
Melihat Naura yang sedang menggendong Ezaz, keluar dari mobil Novi berlari menghampiri mereka. Tetapi begitu melihat Ditya yang membukakan pintu, Novi berhenti dan menunggu Naura yang mendatanginya.
"Oma..., Ezaz datang Oma.." sapa Naura sambil mencium tangan mamanya. Novi memeluk erat putrinya kemudian mengambil Ezaz dari gendongan Naura.
"Selamat sore ma.." sapa Ditya sambil menyalami mama mertuanya.
"Sudah ayo masuk, nanti biar Bibi yang membawa barang-barang kalian."
Kemudian mereka masuk ke dalam rumah, dan Naura langsung menuju kamarnya. Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah lagi masuk ke dalam kamarnya, terlihat kamarnya tampak bersih dan terawat. Sprei warna pink tampak membalut bed, dan Naura langsung membaringkan tubuhnya di atasnya. Dia merentangkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan, kemudian memejamkan matanya untuk beberapa saat, sejenak melupakan putra dan suaminya.
"Maafkan Naura ya nak Ditya, sudah 4 Tahun dia tidak pernah lagi tidur di kamarnya! Biarkan sejenak dia bernostalgia disana." Novi bicara sama Ditya, yang tampak heran melihat kebahagiaan istrinya bertemu dengan kamarnya kembali.
"Tidak apa-apa ma, salah Ditya juga, tidak pernah mengajaknya kesini. Bisa nitip Ezaz sebentar ma?"
"Ya nak, ini opanya Ezaz juga baru mandi. Temani Naura dulu, biar Ezaz sama mama dulu." Novi membawa Ezaz masuk ke dalam kamarnya, dan menidurkan di kamar.
Ditya menutup pintu dengan pelan kemudian menguncinya dari dalam, dan dia mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar Naura. Kamar yang jika diukur tidak ada setengah dari kamar mereka di rumah Ditya, dan bed ukuran 160 X 2 meter.
"Pas untuk pasangan yang baru menikah." gumam Ditya.
Dia menghampiri Naura, kemudian mengangkat tubuhnya ke atas tubuh istrinya. Perlahan Ditya memberikan kecupan manis di kening Naura.
"Kak Ditya..., kakak ikut kesini?' tanya Naura yang terkejut melihat suaminya yang tiba-tiba sudah berada di atas tubuhnya.
"Memangnya kenapa, tidak boleh kalau aku ikut kesini?" tanya Ditya perlahan.
"Tapi kamar Naura sempit kak, beda dengan kamar kakak di rumah."
"Kamarku, memang bukan kamarmu juga sayang? Semua milikku adalah milikmu sayang, jangan pernah bilang lagi punya kakak, tetapi punya kita."
"Iya kak, maaf! Dimana Ezaz kak?" Naura mendorong tubuh Ditya, dan akan duduk bersandar di sandaran bed.
Ditya tersenyum kemudian membaringkan tubuhnya di samping Naura.
__ADS_1
"Tenanglah..,Ezaz saat ini bersama Oma dan opanya. Sepertinya mama paham, jika kita ini pasangan suami istri, jadi mereka memberi kesempatan kita untuk berdua sayang." Ditya menggoda Naura.
Naura tersipu malu, dan menutup mukanya dengan menggunakan kedua telapak tangannya.
"Kak Ditya tidak pulang?"
"Lha kamu mengusirku sayang? Untuk apa aku ikut kesini, aku akan menginap di tempat mertuaku. Apa tidak boleh?"
"Tapi disini tidak ada fasilitas selengkap di rumah kak. Memang kakak bisa tidur di tempat tidur ini, terus Ezaz juga?"
"Yang penting ada kamu Nauraku, dimanapun tidak masalah. Kan tadi aku sudah bilang, bahkan di gubug di tengah hutan pun asal ada kamu, aku akan rela menjalani."
Naura melihat ke mata suaminya, dan dia menangkap kejujuran di matanya. Tiba-tiba bibir Ditya sudah menangkap dengan lembut bibirnya, dan secuil daging kenyal di wajah suaminya sudah membelit dan menari-nari di mulut Naura. Sampai mereka kehabisan nafas, baru Ditya mengakhirinya sambil tersenyum menggoda Naura.
