Sistem Dewa Terkuat

Sistem Dewa Terkuat
Penyesalan Yang Terlambat


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih...


°°°


Dalam wujud harimau putih raksasa Zhang Lao terus menyerang, melukai tubuh Gong Seng yang semakin tidak berdaya menghadapi serangannya.


“A-Apa kamu ingin membunuh kakakmu sendiri?...”


Tak mempedulikan apa yang dikatakan Gong Seng, masih saja Zhang Lao menyerang pria itu tanpa berbelas kasih. Kuku-kuku tajamnya mencabik-cabik tubuh Gong Seng, membuat bulu putih di tubuh Gong Seng berganti warna merahnya darah.


BAANG...


Sepakan kaki Zhang Lao menghantam tubuh Gong Seng, membuat pria itu terpental mundur dan baru berhenti setelah tubuh besarnya menghantam benteng istana Lien Shui.


“Aku sudah memberi pilihan yang dapat menghindarkanmu dari rasa sakit, tapi kamu justru memilih merasakan apa yang dinamakan rasa sakit!” kata Zhang Lao sambil menyeringai.


Zhang Yu tersenyum lebar melihat apa yang dilakukan Zhang Lao pada Gong Seng. Dia tidak menyangka Zhang Lao bisa sekejam itu pada kakaknya sendiri.


Namun, mengingat apa yang pernah dilakukan Gong Seng pada Zhang Lao di masa lalu, Zhang Yu merasa apa yang dilakukan Zhang Lao adalah sebuah kewajaran.


Sedangkan Lien Shui yang sudah mengalahkan musuhnya, dia hanya melihat dari kejauhan apa yang dilakukan Zhang Lao pada Gong Seng yang masih berstatus suaminya, meski dia tidak pernah menganggap pria itu sebagai suaminya.


“Gong Seng, sudah sewajarnya kamu menerima pembalasan atas apa yang dulu sudah kamu lakukan padanya,” gumam Lien Shui sembari mengalihkan pandangannya ke medan peperangan yang tinggal sedikit lagi dapat dimenangkan kekuatan yang berasal dari kubunya.


“Semua di mulai dengan pertumpahan darah dan diakhiri dengan cara yang sama,” kata Lien Shui.


BOOM...


BOOM...


Tubuh Gong Seng terpental kesana-kemari terkena serangan Zhang Lao yang terus menyerang tanpa memberi jeda, bahkan dia terus menyerang meski Gong Seng sudah menyerah, mengakui kekalahannya.


“Sudah terlambat mengakui kekalahanmu!” kata Zhang Lao tegas, sembari terus menyerang Gong Seng yang benar-benar sudah tidak berdaya.


“Kau sendiri yang sudah menolak penawaran sebelum semua ini terjadi. Jadi, Terima saja semua yang memang pantas kamu dapatkan setelah apa yang kamu putuskan!...” Tak menunjukkan rasa ibanya, Zhang Lao terus menyerang Gong Seng.


Lien Shui dan orang-orangnya dapat melihat bagaimana Zhang Lao terus menyerang Gong Seng yang sudah tidak mampu menggerakkan tubuhnya, bahkan mereka tidak dapat memastikan apa Gong Seng masih hidup atau sudah mati.


“Itulah akibat dari kesombongan yang terus saja dia tunjukkan pada kita semua,” kata salah satu prajurit dari kubu Lien Shui yang tidak menyukai keberadaan Gong Seng.

__ADS_1


“Semua itu menunjukkan kalau kesombongan hanya akan merugikan diri kita sendiri!” kata prajurit lainnya.


Sementara itu, Zhang Yu yang semula berada di tempat persembunyiannya tiba-tiba keluar meninggalkan tempat persembunyian, begitu dia merasakan dua sosok yang lebih kuat dari Gong Seng mendekati medan peperangan.


“Aku pikir mereka adalah orang tua dari dua pria yang sedang bertarung. Semoga saja mereka tidak melakukan sesuatu yang buruk pada saudara Lao!” gumam Zhang Yu.


“Hahaha... Ayah dan Ibu segera datang, sebagai putra kesayangan mereka, tentu mereka akan senantiasa berada di sisiku,” kata Gong Seng yang sudah kembali ke wujud manusianya, tapi dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Zhang Lao mengabaikan apa yang dikatakan Gong Seng. Dia memilih mengarahkan pandangannya ke arah dimana dia merasakan aura dua sosok yang begitu dirindukannya.


“Apa kamu yakin mereka hanya menyayangimu?” kata Zhang Lao.


Mulut Gong Seng seperti terkunci saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Zhang Lao. Meski tidak sering, dia pernah melihat Ibunya yang menangis karena merindukan Zhang Lao.


Akan tetapi Ibunya selalu menghapus air mata dan tak lagi menunjukkan kesedihannya saat bertemu dengannya. Wanita itu senantiasa tersenyum saat bersama dengannya.


“Apa menurutmu sepasang orang tua kita hanya menyayangi salah satu anaknya?” kata Zhang Lao hanya melirik keberadaan Gong Seng.


“Ten-tentu saja mereka hanya menyayangiku karena dari dulu aku tidak pernah membuat mereka kecewa,” balas Gong Seng.


“Itu cuma pendapatmu, bukan apa yang dirasakan mereka,” kata Zhang Lao.


