
Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih...
°°°
Lima tahun berlalu sejak kematian Dewa Iblis dan seluruh pasukannya.
Di Alam Bunga...
Di bawah hangatnya sinar matahari pagi, terlihat Zhang Yu dan kedelapan istrinya sedang menikmati keindahan taman bunga, yang letaknya tak terlalu jauh dari istana Hua. Bisa dikatakan taman itu masih bagian dari kemegahan dan keindahan istana Hua.
Tak jauh dari mereka, terlihat empat anak laki-laki dan empat anak perempuan sedang berlarian kesana kemari di tengah hamparan bunga yang sedang bermekaran. Meski masih anak-anak yang usianya belum genap 5 tahun, dari auranya, mereka bukanlah sosok anak kecil biasa.
Keempat anak laki-laki dan keempat anak perempuan yang sedang berlarian di taman bunga, tidak lain mereka adalah putra dan putri Zhang Yu, yang terlahir empat tahun yang lalu, tepat pada hari peringatan satu tahun kematian Dewa Iblis, sosok yang diyakini sebagai penebar bencana di Alam Dewa.
Kedelapan anak itu lahir di waktu yang bersamaan, dan tak satupun dari mereka yang menangis saat terlahir.
Merasa ada yang aneh kenapa putra putrinya tidak ada yang menangis saat terlahir, Zhang Yu menanyakan sebabnya pada sistem, dan dia pada akhirnya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal setelah mendengar jawaban sistem yang mengatakan, [Bagaimana mungkin putra dan putri seorang penguasa Alam Semesta yang begitu kuat lahir dalam keadaan menangis? Mereka bukan anak lemah yang cengeng. Jadi kenapa juga harus menangis?...]
Pada akhirnya Zhang Yu tidak lagi memikirkan kenapa putra dan putrinya tidak menangis saat lahir. Yang penting baginya putra dan putrinya terlahir sehat, dan kedelapan istrinya dapat melahirkan tanpa terkendala suatu masalah.
Dengan kelahiran putra dan putrinya, kehidupan Zhang Yu sudah sangat lengkap, apalagi ditambah belum lama ini dia juga mendapatkan adik kecil dari kedua orangtuanya. Hari-hari bahagia benar-benar membuat Zhang Yu lupa kalau dia masih memiliki satu tugas terakhir yang harus segera diselesaikannya.
Secepatnya dia harus membuka segel yang menutup Alam Nirwana Agung, dan secepatnya juga dia harus kembali menduduki singgasana penguasa Alam Semesta yang berada di Istana Agung Alam Nirwana Agung.
“Apa sudah waktunya kita membuka segel Alam Nirwana Agung?” tanya Zhang Yu pada kedelapan istrinya.
Kedelapan wanita saling melihat satu sama lain, lalu bersamaan mereka menganggukkan kepala, “Aku rasa sudah saatnya kita membuka segel Alam Nirwana Agung, dan melihat apa yang terjadi di tempat itu selama kepergian kita,” kata Qing Yue.
“Lalu, bagaimana dengan kedudukan penguasa Alam Kegelapan kalau aku pergi dan menetap di Alam Nirwana Agung?” tanya Fan Yu Jie.
“Begitu juga dengan Alam Bunga, apa aku perlu melepas gelar penguasa Alam Bunga pada orang lain?” Lin Yifei ikut menanyakan hal yang sama.
__ADS_1
“Kenapa kalian bingung? Bukannya kalian masih tetap bisa mengurus Alam kalian dari Istana Agung yang berada di Alam Nirwana Agung!” ungkap Zhang Yu sembari menatap bergantian Lin Yifei dan Fan Yu Jie.
“Sekalipun ada masalah mendesak di Alam Bunga ataupun Alam Kegelapan, kita bisa menggunakan portal penghubung antar Alam di Alam Dewa, yang dalam hitungan detik dapat membawa kita sampai di tempat tujuan,” kata Zhang Yu menjawab kebingungan kedua istrinya.
Sementara itu di Alam Es, Bing Mao, Lan Guang, Xue Xie, dan Huo Sheng De. Mereka berlima sedang menikmati minuman dan makanan di istana penguasa Alam Es milik Bing Mao. Tak lagi ada dendam atau amarah, mereka benar-benar menghabiskan waktu setelah perang besar dengan terus bersenang-senang, tapi tak sedikitpun dari mereka yang melupakan tugas penting sebagai seorang penguasa.
"Saudara Mao, minuman dan makanan di tempatmu memang yang terbaik, tapi masih berada sedikit di bawah apa yang ada di Alam Kegelapan dan Alam Bunga,” kata Lan Guang.
“Minuman dan makanan di kedua Alam itu memang sangat nikmat. Aku bahkan merasa malas kembali ke Alam Es saat berkunjung tempat itu,” balas Bing Mao.
“Tapi aku lebih penasaran dengan makanan dan minuman yang ada di Alam Nirwana Agung,” saut Xue Xie tiba-tiba.