*****************
"Kakakmu Naura..., kenapa kakakmu tega melakukan hal itu?" Novi terisak di pelukan Naura.
"Mama.., saat ini mama harus ikhlas menerima semuanya. Sudah saatnya mama dan papa merestui kak Jess dan Kak Doni, agar kehidupan mereka penuh berkah."
Ditya terkejut dengan kedewasaan Naura, dia hanya diam mendengarkan mama mertua dan istrinya berbagi keluh kesah. Papa mertuanya juga diam tidak bicara.
"Mama punya putri dua, tetapi teman-teman mama tidak pernah menyaksikan pernikahan kalian. Kenapa semua menjadi seperti ini?"
"Mama.., dengarkan Naura ma! Untuk apa Kita harus memberitahu pada dunia, pada teman-teman jika kita sudah menikah? Kita yang menjalani ma, yang penting kita bahagia. Tidak ada yang salah dengan kehidupan kita. Sekarang menurut Naura, telpon kak Jess dan Kak Doni. Undang keluarga kak Doni ke rumah ini, kita sambung silaturahmi!"
"Ya begitulah Naura. Berkali-kali papa sudah berbicara sama mama. Tidak usah pedulikan orang lain, yang masih bisa kita perbaiki, kita baikin lagi semuanya." sahut papa Samsuar.
"Nanti Naura coba telpon kak Jess atau kak Doni. Besok atau sekarang juga, mereka Naura minta pulang. Tapi mama harus janji, jangan marahi kak Jess! Karena Naura yakin, Kak Jess akan semakin tidak mau pulang jika mama masih marah sama mereka."
Novi menganggukkan kepala, kemudian Naura mencium pipi mamanya.
"Kalian malam ini menginap di sini kan?" tanya Samsuar.
__ADS_1
"Iya pa, kan Ditya belum pernah menginap disini. Mumpung sudah sampai sini, kita akan menginap." jawab Ditya.
"Baiklah, atau Ezaz malam ini biar tidur sama opa. Karena bed di kamar lebih luas."
"Tidak perlu pa, Ezaz kan masih minum ASI. Nanti gimana dong, Naura memberinya ASI jika Ezaz ada di kamar papa?"
Ditya cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak merasa gatal.
"Sudah malam, ayo kita istirahat dulu. Semoga besok Jessica dan Doni pulang ke rumah."
"Ya pa, semoga. Naura ke kamar dulu ya pa, kasihan dari tadi Ezaz sama Bibi."
"Nak Ditya mau tidur juga, atau masih ingin diluar? Jika masih belum mau tidur, papa temani."
"Mau tidur juga pa, lumayan capai belum istirahat dari pulang kerja. Ditya sama Naura ke kamar dulu ya pa?" Ditya langsung merangkul istrinya dan membawanya ke kamar.
Sesampainya di kamar, melihat bed yang sudah berisi Ezaz, Ditya terlihat bingung mau tidur dimana. Melihat kebingungan suaminya, Naura tersenyum..
"Sudah kak Ditya sama Ezaz tidur di atas bed saja, Naura pakai kasur lipat tidur di bawah."
"Ya tidak mungkinlah, masak aku di atas malah kamu yang tidur di bawah."
"Lha terus bagaimana, atau kakak sementara tidur di kamar tamu atau kamar kak Jess. Biar Naura dan Ezaz yang tidur disini."
"Tidak.., kita semua tidur disini. Kan malah semakin rapat tidurnya, ayo!"
"Ya Ezaz di tengah dong, masak Ezaz malah tidur di pinggir?"
"Nanti kalau dia ketekan kita bagaimana? Sudah malahan Ezaz aman tidur dekat tembok."
Ditya langsung merebahkan tubuhnya ke atas bed, kemudian menarik Naura dan memeluknya dari belakang.
"Kak Ditya.., jangan aneh-aneh ya! Ada Ezaz disini."
__ADS_1
***************