
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih...
°°°
Zhang Yu, kelima istrinya, dan Permaisuri Lu Yu Jin telah sampai di aula utama Kekaisaran Qing. Kedatangan mereka langsung disambut Kaisar Qing Jian Ren dan Zhang Quro.
Tak ingin membuang banyak waktu, mereka langsung langsung saja membahas portal menuju Alam Dewa yang telah selesai diperbaiki. Zhang Yu mengatakan portal sudah selesai diperbaiki tapi masih butuh waktu tujuh hari ke depan, supaya portal benar-benar aman saat digunakan.
Energi di dalam portal saat ini masih sangat kacau, dan bisa saja energi itu membunuh orang yang memaksakan dirinya menggunakan portal.
Kalaupun tidak terbunuh, orang yang memaksa masuk portal saat terjadi kekacauan energi, orang itu akan terpental entah kemana, dan bisa saja dia terpental ke tempat yang bukan menjadi tujuannya. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkannya, Zhang Yu terpaksalah menyegel ruang portal, untuk tujuh hari ke depan.
“Dengan kembali beroperasinya portal di Kekaisaran Qing, tak lama lagi akan banyak kultivator di kawasan timur ini yang berusaha mati-matian meningkatkan kekuatannya, supaya mereka dapat segera pergi ke Alam Dewa!” ujar Kaisar Qing Jian Ren pada semua orang di aula utama Kekaisaran Qing.
Zhang Yu mengangguk, lalu berkata, “Aku berharap Paman hanya mengizinkan mereka yang sudah berada di ranah Dewa Immortal Agung, yang dapat memasuki portal menuju Alam Dewa.”
“Mereka yang belum mencapai ranah Dewa Immortal Agung, mereka hanya akan dijadikan budak penduduk asli Alam Dewa, seandainya memaksakan diri pergi ke Alam Dewa!” lanjut Zhang Yu menjelaskan.
Kaisar Qing Jian Ren setuju dengan apa yang dikatakan Zhang Yu, meski dia tidak tahu kebenaran dari apa yang dikatakan Zhang Yu. Akan tetapi, begitu mengingat kehidupan di seluruh Alam Semesta di mana mereka yang kuat selalu menindas yang lemah, Kaisar Qing Jian Ren punya alasan kuat untuk mempercayai perkataan Zhang Yu.
Apalagi yang mereka bahas saat ini adalah Alam Dewa, Alam yang hanya satu tingkat di bawah Alam Nirwana Agung, rumah Penguasa Alam Semesta. Berada di Alam Dewa dengan kekuatan tak seberapa, orang seperti itu hanya akan ditindas oleh mereka yang kuat. Hanya mengizinkan mereka yang sudah berada di ranah Dewa Immortal Agung pergi ke Alam Dewa, adalah keputusan terbaik yang bisa diambil oleh Kaisar Qing Jian Ren.
“Sepertinya aku sendiri juga tertarik untuk pergi ke Alam Dewa, begitu kekuatanku sudah mencapai tingkat puncak ranah Dewa Immortal Agung. Sejujurnya, aku sudah bosan menjalani kehidupan sebagai seorang Kaisar, yang membuatku tidak bisa pergi berpetualang ke tempat yang aku inginkan,” ungkap Kaisar Qing Jian Ren.
Zhang Yu hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Kaisar Qing Jian Ren karena di kehidupannya yang lalu, dia juga merasa betapa bosannya hidup sebagai Penguasa, yang tidak memiliki kebebasan untuk menjalani kehidupannya. Dia bahkan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menangani permasalahan yang terjadi di seluruh Alam Semesta.
__ADS_1
Kelima istrinya yang duduk di sebelahnya juga merasakan hal sama. Demi membantu meringankan tugas Zhang Yu, mereka bahkan tidak memiliki waktu luang hanya untuk menikmati indahnya kehidupan. Hari-hari dihabiskan dengan mengerjakan banyak pekerjaan yang seolah tidak pernah ada habisnya.
“Suami, kalau nantinya kita kembali ke rumah, alangkah baiknya kita memperkerjakan banyak orang yang kita percaya, untuk meringankan pekerjaan kita! Dengan begitu, kita akan punya banyak waktu untuk menikmati kebersamaan,” kata Long Hua memberi saran.
“Aku setuju dengan saran Kakak Hua. Hanya saja, kita harus mencari orang yang benar-benar dapat kita percaya untuk melakukan tugas itu, supaya hasilnya tidak mengecewakan,” ujar Yin Siyi.
Kaisar Qing Jian Ren, Permaisuri Lu Yu Jin dan Zhang Quro mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan para istri Zhang Yu, dan pada akhirnya Zhang Quro bertanya “Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?”
Zhang Quro melihat Zhang Yu menoleh memandang kearahnya, begitu mendengar pertanyaan yang terlontar keluar dari mulutnya, “Kami hanya membicarakan apa yang ingin kami lakukan setelah berada di Alam Dewa,” jawab Zhang Yu, yang segera dimengerti oleh Zhang Quro dan dua orang lainnya.
