Sistem Dewa Terkuat

Sistem Dewa Terkuat
Kemenangan Kubu Lin Yifei


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih...


°°°


Lin Shang, dia adalah Tetua Agung Istana Hua, yang selama ini diakui sebagai sosok terkuat di Alam Bunga, tapi siapa yang menyangka kalau hari ini dia dibuat kewalahan oleh pemuda belasan tahun?


Mengepalkan erat genggaman tangannya, Lin Shang berkata, “Tidak mengakui kekurangannya, itulah yang biasanya dilakukan oleh seorang pecundang, dan aku melihat semua itu ada pada dirimu. Tuan Muda kelima, aku yakin kedua orangtuamu kecewa melihat dirimu saat ini!”


Jelas terlihat kalau Lin Shang sedang mengulur waktu, dengan terus mengajak Zhang Yu membicarakan sesuatu yang tidak penting.


“Tetua Agung, aku tidak punya banyak waktu berdebat denganmu, dan lagi aku tidak mungkin juga memberimu banyak waktu untuk memulihkan kekuasaan! Jadi, sudah saatnya kita akhiri semua ini!” Pedang Naga muncul di tangan Zhang Yu, bersama munculnya Zirah Dewa yang segera menyatu dengan tubuhnya, “Aku tidak berani meremehkan orang sepertimu. Jadi, aku akan menggunakan seluruh kekuatanku, bertarung denganmu!” lanjutnya.


Kekuatan yang meluap keluar dari tubuh Zhang Yu membuat kaki Lin Shang bergetar. Dia tidak menyangka pemuda yang dia juluki sampah, ternyata menyimpan kekuatan besar, jauh melampaui kekuatan Lin Mohan.


Kalau saja dari awal dia tahu potensi yang dimiliki Zhang Yu, tentu dia lebih memilih Zhang Yu sebagai penguasa baru Alam Bunga, dibandingkan Lin Mohan yang akhir-akhir ini perkembangan kekuatannya semakin melambat.


Zhang Yu tersenyum sinis saat kedua matanya menatap Lin Shang. Dia tahu pria itu menyesali keputusannya. Akan tetapi semua sudah terjadi, dan dia sudah sangat terlambat untuk merubahnya.


Kekuatan tujuh elemen menyelimuti pedang Naga di tangan Zhang Yu, siap di gunakan untuk mengakhiri hidup Lin Shang yang tidak bisa melakukan apa-apa, setelah dia tidak lagi memiliki energi spiritual untuk melawan Zhang Yu.


Dengan kecepatan puncaknya, Zhang Yu melesat maju menyerang Lin Shang.


Hanya dengan satu ayunan pedang Naga di tangannya, dia merubah tubuh Lin Shang menjadi abu yang begitu saja beterbangan dan menghilang, saat tersapu hembusan angin


Setelah memastikan kematian Lin Shang, dia bergumam, “Orangtuaku justru bangga saat aku membunuh orang sepertimu, yang sudah menebar begitu banyak kesengsaraan di Alam ini!...”


°°°

__ADS_1


Keadaan medan perang antara kubu Lin Yifei dan kubu Lin Mohan sudah dibanjiri darah. Ribuan orang telah menjadi korban perang, dan sebagian besar korban berasal dari kubu Lin Mohan yang minim persiapan.


Kematian Lin Shang belum mereka ketahui, yang membuat mereka masih merasa ada harapan menang begitu Lin Shang selesai memulihkan kekuatannya, dan kembali ke medan perang. Akan tetapi harapan mereka hanya harapan kosong karena orang yang mereka harapkan sudah bertemu dengan Dewa Kematian.


Sedangkan untuk pertempuran para tetua dari masing-masing kubu, pertempuran mereka berlangsung sengit dan cukup berimbang, bahkan sampai sekarang belum terlihat ada salah satu dari mereka yang tumbang.


Tetua Lin Bai, Tetua Lin Shin, Tetua Lin Niang, Tetua Lin Jiangsu, Tetua Lin Jiao, Tetua Lin Jing, serta para tetua Sekte Lili Putih, perlahan mereka mulai mendominasi jalannya pertempuran, meski belum satu pun dari mereka berhasil menumbangkan musuhnya.


Zhang Yu sendiri yang dengan mudah menyelesaikan pertempurannya, dia memilih membantu anggota kubu Lin Yifei yang benar-benar membutuhkan bantuannya, walau hanya sedikit orang yang benar-benar membutuhkan bantuan darinya.


Dengan kekuatan yang sudah di tingkatkan dengan mengkonsumsi sumberdaya pemberiannya, setidaknya saat ini kekuatan kubu Lin Yifei berada satu sampai dua tingkat di atas kekuatan yang dimiliki kubu Lin Mohan.


°°°


Peperangan antara kubu Lin Yifei dan Lin Mohan sudah berlangsung lebih dari setengah hari, dan belum ada tanda-tanda adanya kubu yang menyerah dalam peperangan yang sudah merenggut ribuan nyawa dari kedua kubu.


