
Sebuah perisai transparan terbentuk dengan kokoh menutupi seluruh mansion, Hal ini merupakan kekuatan penuh dari kedua penjaga itu untuk melindungi tetua bu dari bahaya.
Saat teratai besar bertabrakan dengan perisai itu sebuah riak energi yang sangat besar memancar keluar sehingga membuat perubahan di langit alam kekosongan.
Langit di atas mansion tetua bu terlihat menjadi gelap, Qin San di kejauhan menatap dengan mata tertarik, ia tidak menyangka jika tekhnik milik tetua ding begitu hebat hingga memicu perubahan langit.
Teratai berwarna putih itu terlihat terus mengikis pertahanan dari kedua penjaga tetua Bu, walaupun prisai transparan itu sangat kuat tetapi dengan kekuatan dari teratai itu sama sekali tidak sebanding, dan mengakibatkan perisai teransparan itu retak dan pada akhirnya mengalami kehancuran.
"Krak...
Boommmmm.....
Perisai itu hancur dan teratai itu langsung menerobos masuk kedalam mansion tetua Bu, pada saar teratai itu ingin menghancurkan mansion tetua bu tiba tiba saja teratai itu hancur menjadu kepingan energi yang tersebar.
Tetua Ding sedikit terkejut saat melihat teratainya tiba tiba hancur begitu saja, Setelah teratai itu hancur terlihat seorang pria paruh baya yang sedang melayang diudara menatap ke arah tetua Ding dengan tatapanya yang dingin.
Pria itu tak lain adalah tetua Bu, ia begitu marah saat detim detik trobosanya di ganggu oleh karakter tidak penting seperti tetua ding ini.
"Bisakah kau jelaskan padaku kenapa kau melakukan ini semua, jika penjelasanmu tidak masuk akal maka aku akan membunuhmu disini." Kata tetua Bu dengan aura intimidasi.
"Tetu Bu maafkan saya karena menganggu anda, saya kemari karena disuruh oleh tetua Qin untuk membawa tetua agung ke hadapanya." Ucap Tetua Ding dengan tersirat wajah yang sedang ketakutan.
"Siapa tetua Qin? Aku tidak pernah mendengarnya.?" Tanya tetua Bu sedikit bingung.
"Tetua Qin adalah tetua baru yang baru kamu agkat dan sekaligus tetua termuda di sekte ini." Kata tetua Ding dengan hormat.
"Cih, hanya tetua baru sampai kau bertindak sejauh ini, apakah kau sekarang menjadi seorang anjing dari pemuda." Tetua Bu mencibir dengan wajah sinis.
"Maafkan saya tetua Bu, tetapi walaupun tetua Qin masih sangat muda kultivasinya mungkin berada di atas anda."Ucap tetua ding membuat tetua bu menjadi marah karena telah diremehkan.
"Hahaha, apakah kau meremehkanku, kekuatanku sekarang berada di ranah dewa galaxy puncak dan sebentar lagi jika kau tidak menyerangku aku sekarang sudah berada di ranah dewa semesta awal." Ucapnya dengan nada tinggi yang menandakan bahwa ia sedang marah.
__ADS_1
"Apa..!! Anda sudah berada di galaxy puncak dan sebentar lagi akan menembus dewa semesta." Ucap tetia Ding terkejut sekaligus merasa bersalah.
Tanpa disadari tetua Ding sebenarnya ia pada di waktu yang tepat, karena Jika tetua Bu sudah menerobos dapat dipastikan bahwa ia sudah membunuh tetua Ding dari tadi.
"Karena kau telah berani menggangguku maka aku akan menghukumu." Ucap tetua Bu mengeluarkan sebuh cemeti berwarna merah darah dengan aura yang sangat menakutkan.
"Karena saya bersalah, maka saya menerima hukuman dari tetua agung." Ucap tetua Ding dengan wajahnya tertunduk menghadap tanah.
Tetua Bu melihat kepatuhan tetua ding kepadanya ia mengangguk puas, semua orang yang melihat keributan itu tadi mereka datang dan melihat bahwa tetua Ding pasrah di tempatnya.