Semua orang kemudian melanjutkan pembicaraan mereka, tapi kali ini mereka hanya melakukan pembicaraan santai, dan tanpa terasa matahari sudah condong di arah barat saat mereka menyelesaikan pembicaraan yang penuh canda tawa.
Dalam pembicaraan yang baru saja selesai, Zhang Yu baru tahu keadaan Putra Zhang Quro yang kultivasinya telah dia hancurkan saat membuat masalah dengannya. Orang itu telah menjalani hukuman mati karena terlibat dalam rencana pemberontakan yang dipimpin langsung oleh Ketua Agung Klan Zhang.
Dia tidak menangisi kematian putranya, tapi dia menangisi kegagalannya dalam mendidik seorang anak, yang dititipkan oleh wanita yang pernah mengisi hatinya, meski pada akhirnya dia harus merasakan apa yang dinamakan sebuah pengkhianatan. Wanita itu justru memilih berada di sisi Ketua Agung Klan Zhang, sampai ajal menjemputnya.
Zhang Quro selalu menganggap dirinya pria paling bodoh saat mengingat kehidupan masa lalunya. Akan tetapi itu sudah menjadi masa lalunya, dan sekarang dia memiliki masa depan yang harus diperjuangkan. Terutama, dia harus secepatnya membebaskan kakak dan kakak iparnya dari cengkraman Penguasa Alam Elemen.
Setelah pergi meninggalkan aula utama Kekaisaran Qing dan berjalan beriringan dengan Zhang Yu, Zhang Quro mengutarakan niatnya untuk kembali ke dalam Dunia Kecil, dan melanjutkan kultivasinya.
“Secepatnya aku harus menerobos tingkat puncak ranah Dewa Immortal Agung, dan begitu berada di Alam Dewa aku akan berusaha keras untuk menerobos ranah Dewa Surgawi Rendah. Setidaknya aku harus berada di tingkat puncak ranah Dewa Surgawi Menengah, kalau aku ingin menyelamatkan mereka!” gumam lirih Zhang Quro.
Dia yang sudah berada di dalam Dunia Kecil, segera pergi ke aula kultivasi, dan kembali melanjutkan kultivasinya bersama ribuan orang lainnya.
°°°
__ADS_1
Zhang Yu dan kelima istrinya telah sampai di kediaman mereka. Para pelayan segera membantu Long Hua, Shu Cing, Yin Siyi dan Shang Gu yang ingin mandi. Sementara Qing Yue, hari ini kesempatan dia mandi bersama Zhang Yu.
Qing Yue yang tanpa malu menunjukkan tubuh polosnya di depan Zhang Yu, menuntun pria itu masuk kedalam kolam air yang sudah dipenuhi bunga yang baunya begitu menyegarkan.
Sepasang tangan Qing Yue dengan lembut menggosok punggung Zhang Yu. Selesai di bagian belakang, kini sepasang tangannya beralih ke bagian depan, menggosok dada bidang Zhang Yu dan terus bergerak turun sampai dia menyentuh milik Zhang Yu yang sudah mengeras sekeras batu karang. Tiba-tiba saja Qing Yue menyelam masuk kedalam air, bersama dengan Zhang Yu yang mulai memejamkan kedua matanya.
Setelah hampir dua jam berada di dalam kolam pemandian, Zhang Yu dan Qing Yue keluar dari kolam pemandian, dengan wanita cantik itu berada di gendongan pria yang membuatnya merasakan kenikmatan duniawi. Tubuhnya lemas seperti sekarang itu juga karena keserakahannya yang ingin terus menerus merasakan apa yang di namakan kenikmatan duniawi.
Empat wanita lainnya hanya bisa menahan tawa saat melihat Qing Yue begitu lemas, setelah keluar dari kolam pemandian. Mereka tahu apa yang sudah terjadi, karena mereka juga merasakan hal yang sama saat berada di kolam pemandian bersama suami mereka. Meski awalnya mereka berhasil mendominasi, tapi pada akhirnya mereka harus tunduk pada ketangguhan suami mereka.
“Suami, tak lama lagi aku yakin kita akan memiliki keturunan!” ujar Long Hua.
“Kalau itu terjadi, aku akan menjadi wanita pertama yang mendapatkannya! Bagaimanapun juga aku adalah yang tertua diantara kalian, tapi kalau Sang Penguasa berkehendak lain, aku hanya bisa mengikuti apa yang menjadi kehendakNya,” ungkap Shang Gu.
“Kita pasrahkan saja pada Sang Penguasa, siapa nantinya diantara kita yang lebih dulu mendapatkan keturunan dari suami,” kata Shu Cing.
Semua wanita setuju dengan apa yang dikatakan Shu Cing, dan di waktu bersamaan mereka menoleh memandang Zhang Yu yang baru membaringkan tubuh lemas Qing Yue di atas tempat tidur.
Menyadari keempat istrinya sedang memandang ke arahnya, entah kenapa Zhang Yu merasa kejadian buruk akan menimpanya di malam yang semakin larut.
‘Adik kecil, malam ini giliran kamu berjuang melawan mereka para wanita! Jangan cepat lelah dan buat aku bangga sebagai tuanmu!...’
°°°
Bersambung...
__ADS_1