
Rain dengan hati yang terus tertuju pada Bibi merasa tidak fokus mengajar hari ini. Sesekali dia menatap jam yang ada di dinding ruang kelas II itu. Hari ini rasanya jarum jam itu lambat sekali berputarnya. Rain menyapukan pandangannya ke seluruh kelas. Berurusan dengan anak-anak usia 7-8 tahun memang gampang-gampang susah. Beruntung Rain memang sangat menyukai anak kecil, jadi hari pertama kerja saat diminta menggantikan seorang guru yang sedang cuti melahirkan Rain sudah mampu menguasai emosi setiap anak yang berbeda-beda.
Pintu ruang kelas II diketuk oleh seseorang, meski sebenarnya pintu itu tidak ditutup walau hanya terbuka setengahnya. Rain berjalan mendekati arah pintu, ternyata yang datang adalah Bu Rika.
"Iya, Bu. Ada apa?" Tanya Rain seraya memainkan pulpen yang dipeganginya.
"Hari ini Anak-anak dipulangkan lebih awal saja. seluruh Guru dan pegawai akan ke rumah Bu Nila. Beliau meninggal setelah beberapa hari yang lalu melahirkan". Rain terperangah kaget menutup mulutnya yang menganga. Bu Nila adalah Guru yang mengajarnya digantikan oleh Rain hari ini.
"Kamu mau ikut, Rain?" Tanya Bu Rika.
"Eem gimana ya, Bu. Kerabat Saya juga sedang dirawat di rumah sakit dan sebetulnya saya juga terus saja kepikiran kerabat saya itu dari tadi" Jawab Rain tersenyum dengan wajah yang lebih mirip sedang meringis.
"Ooh gitu. Nggak apa-apa. Kamu temani saja saudaramu itu. Urus anak-anak ya. Setelah tugasnya selesai dipulangkan saja". Kata Bu Rika seraya menepuk bahu Rain dan berlalu.
Akhirnya Rain bernafas lega, bisa segera kembali ke rumah sakit.
"Anak-anak Ibu yang cantik dan ganteng, sudah selesai belum menulisnya?" Rain bertanya seraya menyapukan kembali pandangannya.
"Sudah, Buuuuuu". Anak-anak menjawab kompak.
"Waah hebat, pintar ya. Sini Dikumpulkan satu-satu ke meja Ibu. Besok setelah Ibu kasih nilai dikembalikan lagi. Satu-satu ya mengumpulkannya!" Jawab Rain segera duduk di kursinya.
Satu per satu mereka pun mengumpulkan tugasnya walaupun dengan suasana ribut. Dan, tibalah murid terakhir yang akan mengumpulkan tugasnya. Dia berjalan pelan seraya menunduk. Rain senyum-senyum saja melihat tingkah si anak yang bernama Yugo itu.
"Yugo, kalau jalan jangan menunduk Nak. Nanti tersandung!" Seru Rain saat Yugo sudah berada di hadapannya.
"Yugo kalau ketemu Ibu cantik suka malu, Ibu cantik mau terima ini?" Yugo dengan masih menunduk menyerahkan buku tugasnya sekaligus setangkai bunga mawar merah yang masih segar.
Rain tertawa kecil lalu mengacak rambut Yugo.
"Waah, makasih sayang. Kamu manis sekali. Ibu suka bunganya". Rain mengelus penuh sayang pipi Yugo.
"Kalau udah besar, Yugo mau lamar Ibu cantik". Katanya seraya berlari kembali ke tempat duduknya. Rain hanya tertawa. Lalu memberi pengumuman bahwa hari ini anak-anak dipulangkan lebih awal.
__ADS_1
****
Bibi sedang tidur saat Rain tiba di ruangan kelas VVIP itu. Suasana jadi terasa kaku saat ini, Ega yang sedang fokus dengan laptopnya melirik sebentar ke arah Rain yang sudah datang dengan setangkai mawar di tangan kirinya.
Apa memang di mata cowok-cowok loe sespesial itu Rain? baru tadi dokter itu yang terang-terangan bilang suka sama loe. Sekarang loe pulang membawa bunga. Sengaja banget Loe mau bikin Gue cemburu?
