tanya Ezaz pada Naura.


Tidak mau mengecewakan putranya, Naura tersenyum dan memegangi Ezaz yang akan beranjak turun dari atas tempat tidur.


"Ezaz cuci muka dulu, sikat gigi baru boleh bermain!" akhirnya Naura mengijinkan putranya bermain dengan Edward.


"Okay Momm..," Ezaz langsung berlari menuju wastafel.


"Semoga tanpa perlu aku jawab, kamu bisa tahu sendiri untuk apa aku membawamu dan Ezaz kesini Naira. Jangan tinggalkan aku!" jawab Edward sambil tersenyum melihat Naura yang belum pernah bersikap ramah padanya.


Merasa dilihati Edward, Naura langsung berdiri dan keluar meninggalkan Edward berada di kamar dengan Ezaz.


"Good morning Miss? Is there anything I can help you with?" sapa Laura bertanya apakah ada yang bisa dia bantu, saat Naura mengambil sayuran di dalam kulkas. Dia berniat ingin masak sop untuk sarapannya dengan Ezaz.


"No need, Laura. You can do something else." Naura meminta Laura mengerjakan aktivitas yang lain.


"Okay thank you." Naura segera pergi dan melanjutkan pekerjaan mencuci baju.


Naura melanjutkan aktivitasnya menyiapkan sayuran dan merebus daging ayam. Dia dan Ezaz memang belum bisa menghilangkan kebiasaanya untuk sarapan nasi dan sayur setiap paginya. Setiap pagi, dia selalu menyiapkan menu untuknya dan Ezaz, dan terkadang Edward akan ikut mencicipi jika tahu Naura yang memasak semuanya.

__ADS_1


 


 


************


 


Mendengar perkataan Ditya, Pradipta segera mengurus administrasi pembebasan Ditya. Dia membayar uang jaminan, agar sahabatnya itu segera dibebaskan. Sambil menunggu waktu pembebasan bersyarat, Pradipta segera ijin keluar ruangan untuk menghubungi Prasetyo Pangestu.


"Bagaimana bisa Ditya ditangkap polisi wilayah?" Prasetyo terkejut mendengar laporan yang disampaikan Pradipta.


"Ha..ha..ha.., kapan anak itu berubah menjadi benar-benar dewasa. Bertindak selalu tidak didasarkan pada pemikiran yang matang, asal hatinya ingin sesuatu, langsung tanpa pikir panjang langsung berangkat." Prasetyo Pangestu malah mentertawakan perilaku putranya.


"Ya begitulah Om.., tapi untung polisi mau mendengarkan penjelasan Dipta. Terus untuk gadis yang tinggal di mansion yang menurut Ditya adalah Naura gimana Om? Apa yang harus saya lakukan?" Pradipta menanyakan tentang Naura.


Terdengar Prasetyo Pangestu menghela nafas, kemudian melanjutkan perkataannya.


"Kamu dan Dipta tunggu saja di mansion! Awasi Ditya dengan benar, aku tidak mau malah mengacaukan semuanya. Om akan menghubungi embassy, karena tidak mungkin Naura bisa masuk ke negara Australia tanpa identitas meskipun menggunakan jet pribadi."


"Nanti Om juga akan mengirimkan beberapa pengawal untuk mengawasi pergerakan yang ada di mansion yang kalian curigai. Siapa yang keluar masuk agar diawasi, sambil menunggu keterangan tentang status Naura disana dari Embassy. Untuk pihak kepolisian agar nanti kita libatkan, jika Naura betul-betul ada disana, nanti urusan Om." lanjut Prasetyo Pangestu lagi.


"Baik Om.., saya kembali masuk ke dalam dulu. Karena kemungkinan administrasi pembebasana bersyarat Ditya sudah selesai." Pradipta kemudian ijin untuk mengakhiri panggilan.


"Ya."


Setelah mengakhiri panggilan, Pradipta kemudian kembali masuk ke dalam ruangan kantor polisi. Benar apa yang dia perkirakan, tampak di depannya Ditya sudah menanda tangani surat-surat pembebasan bersyarat.


"Sudah semuanya Dity?" tanya Pradipta.


"Sudah, ayok kita segera keluar dari sini!?" mendengar pertanyaan Pradipta, Ditya langsung mengajaknya untuk segera keluar dari kantor polisi.


"Thank you for your help and cooperation, sir." Pradipta mengucapkan terima kasih pada polisi-polisi itu.


"Ok, no problem."

__ADS_1


Setelah itu Pradipta langsung mengajak Ditya untuk memasuki mobil yang disopiri Iwan.


"Kita langsung ke mansion Naura Dipt!! Istriku sekarang badannya habis, kurus." sesampainya di mobil, Ditya langsung minta kembali ke tempat dia melihat Naura sekilas.


"Kita langsung pulang Iwan, jangan dengarkan Tuan Ditya!" dengan tegas, Pradipta meminta Iwan untuk langsung mengantarkannya pulang ke rumah.


"Apa maksudmu Dipt?? Kamu sudah tidak peduli lagi dengan istriku, dan ingat tujuan kamu ke negara ini untuk apa?" Ditya bersuara keras pada Pradipta.


"Tenangkan dulu pikiranmu! Apakah kamu tidak berkaca pada kejadian yang baru saja terjadi padamu. Kalau kamu sabar menungguku, apakah kamu tidak akan berada di dalam sel?" seru Pradipta dengan suara yang keras pula.


"Aku baru saja menghubungi Om Prasetyo. Sekarang Om Prast baru mengurus status Naura di negara ini, dan akan mengirimkan pengawal untuk mengawasi pergerakan di mansion itu. Tunggu sampai nanti malam, besok pagi aku sendiri yang akan menemanimu ke mansion itu, jika sudah ada surat-surat status legal keberadaan Naura." dengan tegas, Pradipta melanjutkan perkataanya.


Mendengar perkataan Pradipta, Ditya terdiam. Dia mengalihkan pandangannya ke luar mobil.


"Jadinya kita langsung pulang ke amnsion kita ya Tuan Dipta?" tanya Iwan memastikan.


"Ya, langsung ambil jalan memutar menuju rumah!"


 


**************


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2