“Lin Yifei, apa kamu ingin membunuhku? Ingat, kita memiliki Ayah yang sama walau Ibu kita berbeda! Sekalipun Ibu kita berbeda, di darah kita mengalir darah pria yang sama, dan itu membuktikan kalau kita masihlah saudara. Lin Yifei, apa kamu tega membunuh saudaramu sendiri? Apa kamu tidak takut membuat Ayah kecewa denganmu?” ujar Lin Mohan yang menggunakan pedang di tangannya untuk membuat tubuhnya tetap berdiri, walau sudah tidak mampu berdiri tegak.


Terlihat jelas kalau dia tak lagi dapat melanjutkan pertempuran dan memilih meminta belas kasihan dari Lin Yifei. Akan tetapi Lin Yifei yang dia harap memberi belas kasihan padanya, wanita itu hanya mengacuhkan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya, dan tetap mengangkat pedang untuk mengakhiri hidupnya.


Dengan ketenangan yang dimilikinya, Lin Yifei berkata, “Ayah tidak akan sedih dengan kematian orang sepertimu! Aku yakin Ayah justru senang melihatmu mati di tanganku, dan mengakhiri segala hal buruk yang sudah kamu lakukan! Lagian, sekarang ini kita berada di medan perang. Di medan perang hanya ada kata hidup atau mati. Kalau bukan aku yang mati, artinya kamu yang akan mati!”


Menggunakan pedang yang dia pilih dari tumpukan senjata di cincin penyimpanan pemberian Zhang Yu, Lin Yifei melesat maju menyerang Lin Mohan, yang hanya mampu menghindari beberapa serangannya, dan pada akhirnya tubuh Lin Mohan terpotong-potong menjadi beberapa bagian setelah Lin Yifei terus melakukan serangan tanpa jeda.


“Maafkan aku saudaraku! Aku rasa ini balasan yang tepat untuk apa yang sudah kamu lakukan pada saudara dan saudari kita, serta semua yang sudah kamu lakukan pada orang-orang di Alam ini!...”


°°°

__ADS_1


Peperangan antara kubu Lin Yifei dan kubu Lin Mohan berakhir setelah kematian Lin Mohan, dan kematian seluruh Tetua Istana Hua yang berada kubu Lin Mohan.


Ratusan prajurit Istana Hua yang memutuskan menyerah, pada akhirnya mereka dieksekusi di tempat karena mereka mencoba menyerang Lin Yifei saat dibawa menemui Lin Yifei. Kematian Lin Shang sendiri mulai menyebar ke seluruh daratan Alam Bunga, tapi tak ada satupun orang yang menangisi kematiannya.


Dua hari berlalu setelah peperangan yang pada akhirnya dimenangkan kubu Lin Yifei.


Di dalam kamar, seorang pria menyelimuti tubuh wanita, yang semalam telah menemaninya melewati dinginnya malam, dengan menghangatkan ranjangnya. Nampak dari wajahnya wanita itu masih kelelahan, dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Pria itu tak lain adalah Zhang Yu, sedangkan wanita yang masih tertidur di atas ranjangnya adalah Qing Yue yang semalam memilih keluar dari dunia kecil dan menemaninya bermalam. Tanpa Zhang Yu dan Qing Yue sadari, sejak semalam ada wanita yang terus memperhatikan kegiatan mereka, sambil menahan gejolak aneh di tubuhnya.


Berjalan keluar kamar begitu selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Zhang Yu mendapati keberadaan Lin Yifei dan Yan Fei yang sudah duduk di bangku taman kediamannya. Keduanya hanya sedikit menolehkan kepala dan melirik saat dia mendekat ke arah mereka.


Keduanya bersikap aneh saat Zhang Yu duduk diantara mereka. Baik Lin Yifei maupun Yan Fei, keduanya sesekali melirik ke bagian bawah perut Zhang Yu yang terlihat sedikit menonjol.


Sebelum keluar kamar Zhang Yu sempat melihat tubuh polos Qing Yue saat selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap, dan karena semua itu miliknya masih tegak berdiri sampai sekarang bahkan semakin tegak berdiri setelah dia melihat pakaian Yan Fei yang kurang bahan.


Baru juga dia berhasil mengontrol miliknya, tiba-tiba saja Lin Yifei duduk di pangkuannya, dengan posisi menghadap ke arahnya.


Wajah cantik dan aroma harum tubuh Lin Yifei sejenak membuat dia begitu menikmati, saat-saat wanita itu duduk di pangkuannya. Ditambah pemandangan dua bukit kembar di depannya, membuat Zhang Yu ingin merebahkan kepalanya diantara bukit kembar di depannya.


Namun, sebuah suara yang keluar dari mulut Lin Yifei, segera menyadarkan dirinya dari lamunan.


“Katakan padaku, siapa sebenarnya dirimu!...”


°°°


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2