Sistem Dewa Terkuat

Sistem Dewa Terkuat
Pertarungan Adik Dan Kakak


__ADS_3

Jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih...


°°°


“Jangan takut dengan kekuatan mereka! Kita kalahkan mereka dengan jumlah,” kata Gong Seng dengan suara lantang.


“Kita memang unggul dalam jumlah, tapi apa itu cukup untuk mengalahkan mereka?” kata salah satu prajurit kubu Gong Seng yang tidak yakin dapat mengalahkan kekuatan musuh dengan jumlah.


Jumlah musuh memang tak lebih dari setengah jumlah mereka, tapi kekuatan musuh jauh lebih kuat. Mereka yang sebagian besar masih berada di ranah Dewa Surgawi Tinggi tingkat menengah dan tingkat puncak, tentu kekuatan mereka tak sebanding dengan musuh yang sudah berada di ranah Dewa Nirwana.


“Kenapa kalian masih diam? Apa kalian tidak berani melawan kami dan ingin menyerah daripada mati konyol di tangan kami? Benar-benar sekumpulan pecundang!” kata Zhang Lao mencibir kubu Gong Seng.


Mendengar cibiran Zhang Yu yang ditujukan pada mereka, Gong Seng dan orang-orangnya merasa kalau mereka memang seorang pecundang kalau tidak segera memutuskan menyerang kubu Lien Shui, yang kini diambil alih Zhang Lao.


Akan tetapi mereka tak begitu saja maju menyerang mengingat kekuatan musuh yang jauh lebih kuat dari mereka. Menyerah dan mengaku kalah, mereka tidak mungkin menghancurkan harga diri dengan melakukan itu.


“Kalau kau ingin berperang, kenapa tidak kau saja yang lebih dulu maju menyerang kami?” kata Gong Seng pada Zhang Lao.


“Bukannya kalian yang datang untuk menyerang, kenapa sekarang justru menyuruh kami lebih dulu menyerang kalian?” tanya Zhang Lao.


“Kalau begitu, aku tidak akan sungkan mengerahkan seluruh kekuatan untuk menghancurkan kalian yang tidak mau tunduk padaku!” kata Gong Seng yang tak lagi bisa menahan amarahnya.


Zhang Lao yang mendengar semua itu hanya menunjukkan senyuman di wajahnya, sembari menunggu apa yang akan dilakukan Gong Seng.


“Jangan membuatku terlalu lama menunggu! Jujur saja, masih banyak urusan yang harus aku selesaikan, dan lagi urusan itu lebih penting daripada mengurusi sekumpulan pecundang seperti kalian!” kata Zhang Lao.


Mendengar itu Gong Seng dan orang-orangnya di waktu bersamaan mengeluarkan senjata mereka, dan bersiap memulai peperangan dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang mereka miliki.


Tak lagi gentar dengan keberadaan Tentara Dewa dan Tentara misterius yang sama kuatnya dengan Tentara Dewa, ratusan ribu prajurit yang tidak ingin dianggap sebagai pecundang, melesat maju menyerang musuh mereka.


“Karena kalian sudah memutuskan berperang, jangan harap aku memberi pengampunan untuk kalian!” kata Zhang Lao memimpikan pergerakan Tentara Dewa dan Tentara Monster menyerang prajurit kubu Gong Seng.


“Bunuh semua musuh yang masih melawan! Sisakan mereka yang menyerah, dan mengakui dirinya adalah pecundang!” kata Zhang Lao dengan suara lantang, sembari melesat menuju tempat berdirinya Gong Seng.


“Sangat cepat,” kata Gong Seng dan Gong Ming bersamaan saat melihat Zhang Lao yang dalam hitungan detik sudah berada di depan mereka.


Terpukau dengan kecepatan Zhang Lao, keduanya hampir saja bertemu Dewa kematian karena telat menghindar saat Zhang Lao yang tertuju pada mereka.

__ADS_1


“Jangan banyak melamun di medan perang!” kata Zhang Lao menunjukkan senyuman sinis di wajahnya saat melihat dua lawannya hampir mati konyol karena telat menghindar.


“Tutup mulutmu dan biarkan aku memberi kekalahan padamu seperti di masa lalu!” teriak Gong Seng.


“Lakukan saja kalau kamu mampu! Namun, jangan salahkan aku kalau hasilnya tidak sesuai dengan harapanmu!” kata Zhang Lao tenang.


“Kekuatanku tidak cukup untuk mengalahkan dia yang sekarang. Paman, bantu aku mengalahkan dia!...” Gong Seng meminta bantuan Gong Ming.


“Paman Ming, aku datang untuk menjadi lawanmu!” kata Lien Shui muncul di dekat Zhang Lao dengan sorot mata tajam menatap Gong Ming.


Gong Seng dan Gong Ming sama-sama melupakan keberadaan Lien Shui, setelah fokus mereka hanya tertuju pada Zhang Lao, Tentara Dewa, serta Tentara misterius yang saat ini sedang membantai prajurit mereka.


“Putri Lien Shui, kamu adalah Permaisuri penguasa Alam Binatang, kenapa kamu tidak tunduk pada suamimu, dan justru memusuhinya?” tanya Gong Ming menatap benci keberadaan Lien Shui.


