
Aditya memutar rekaman CCTV yang dia peroleh dari pihak hotel, tetapi pihak hotel hanya memberikan akses di dalam kamar dan pintu untuk keluar masuk, tidak menunjukkan gambar waktu di atas ranjang. Pikirannya selalu berputar kejadian di malam itu, dan wajah gadis itu selalu membayangi setiap waktunya.
"Siapa kamu sebenarnya? Aku akan menemukanmu dimanapun kamu berada."
Aditya meraih ponselnya diatas meja kecil di samping tempat tidur, kemudian mengirimkan pesan via chat pada Pradipta.
"Bagaimana apakah kamu sudah melakukan investigasi lanjutan terhadap orang-orang itu?"
"Nanti malam baru akan kita seret orang-orang itu. Kemarin sudah didatangi sama Totok, diajak ngopi dan bicara. Tetapi tidak satupun yang mau bercerita, sepertinya sama penyuruhnya mereka dibayar mahal."
"Kasih juga mereka uang lebih banyak dari yang mereka berikan. Apakah kalian berpikir aku kekurangan uang!"
"Sabar dulu Boss, janganlah marah-marah. Nanti malam kita akan ketemu lagi dengan mereka, aku akan ikut investigasi nanti malam. Kita pendatang baru Boss di kota ini, harus main cantik. Tetap dapat anak buah juga di kota ini."
"Terserah, kamu atur saja. Tetapi aku ingin segera mendapatkan hasil pencarianmu. Aku sudah melihat isi rekaman CCTV, tetapi kamu tidak boleh ikut melihat, cukup menjadi dokumen pribadiku."
"Ha..ha...ha.., aku jadi pingin lihat nih. Bossku yang ganteng bagaimana gayanya, jangan-jangan malah sudah dibuat KO duluan sama gadis itu. Ha..ha..,"
"Aku cekik kamu, jaga mulutmu. Cepat lanjutkan investigasi, jika sampai besok pagi, kamu belum memberiku jawaban yang dapat memuaskan aku, aku potong gajimu bulan ini 50%. Ingat itu."
"Ya Tuhan Boss, ini kan masalah pribadi, bukan masalah pekerjaan kantor. Aku digaji dari kantor Boss."
"Jaga mulutmu, aku menggajimu untuk 24 jam kamu abdikan dirimu untukku. Ingat itu Dipt. Aku berangkat ke kantor siang hari, tapi kalau malas jadinya tidak berangkat."
"Terserah kamu mau ke kantor jam berapa, yang penting surat-surat yang dibuat oleh sekretarisku segera ditanda tangani. Bagaimana karyawanmu yang baru, sekretarisku rekomendasi dari Sekolah Tinggi sangat excellent, belum aku arahkan dia sudah bisa membaca maksud isi surat-surat penawaran. Semua langsung dibuatkan konsep jawaban, aku tidak keluar energi untuk review."
"Nanti lihat situasi dan kondisi, aku tidak bisa pikir kerjaan. Yang aku pikirkan dan butuhkan gadis di kamar yang bersama ku malam itu."
"Sudah, aku mau lanjut istirahat dulu. Terserah yang penting apa yang aku butuhkan di kantor semua tersedia. Bye.."
Aditya langsung membaringkan badannya diatas ranjang, tetapi tetap mata dan pikirannya tidak bisa terkoneksi. Wajah Naura selalu menghantuinya, wajah polos dan lembut. Kemudian Aditya bangun dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
**************************************
"Sampai mana kamu? Cepat datang, aku tunggu sekarang, jika sampai 30 menit kamu tidak juga segera sampai ke lokasi ini, Aku pecat kalian semua!" Pradipta menunggu di ruang rahasia yang ada di PT. Elang Jaya. Tempat itu dari dulu biasa digunakan oleh keluarga Prasetyo Pangestu untuk menginterogasi orang-orang yang membuat kesalahan yang merugikan perusahaannya.
"Iya, Tuan..., kita sudah on the way. Kita juga bawa dua orang yang melakukan booking kamar di hotel, pada malam kejadian kemarin."
Tidak berapa lama empat orang tampak memasuki ruang rahasia. Dua orang dengan penampilan semrawut dengan luka di wajah tampak dipegang orang-orang Pradipta. Sesampainya mereka di hadapan Pradipta, dua orang di dorong untuk duduk di depan Pradipta.
"Ampun Tuan, saya hanya sekedar menjalankan perintah."
