
Setelah melihat isi kado yang dikirim Edward, untuk menjaga perasaan Naura dia mengijinkan istrinya untuk menggunakan barang yang dikirim laki-laki itu. Dia tidak mau membuat istrinya berprasangka buruk terhadapnya, yang akan berdampak pada hubungan mereka. Setelah menemani istrinya membuka kado, Ditya pamit keluar rumah sebentar.
"Aku mau ke teras dulu sebentar, mau cari udara segar."
"Ya kak." jawab Naura singkat sambil melihat punggung suaminya yang berjalan meninggalkannya.
Ditya mengirim pesan ke Pradipta, untuk mendapatkan informasi tentang Edward. Dia tidak mau, anak itu mengganggu lagi kehidupan istrinya.
"Selidiki lagi tentang Edward!" bunyi pesan yang dikirimkan Ditya untuk Pradipta. Dia sengaja menggunakan media via whattsapp, karena khawatir istrinya tahu jika dia curiga dengan tindakan yang dilakukan oleh Edward.
"Edward?? Bukannya bocah itu saat ini sudah stay di Australia? Kenapa?" tidak menunggu waktu lama, Pradipta sudah membalas pesan yang dia kirim.
"Ya.., dia sempat di kota ini selama tiga hari. Dan parahnya dia mengirimkan kado untuk Naura berupa satu tas tangan dan tali pinggang, dan juga mengirimkan bingkisan untuk Ezaz. Makanya segera selidiki, aku curiga dia punya niat buruk untuk mengganggu istriku lagi."
"Okay.., okay... segera aku cari orang untuk mencari informasi tentang keberadaan anak itu. Kamu harus mencoba mempercayai Naura Dity.., aku yakin Naura tidak akan berpaling darimu. Kamu lihat, saat dia menikah dengan Firmansyah, waktu tiga tahun itu bukan sebuah waktu yang pendek. Tapi dia tetap setia kan, sampai kamu menghancurkan dia?" Pradipta berusaha mengingatkan tentang Naura.
"Iya aku tahu Dipt.., tapi tidak salah kan? Jika aku berhati-hati untuk melakukan tindakan preventif, untuk mencegah laki-laki itu mengganggu kami."
"Baik.., aku akan segera mencari orang untuk melakukan penyelidikan. Selamat malam." tidak mau berdebat dengan Ditya, Pradipta segera mengakhiri chatting.
Untuk sementara, Ditya masih termenung sendiri di teras sambil melihat ke arah taman bunga. Setelah merasa penat, akhirnya dia kembali masuk ke kamar. Sebelum kembali ke kamarnya, dia mampir ke kamar Ezaz untuk melihat putranya. Tetapi Ezaz tertidur pulas, dan Mira baby sitter pengasuh putranya tampak tertidur di sofa.
"Cepat besar putra Daddy.., bantuin Daddy untuk menjaga dan melindungi Mommy." sambil tersenyum Ditya menggumam sendiri, kemudian mengusap pipi putranya dengan kasih sayang. Setelah memberikan ciuman di kedua pipi Ezaz, dia kembali masuk ke kamarnya dan melihat Naura masih bermain ponsel. Dia duduk dengan menyandarkan punggungnya di headboard.
"Belum tidur sayang?? Sedang membaca apa??" Ditya segera menghampiri istrinya.
"Biasa kak..., baca novel. Siapa tahu dari cerita novel, banyak pengalaman hidup orang yang lain untuk pembelajaran bagi kehidupan kita." Naura segera mematikan ponselnya, kemudian meletakkan di atas nakas kecil samping ranjangnya.
"Kok aku datang dimatikan? Pakai aplikasi apa untuk baca novel?" Ditya segera duduk dan langsung ikut duduk bersandar di samping istrinya.
__ADS_1
"Pakai NovelToon kak, biasa cari yang free. Tetapi ceritanya bagus-bagus, bahasanya juga halus seperti kehidupan sehari-hari." Naura tersenyum, kemudian merebahkan badannya.
"Cerita tentang apa yang sering dibaca??? Cerita mesum, pertempuran atau..." Ditya meledek istrinya.
"Iiiihh.. kok kayak gitu tebakannya. Naura suka baca cerita dengan genre romantis, yah semacam percintaan-percintaan, kemudian menikah. Pokoknya yang happy ending lah." jawab Naura sambil tersipu malu.