Tetua Bu bersiap untuk melakukan hukuman cambuk kepada tetua Ding dengan cemeti miliknya, tetapi saat tetua ingin mencambuk tetua Ding sebuah cahaya melesat kearahnya.
Dengan Refleks cepat Tetua Bu langsung menghindarinya dengan Mudah.
"Siapa yang berani menyerangku secara diam diam." Kata tetua Bu menyetabilkan tubuhnya.
"Aku tidak menyangka, pria tua sepertimu masih memiliki refleks yang bagus." Ucap seorang pemuda tampan yang sedang berjalan di udara dengan santai, kedatangan pemuda ini membuat beberapa orang membuka matanya karena terkejut sekaligus tidak percaya, bagi mereka yang belum mengetahui Qin San tentunya mereka terkejut karena dengan umurnya yang begitu muda ia sangat berani untuk menyerang tetua Bu, seperti ia menganggap tetua bu adalah tokoh yang tidak penting.
"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu sebaiknya kau jangan mencari masalah denganku." Ucap tetua Bu kesal.
"Bajingan kecil, apakah orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun." Ucap tetua Bu.
"Oh, sopan santun.!!, apa itu??." Ucap Qin Sam dengan dingin.
"Kau bahkan tidak tahu sopan santun, hm sepertinya orang tuamu memamg idiot karena tidak memberitahumu apa itu sopan santun."
"Hei, apakah kau tahu apa yang paling kubenci dari musuhku." Ucap Qin San dingin.
"Musuhmu, bajingan kau sepertinya terlalu bangga dengan dirimu sendiri, apakah menurutmu bocah sepertimu pantas untuk menjadi musuhku, bahkan hanya dengan jariku aku bisa membunuhmu dengan mudah." Kata tetua Bu dengan marah.
"Pak tua kau harusnya sudah mati dari tadi." Qin San melepaskan kekuatanya di dewa galaxy puncak, membuat tekanan yang kuat hingga membuat sekte itu bergetar hebat.
__ADS_1
Wush...
Qin San melepaskan tinjunya ke arah titik vital tetua Bu, merasakan bahaya di arah jantungnya tetua Bu langsung membentengi dirinya dengan kedua tanganya.
"Bomm....
Serangan itu menabrak tetua Bu hingga membuatnya terpental menabrak mansionnya sendiri hingga Hancur.
Tetua Bu memuntahkan seteguj darahnya.
"Sial, aku lengah." Kata tetua bu mengutuk dirinya sendiri.
Tetua Bu bangkit dari puing puing yang berserakan.
"Hah, nak kau benar benar mencari kematian." tetua bu mengayunkan cemetinya ke arah Qin San.
Cemeti itu melaju dengan cepat yang menyamai kecepatan sebuah petir, Qin San disisi lain langsung menghindarinya ke kiri, Ia lalu mencoba untuk memegang cemeti itu, tetapi sia sia karena cemeti itu sangat sulit untuk dipegang.
Tetua Bu kembali menyerang Qin San, ia melompat dengan mengayunkan cemetinya kembali. Setiap ayunan cemetinya membuat tanah terbelah menjadi dua.
Qin San sama sekali tidak gentar saat menghadapi itu, ia hanya tersenyum tipis dan menghindar dengan santai.
"Pak Tua, mari kita akhiri inu." Qin San dengan cepat mlambaikan tanganya kedepan menangkap cemeti itu dengan satu tangan, kemudian ia menariknya Tetua Bu sedikit terkesiap, ia melsat ke arah Qin San dengan cepat.
DIsisi lain Qin san menyiapkan tinjunya yang mampu menghancurkan sebuah gunung sekalipun.
"Bomm" ia memukul perut tetua bu hingga ia terpental jauh membuat lubang yang sangat dalam.
Tak samapai disitu saja Qin San kembali melesat dan menyerang tetua busecara bertubi tubi hingga ia tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk berdiri.
Tubuh tetua Bu terus menjadi samsak tinju Qin San membuat tubuhnya yang penuh vitalitas menjadi sangat layu tanpa energi sedikitpun, tujuanya mendesak tetua bu hingga menjadi seperti ini karena ia ingin melihat bagaimana tetua bu berubah menjadi iblis.
__ADS_1
........
BERSAMBUNGG...