Baru juga Zhang Lao menyelesaikan perkataannya, sosok pria dan wanita melayang turun dari ketinggian, mendarat di permukaan tanah, berdiri diantara Zhang Lao dan Gong Seng yang sedang terlibat pertarungan.


Zhang Yu hanya menatap biasa saja kedatangan mereka, meski dalam hatinya dia begitu merindukan mereka, terutama sosok wanita yang menatt sendu Gong Seng yang sekujur tubuhnya di penuhi luka. Dari situ dia dapat melihat kalau wanita itu sangat menyayangi Gong Seng.


“Siapa yang melakukan ini pada putraku?” teriak sosok pria menatap sekeliling, dan tak lama tatapan matanya tertuju pada Zhang Lao.


Belum juga Zhang Lao menyapa dan mengungkap identitasnya, pria itu langsung saja melesat menyerang dengan mengerahkan seluruh kekuatannya.


Zhang Lao yang tidak siap dengan seorang yang begitu tiba-tiba, dia sudah mengira tubuhnya akan terluka sangat parah saat serangan itu mengenai tubuhnya.


Akan tetapi apa yang diperkirakan Zhang Lao tidak pernah terjadi karena Zhang Yu muncul di depannya dan dengan mudahnya menahan serangan pria yang tidak lain adalah Ayahnya.


“Apa ini yang dilakukan seorang Ayah pada putranya sendiri?” kata Zhang Yu membuat ayah Zhang Lao melebarkan kedua matanya sambil menatap dalam wajah Zhang Lao.


“Lama tidak bertemu, Ayah...” Zhang Lao menunjukkan senyuman di wajahnya, setelah menyapa pria yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


Tubuh Ayah Zhang Lao jatuh tertunsuk setelah dia yakin kalau sosok pemuda yang sebelumnya ingin dia bunuh adalah putranya sendiri yang kehadirannya selama ini sangat dia rindukan.

__ADS_1


“Bagaimana mungkin aku ingin membunuh putraku sendiri?” gumam Ayah Zhang Lao dengan kepala tertunduk, menyesali apa yang baru saja ingin dia lakukan.


Hampir saja dia membunuh putranya sendiri seandainya tidak ada sosok pemuda di hadapannya, yang berhasil menahan serangannya.


“Kenyataannya kamu hampir membunuhnya di saat dia datang ke Alam ini untuk mencari keberadaan kedua orangtuanya,” kata Zhang Yu menatap pria yang tertunduk di hadapannya.


“Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga kalian, tapi karena kalian tiba-tiba saja datang di tengah pertarungan saudara Lao dan putra tertua kalian, terpaksa aku ikut campur dalam urusan ini,” imbuh Zhang Yu.


“Setelah sekian lama tidak bertemu, apa begitu bertemu, kalian hanya ingin saling membunuh?” tanya Ibu Zhang Lao yang berjalan mendekat sambil membantu Gong Seng berjalan.


“Setelah kembali ke Alam ini dengan kekuatan besar, bukannya membantu kakakmu, tapi kamu justru ingin membunuhnya! Apa kamu lupa bagaimana dulu kakakmu memilih mengirimmu ke Alam Bawah, disaat semua orang menginginkan kematianmu?” kata wanita itu.


Zhang Lao menunjukkan senyuman di wajahnya mendengar perkataan ibunya yang terkesan lebih membela kakaknya, tanpa melihat kebenaran.


“Apa Ibu membenarkan seorang kakak yang telah mengambil apa yang seharusnya menjadi milik adiknya?” tanya Zhang Lao ingin memastikan sesuatu.


“Kalau dia lebih pantas mendapatkannya, aku pasti membenarkan apa yang dia lakukan,” balas wanita itu.


Balasan wanita itu membuat senyuman Zhang Lao luntur, dan kini ekspresi wajahnya begitu dingin dengan sorot mata tajam menatap keberadaan Gong Seng.


Melambaikan tangannya, Zhang Yu mengarahkan serangan ke arah Gong Seng.


BOOM...


“Putraku!...” Teriak Ibu Zhang Lao, lalu dia memeluk tubuh Gong Seng yang tak lagi bergerak setelah serangan Zhang Lao membuat lubang lebar di dada Gong Seng.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya pria di hadapan Zhang Yu, melihat apa yang dilakukan Zhang Lao.


“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan padanya karena sebelumnya dia sudah menolak pengampunan dariku. Jangan menyalahkan aku atas kematiannya karena aku hanya melakukan apa yang menurutku benar!” kata Zhang Lao dingin lalu dia pergi menjauhi kedua orangtuanya.


“Kamu sudah melakukan kesalahan besar dengan membela putramu yang jelas melakukan kesalahan, dan aku rasa ini memang pantas kalian dapatkan,” kata Zhang Yu kemudian pergi menyusul Zhang Lao.


Ayah dan Ibu Zhang Lao pada akhirnya hanya bisa tertunduk merenungi kesalahan mereka.


Menyesal juga percuma karena Zhang Lao telah pergi meninggalkan mereka, begitu juga dengan Gong Seng.


“Apa ini hukuman untuk kami yang selalu membedakan perhatian dan kasih sayang diantara putra-putra kami?...” gumam Ibu Zhang Lao hanya bisa melihat punggung putranya yang semakin menjauh.


°°°

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2