Tiba-tiba Ditya menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Naura\, dan tanpa bisa ditolak bibir kenyalnya sudah berada diatas bibir istrinya. Luma*** panjang dilakukan Ditya\, dengan lidah membelit kesana kemari. Sebentar dia lepaskan untuk mengambil nafas\, tetapi kemudian dia lakukan lagi. Setelah beberapa saat\, dia menghentikannya karena merasa bibir istrinya mulai menebal.
"Kak..., bibir Naura mati rasa." protes Naura dengan suara serak.
Suara serak itu terdengar seksi di telinga Ditya, dan hasrat kelelakiannya mulai naik dan minta untuk segera dikeluarkan. Ditya mulai mengarahkan bibirnya ke telinga dan leher Naura. Tangannya dengan trampil seakan sudah sangat hafal dengan lekukan tubuh, dan mulai melepaskan kancing baju istrinya.
"Aaakh.. kak Ditya..." terlontar suara desa**han dari mulut Naura, yang langsung kembali ditutup oleh bibir suaminya.
"Kamu hanya milikku sayang.., malam ini dan selamanya." bisik Ditya di telinga Naura, dan membuat Naura tidak bisa menolak pesona suaminya malam ini.
Ujang tampak bernyanyi-nyanyi saat memasuki rumah kediaman Firmansyah. Bahkan dia tidak memperhatikan sekitarnya, dan tidak melihat Bibi Ijah yang berdiri di dalam ruang makan. Bibi Ijah sampai bergeleng-geleng kepala melihat keceriaan wajah ponakannya itu.
"Kamu kenapa Jang, seperti bahagia sekali? Apa barusan kamu beli Togel, terus angkamu tembus?" Bibi Ijah mengagetkan Ujang dengan pertanyaannya.
"Kok Togel...., memang Ujang pernah apa Bi beli togel??? Tempat belinya saja Ujang tidak tahu dimana tempatnya." protes Ujang.
__ADS_1
"Lagian Jang.., jadi orang itu masuk rumah ucapkan salam biar kita dijauhi sama setan. Ini tidak, malah nyanyi-nyanyi seperti anak kecil kegirangan." Bibi Ijah mulai menasehati ponakannya itu.
"Oh itu ya Bi.., maaf Ujang khilaf. Habisnya Ujang bahagia banget Bi, barusan bisa ketemu lagi dan berbicara dengan Non Naura."
"Non Naura??? Kamu ketemu dimana?? Tadi kamu sampaikan salam dari Bibi tidak?" Mendengar kata Naura, Bibi Ijah langsung ikut responsif.
"Tadi Ujang ke rumah Non Naura Bi, mengantarkan titipan Tuan Edward. Ya Tuhan Bi..., ternyata Non Naura sekarang sudah bahagia. Sudah punya anak satu laki-laki, dan rumahnya Bi..., sangat besar sekali. Mungkin ada kali dua kalinya rumah ini." dengan bersemangat Ujang menceritakan tentang keadaan Naura saat ini.
"Alhamdulillah Jang..., Non Naura anak yang baik Jang. Ya wajarlah dia juga dikasihi sama Tuhan, akhirnya Non Naura bahagia ya Jang dengan keluarga barunya. Bibi ikut bersyukur Jang."
Ujang mengambil air putih dari dispenser, kemudian meminumnya sebentar dan duduk di kursi ruang makan.
"Suaminya gimana Jang? Kamu sempat bertemu dengannya tidak Jang??" Bibi Ijah semakin penasaran.
"Kalau ketemu sih tidak Bi, karena kata Naura saat Ujang masih di jalan, suaminya barusan pergi untuk menemui rekan bisnisnya. Ujang hanya melihatnya dari foto-foto yang banyak dipajang di tembok. Ganteng Bi.., dan masih muda. Kemudian putranya yang bernama Ezaz, wajahnya juga persih plek dengan wajah suaminya."
"Betul-betul beruntung Non Naura. Akhirnya dia bisa mendapatkan semua yang dulu tidak pernah didapatkan dari tuan Firman."
"Wah Bi.., jangan dibandingkan dengan Tuan Firman juga kali! Suaminya yang sekarang sangat beda banget dengan Tuan Firman, dan juga Bi..., baby sitter yang mengasuh putra Non Naura lumayan cantik." cengar-cengir Ujang menceritakan tentang Mira pada Bibi Ijah.
"Owalah Ujang... Ujang..., makanya kamu semangat begitu. Ternyata habis ketemu cewek cantik to."
"He..he..he.."
************
__ADS_1