Batin Ega bersahutan.
Rain duduk ditepi ranjang Bibi dan mengusap punggung tangan Bibi seraya tersenyum tipis. Ponselnya berdering, panggilan masuk dari Ibu. Rain segera mengangkatnya.
📞Assallamuallaikum, Bu
📞Rain, maaf Ibu baru sempat telpon, gimana keadaan Bibi?
📞Alhamdullillah sudah membaik, Bu
📞Ya sudah Ibu ke sana sekarang ya.
Ibu memutus panggilan itu. Rain melirik ke arah Ega yang terlihat cuek. Dengan menghela nafas panjang Rain memanggil Ega.
"Mas".
Ega tidak menjawab, hanya menoleh sekilas dan kembali menatao laptopnya.
"Ibu mau ke sini, Mas. Aku belum pengen Ibu tahu tentang Kita. Mas bisa keluar sebentar? Aku tahu Mas tidak pandai berpura-pura". Kata Rain panjang lebar tanpa menatap Ega.
Jujur saja sejak kepulangan Rain tadi ingin sekali Ega menyapa istrinya itu. Tapi, demi melihat bunga mawar di tangan Rain dan juga pengakuan dokter tadi pagi membuat Ega rasanya kesal saja.
Ega tidak menjawab. Dia segera menyambar ponsel yang ada di meja, menutup laptopnya dan memakai hoodienya sambil berjalan.
Rain bernafas lega. Dengan cepat merapikan tempat tidur bekas Ega istirahat dan membersihkan beberapa sampah camilan di atas meja.
******
__ADS_1
Bibi bangun bersamaan dengan datangnya Ibu. Ibu menenteng sebuah papper bag. Dengan mata berkaca-kaca segera memberikan papper bag itu pada Rain dan memeluk Bibi yang tengah berbaring.
"Rain, Kamu gimana sih jagain Bibinya? Kamu ngerepotin Bibi ya?" Kata Ibu seraya mengurai pelukkannya dan menyeka air matanya.
"Bibi darahnya naik Bu dan bobotnya terlalu berat. Kemarin Rain yang salah karena membiarkan Bibi ngerjain semua sendirian sampai Bibi kecapena". Rain terpaksa berbohong. Tidak mungkin Rain bicara sejujurnya alasan Bibi bisa seperti ini.
"Kamu boleh Rain kerja, tapi jangan lupakan tugas seorang istri!" Seru Ibu dengan nada tinggi.
Rain mengangguk seraya megeluarkan isi papper bag itu dan terkejut melihat isinya.
"Ini sih makanan buat Mas semua, Bu". Rain mendengus kesal.
"Iya, Ibu sampai lupa. Kamu nanti minta dibelikan Mas mu makanan lain saja". Jawab Ibu tertawa kecil.
Rain hanya diam, memikirkan bagaimana jadinya jika Ibu tahu yang sebenarnya. Bibi saja sampai terkena serangan jantung ringan dan tekanan darah tinggi akibat memikirkan keadaan Rain. Apalagi Ibu yang jelas-jelas wanita yang mengandung dan melahirkannya. Wanita yang dengan kerja kerasnya membesarkan Rain.
"Neng, Aa mana?" Tanya Bibi membuyarkan lamunan Rain.
"Mas sedang keluar, Bi. Mas tadi nggak tahu kalau Ibu mau datang".
"Bibi harus bisa jaga kesehatan!" Ibu mengalihkan pandangan Bibi dari Rain.
"Iya, Makasih udah datang". Kata Bibi mengusap-usap tangan Ibu.
"Iya, saya minta maaf baru bisa ke sini. Dan nggak bisa lama. Lagi ada katering". Ujar Ibu seraya menengok ke arah pintu karena ada seseorang yang datang.
"Waah Mbak cantik sudah pulang?" Ternyata dokter itu lagi bersama dua orang perawat.
Ibu dan Rain segera duduk di sofa memberikan ruang pada dokter dan suster yang akan memeriksa Bibi.
****
Ikuti terus up nya yaa. Minta like dan votenya dong. Makasih banyak 😊
__ADS_1