“Suamiku adalah penguasa Alam ini, sedangkan orang yang kamu maksud bukanlah penguasa sebenarnya dari Alam ini. Jadi, bagaimana mungkin aku tunduk padanya?” balas Lien Shui.


Mulut Gong Ming tertutup rapat setelah mendengar balasan Lien Shui. Balasan Lien Shui adalah kebenaran, dan dia bisa membantah sebuah kebenaran.


Zhang Lao dan Lien Shui tersenyum ke arah dua orang di depan mereka yang diam, padahal sebelumnya kedua orang itu sangatlah berisik.


Bahkan di awal mereka terlihat begitu sombong, sebelum kesombongan itu luntur setelah melihat keberadaan Tentara Dewa.


“Saudara Lao kamu benar, Yang Mulia Agung pasti bosan menunggu peperangan ini yang terlalu lama!” balas Lien Shui.


Keduanya melesat maju menyerang musuh mereka masing-masing. Zhang Lao melesat maju menyerang Gong Seng, sementara Lien Shui menyerang Gong Ming.


“Pertempuran tidak akan berlangsung lama,” kata Zhang Yu yang melihat jalannya peperangan dari kejauhan.


Pertempuran berlangsung berat sebelah. Meski jumlah prajurit kubu Gong Seng berkali-kali lebih banyak, tapi mereka kalah dalam kekuatan, dan pada akhirnya jumlah tak mampu menutupi perbedaan kekuatan yang begitu jauh diantara dua kubu yang sedang berperang.


Kejadian yang sama juga terjadi di tempat pertempuran Zhang Lao dan Lien Shui, yang melawan Gong Seng dan Gong Ming.


Terlihat jelas Zhang Lao dan Lien Shui mendominasi jalannya pertempuran.


“Kakak, apa kamu tidak ingin menyerah dan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikku?” kata Zhang Lao.


“Jangan harap aku memberikan padamu apa yang sudah menjadi milikku!” balas Gong Seng yang terus melawan Zhang Yu, meski tubuhnya sudah terdapat beberapa luka.

__ADS_1


Swiss...


Boom...


Pukulan Zhang Lao menghantam dada Gong Seng, membuat pria itu terpental mundur puluhan langkah.


“Kau benar-benar memaksaku! Jangan salahkan aku kalau kali ini kau mati mengenaskan di tanganku!” teriak Gong Seng yang ukuran tubuhnya semakin membesar dengan bulu-bulu berwarna putih mulai tumbuh di sekujur tubuhnya.


“Apa kakak lupa kalau aku juga dapat merubah wujud seperti yang sedang kamu lakukan?” kata Zhang Lao.


Tak butuh waktu lama, semua mata di medan peperangan dapat melihat dua sosok harimau putih setinggi lima belas meter saling beradu kekuatan.


Sementara itu jauh dari pertarungan kedua harimau putih, mereka juga dapat melihat harimau putih lainnya yang sedang bertarung melawan Lien Shui.


“Akhirnya mereka mulai serius, tapi dengan adanya Zirah Dewa yang dapat menyesuaikan dengan ukuran tubuh saudara Lao, kesempatan Gong Seng memenangkan peperangan sangatlah kecil!...”


“Untuk Putri Lien Shui, Gong Ming bukan lawan sepadan untuk wanita itu,” gumam Zhang Yu.


Saat Zhang Yu menebak siapa yang akan memenangkan peperangan, Gong Ming dalam wujud harimau putih raksasa tiba-tiba jatuh tersungkur, setelah Lien Shui memotong ekor dan kedua kaki Gong Ming menggunakan pedang di tangannya.


“Satu tumbang, tinggal satu lagi!” ungkap Zhang Yu yang saat ini hanya fokus melihat jalannya pertempuran diantara Zhang Lao dan Gong Seng.


Gong Seng sudah menggunakan semua yang dia miliki untuk mengalahkan Zhang Lao, tapi tetap saja dia tidak berhasil mengalahkan adiknya yang di masa lalu dengan mudahnya berhasil dia kalahkan.


“Aku tidak menyangka kau benar-benar tumbuh menjadi sosok yang begitu kuat dalam waktu singkat!” kata Gong Seng sembari melompat, menjaga jarak dengan Zhang Lao.


Zhang Yu menunjukkan senyuman sinis di wajahnya, mendengar apa yang dikatakan Gong Seng. Dia tahu kalau kakaknya hanya ingin mengulur waktu, supaya dia dapat menyembuhkan luka-luka di tubuhnya.


“Kalau kakak ingin menyerah, inilah saat yang tepat untuk menyerah!” kata Zhang Lao.


“Jangan harap aku menyerah!” balas Gong Seng sembari melesat maju menyerang Zhang Lao.


Akan tetapi, kembali serangannya tidak ada yang berhasil mengenai Zhang Lao. Dia justru terdorong mundur puluhan langkah, terkena hantaman tubuh Zhang Lao.


“Aku sudah memberimu kesempatan untuk menyerah, tapi kamu justru memilih pertarungan sampai akhir. Jadi, sekarang aku punya alasan untuk menjelaskan pada orang tua kita, yang mungkin bertanya padaku kenapa aku membunuhmu!...”


°°°

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2