Mendengar Xue Xie menyebut nama Alam Nirwana Agung, mereka yang mendengarnya ikut penasaran dengan apa saja yang berada di Alam Nirwana Agung. Di masa lalu mereka sama sekali tidak memiliki kesempatan melihat apa saja yang ada di Alam Nirwana Agung. Namun, di masa ini, mereka berharap memiliki kesemp untuk melihat sendiri apa yang ada di Alam Nirwana Agung, yang konon katanya merupakan Alam tertinggi yang hanya berada satu tingkat di bawah Alam Sang Pencipta.
“Kita cuma bisa berharap Yang Mulia segera membuka segel Alam Nirwana Agung, supaya secepatnya kita dapat melihat apa saja yang ada di dalam Alam itu,” kata Huo Sheng De yang saat ini sangat menghormati dan mengagumi sosok Zhang Yu.
“Semoga saja Yang Mulia segera membuka segel itu,” kata Bing Mao penuh harap.
°°°
Di Alam Binatang Suci...
“Hah... ternyata menjadi seorang Ayah sangatlah melelahkan. Aku tidak bisa membayangkan betapa lelahnya Tuan yang memiliki delapa anak,” kata Zhang Lao sembari memegangi punggungnya yang terasa lelah setelah dia dijadikan kuda-kudaan oleh putri kembarnya.
“Suamiku, apa kamu butuh sedikit pijatan di punggungmu?” tanya Lien Shui, Permaisuri dan satu-satunya istri yang dimiliki Zhang Lao.
Zhang Lao menoleh, melihat keneradaan Lien Shui yang sudah berdiri di sebelahnya, “Istriku, kenapa kamu berada di sini? Apa kedua putri kita sudah tertidur?” tanya Zhang Lao.
Mendengar itu Lien Shui mengangguk, “Mereka sudah tidur, tapi sebelum tidur mereka sempat berpesan padaku,” katanya lalu tiba-tiba saja di duduk di pangkuan Zhang Lao.
Zhang Lao langsung saja memeluk perut ramping Lien Shui, lalu dia berkata, “Apa pesan yang mereka berikan padamu? Apa mereka ingin berkunjung ke Alam Bunga untuk bertemu dengan putra dan putri Tuan?...”
__ADS_1
Cepat Lien Shui menggelengkan kepalanya, “Kedua putri kita menginginkan seorang adik,” kata Lien Shui dengan berbisik di dekat telinga Zhang Lao.
Zhang Lao tersenyum mendengar apa yang baru dikatakan istrinya, “Kalau begitu, bagaimana kalau malam ini kita melakukan kerja keras, kalau perlu kita bisa melakukannya sampai pagi,” katanya, lalu dia begitu saja menggendong Lien Shui selayaknya seorang putri.
“Istriku, kali ini kamu menginginkan putri kembar, putra kembar, atau satu pasang putra dan putri?” kata Zhang Lao yang baru saja membaringkan tubuh Lien Shui di atas tempat tidur yang sudah menjadi saksi hubungan mereka.
“Kali ini aku menginginkan sepasang putra tampan,” balas Lien Shui penuh kebahagiaan.
Setelah hubungan Zhang Lao dengan kedua orangtuanya membaik dan setelah kelahiran putri kembarnya, Lien Shui benar-benar merasakan kesempurnaan dalam kebahagiannya, dan kebahagiaan itu akan semakin sempurna dengan keberadaan adik-adik dari putri kembarnya.
°°°
Di Alam Surgawi...
Swusshh... Swusshh...
Penguasa Alam Surgawi sedang bergerak menuju portal yang menghubungkan Alam Surgawi dengan Alam lainnya yang berada di Alam Dewa. Portal itu sudah sangat lama tidak digunakan dan dalam keadaan tersegel.
“Sial!... Kenapa dia tiba-tiba marah dan menyuruhku mengantarkan langsung hadiah untuk anak bocah itu?” kata penguasa Alam Surgawi yang baru saja di siksa para istrinya karena menolak mengantarkan hadiah untu putra Shang Gu, yang tidak lain adalah cucunya.
Tak tahan dengan siksaan para istrinya dan sebenarnya dia juga ingin melihat-lihat Alam lainnya, pada akhirnya dia menuruti apa yang menjadi keinginan para istrinya.
Sampai di tujuan, penguasa Alam Surgawi segera saja membuka segel dan array berlapis yang melindungi portal penghubung dengan Alam Lain. Setelah beberapa saat membuka segel dan memperbaiki beberapa bagian portal yang rusak, segera saja penguasa Alam Surgawi menggunakan portal itu pergi ke Alam Bunga untuk bertemu dengan cucunya.
“Setelah jutaan tahun berlalu, ini kali pertama aku pergi meninggalkan Alam Surgawi,” kata penguasa Alam Surgawi begitu dirinya sudah memasuki portal.
“Semoga saja mereka masih ingat dengan keberadaanku,” gumam penguasa Alam Surgawi, sembari memandangi ujung portal yang mulai terlihat.
°°°
Bersambung...
__ADS_1