Pradipta tersenyum sinis, kemudian memegang kerah baju salah satu laki-laki itu.
"Duduklan di kursi, jangan duduk di lantai. Kotor."
"Tidak Tuan, kami duduk disini tidak masalah. Ampuni kami Tuan, kami janji akan memenuhi apa yang Tuan inginkan dari kami."
Pradipta melepaskan cengkeramnya pada krah laki-laki itu, kemudian berjalan mundur dan duduk di kursi. Dengan tangannya, dia memberi isyarat pada dua anak buahnya untuk keluar berjaga-jaga di luar.
"Iya Tuan, kami hanya melaksanakan perintah dari Ibu Santi. Tetapi untuk siapa kamar itu, kami tidak tahu. benar Tuan."
"Kalian mau bermain-main denganku ya?" Pradipta berdiri, kemudian menarik pisau yang ada di atas meja, kemudian mengelus-elusnya dengan kedua tangannya bergantian.
"Benar Tuan, Ibu Santi itu kekasih dari Tuan Firmansyah pemilik perusahaan di kawasan pelabuhan. Tetapi dia tidak dinikahi oleh kekasihnya itu, malah Tuan Firmansyah menikahi seorang gadis putri dari teman kuliahnya dulu. Hanya itu Tuan, yang kami tahu. Tolong bebaskan kami Tuan!"
"Terus maksudmu, gadis yang berada di kamar itu adalah istri dari laki-laki itu."
"Iya benar Tuan. Karena Ibu Santi dan kekasihnya itu ingin melepaskan gadis itu, tanpa sedikitpun asset, maka malam itu kami sebenarnya juga sudah membawa gigolo ke kamar itu. Tetapi gigolo itu kembali pulang, karena berkali-kali mengetuk pintu kamar, tetapi tidak ada yang membuka."
Akhirnya karena ketakutan akan kehilangan anggota badannya, kedua orang anak buah Santi itu menceritakan semua rencana Santi pada Pradipta. Setelah mendapatkan informasi, Pradipta langsung meninggalkan kedua orang itu.
__ADS_1
****************************************
Naura sedang menyelesaikan draft Perjanjian Kerja Sama dengan laptop di belakang meja kerjanya. Berkali-kali ponselnya berbunyi, tetapi dia lupa melakukan setting mode silent. Pradipta sudah sejak tadi berdiri di depannya, dengan tersenyum dia memperhatikan seekretarisnya itu, tetapi Naura tidak melihatnya. Tiba-tiba Pradipta berdehem, dan sontak Naura terkejut dan dengan polos menengadahkan wajahnya menatap Pradipta.
"Gila, ternyata cantik sekali Naura, sudah punya pacar belum ini anak?" tanpa sadar Pradipta membatin sendiri tentang Naura.
"Maaf pak Dipta, Naura tidka menyadari kedatangan bapak, maafkan Naura Bapak!" dengan gugup Naura meminta maaf atas kesalahannya.
Tergagap Pradipta tersadar dari lamunannya.
"Tidak apa-apa, gimana untuk draft PKS sudah selesai kamu buat Naura? Saya mau ke ruangan pak Ditya dulu, nanti jika ada yang mecari saya, kamu handle dulu ya. Bisa?" Pradipta kaget ternyata dia bisa bicara lemah lembut pada gadis itu.
"Untuk draft sudah selesai Bapak, cuma tinggal print saja. Apa saya printkan sekarang, kemudian Bapak pelajari? kemudian untuk perintah yang kedua, siap pak, Naura akan handle saat bapak tidak berada di tempat."
"Oke, kamu print dulu saja. Saya tunggu di sini. Nanti saya bawa saja, sekalian mau tak diskusikan dengan Pak Ditya di ruangannya."
"Iya pak Dipta, mohon tunggu sebentar."
Naura langsung melaksanakan instruksi dari atasannya, dan tidak lama kemudian menyerahkan hasil print out nya. Setelah menerima, Pradipta langsung pamitan dan meninggalkan Naura sendiri di ruangannya. Merasa pekerjaannya sudah selesai, Naura mengecek ponselnya, dan akhirnya dia tersenyum malu.
"Ternyata dari tadi Pak Dipta melakukan panggilan, tapi aku tidak mendengarnya." gumam Naura.
Dia juga membaca chat dari Bambang yang mengajaknya makan siang bareng di kantin, dan akhirnya Naura menyetujuinya.
__ADS_1
********************************