Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Tiga hari berlalu, kondisi Ega berangsur membaik. Wajahnya kembali mulus walau sisa-sisa baret itu masih nampak di kedua pelipisnya.


"Yaah, baret nya ganggu pemandangan aja nih" Malam itu Rain yang sedang membersihkan wajah suaminya menggunakan kapas merasa kecewa dengan bekas luka yang mengering itu.


"Segitu cintanya sama wajah ini?" Ega yang duduk di depan meja rias membuka matanya yang sedari tadi terpejam atas suruhan Rain.


"Iyalah, Aku tuh jatuh cinta sama wajah ini saat pandangan pertama. Alisnya yang lebat, bola mata indah dengan bulu yang lentik, hidung mancung, bibir yang merah walau akhir-akhir ini merokok". Rain menelusuri setiap bagian wajah suaminya yang tampan dan terbingkai indah dengan rahang dan tulang pipi yang tegas.


"Aku tuh kadang minder sama Kamu. Aku yang pendek ini nggak cantik-cantik amat, merasa beruntung aja bisa dapetin Kamu". Rain tertawa kecil kembali menikmati wajah tampan itu tanpa perasaan takut dosa.


"Kamu cantik, cantik banget. Terbukti dari banyaknya cowok yang memuja Kamu. Bahkan murid Kamu sendiri juga suka kan?" Ega menangkup pipi Rain dengan kedua tangannya.


"Iya sih emang, kalau nggak cantik banget juga mana mau Kamu sama Aku. Semua cowok sama aja!" Rain mengerucutkan bibirnya.


"Duuh pengen cium dong bibirnya, udah boleh belum?" Ega mendekatkan wajah ke wajah Rain.


cup!


Bibirnya berhasil mencium, namun bukan bibir Rain. Melainkan botol tonner yang Rain gunakan untuk membersihkan wajah Ega. Tangan Rain terlalu sigap mengambil botol itu dan meletakkan di bibirnya tepat saat Ega hendak mendaratkan ciumannya.

__ADS_1


"Sayang, tega banget sih!" Ega mencebikkan bibirnya dan Rain malah lari dari kamar meninggalkan suaminya itu. Ega mendengus kesal beranjak dari kursi dan menjatuhkan tubuhnya tengkurap ke atas kasur.


Rain berlari-lari menghampiri Ibu yang sedang menonton televisi.


"Kenapa lari-lari, sih?" tanya ibu.


"Takut dikejar monster". Rain tertawa kecil membayangkan kejadian barusan.


"Rain, Kamu masih perawan?" Ibu bertanya tanpa basa-basi. Pasalnya tiga hari di rumah Ibu mereka sepertinya tidak melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan. Rain hanya mengangguk malu.


"Rain, Allah itu melaknat seorang istri yang menolak keinginan suaminya". Ibu bicara dengan nada yang serius.


"Rain cuma merasa nggak puas aja sama pernikahan Rain, nggak ada resepsi. Rain belum siap Bu melakukan itu. Rain takut". Rain masih menunduk meremas rok yang dipakainya.


"Maafin Aku, Mas". Rain berkata lirih lalu beranjak meninggalkan ruang tv menuju kamarnya.


🍃🍃🍃


Sesuai kesepakatan kemarin, Rain dan Ega pagi ini sudah bersiap hendak kembali pulang ke rumah mereka. Pak Riko sudah datang sejak 15 menit yang lalu. Diteras dengan ditemani Ibu, Pak Riko Menunggu Rain dan Ega yang masih sarapan.

__ADS_1


"Jadi dari awal Loe nggak bisa nebak Ega itu anak siapa? jelas-jelas mukanya mirip sama Rakha" Pak Riko membuka percakapan mereka.


"Ngga ketebak, cuma Gue akuin dari awal itu anak emang ganteng banget sih. Sampe bisa bikin Rain love at firt sight tau nggak Loe". Ibu tertawa kecil mengingat bagaimana perjalanan cinta mereka.


"Liat Rain dan Ragga, berasa liat Loe sama Rakha dulu. Bedanya Rain lebih malu-malu dan polos banget ya?" Ujar Pak Riko lalu menyeruput kopi yang dibuatkan oleh Ibu.


"Iya Ega emang memperlakukan Rain sangat manis, persis sama Rakha dulu ke Gue. Cuma Rain itu udah Gue cetak jadi anak yang bener-bener harus bisa jaga diri. Bahkan dia masih virgin sampai sekarang". Ibu berbisik di akhir kalimatnya.


"Pantes tadi Gue lihat muka bos Gue ditekuk, kaya nanggung beban hidup yang berat banget" Pak Riko tertawa puas.


"Siapa yang beban hidupnya berat?" Teriak Ega yang keluar menggandeng tangan Rain yang terlihat manis dengan pashmina pink nude dan gamis lucu berwarna senada.


"Itu tadi tukang angkut sampah, kasiahan jadinya". Ujar Pak Riko beralasan.


"Kasih duit lah Pak kalau anda kasihan". Kata Ega menatap tajam ke arah Pak Riko.


"Uang Saya habis buat bikin Mall di Malang Pak". Jawab Pak Riko tersenyum dan sengaja menyindir Ega.


"Pak Riko tinggal periksa saldo terakhir rekening Bapak. Tentukan sendiri di mana mau bangun mall selanjutnya". Ega langsung peka.

__ADS_1


"Tentu, Mas. Saya sudah menaruhkan nyawa Saya karena disuruh pulang cepat kemari". Pak Riko tertawa lalu segera menyambar kunci mobil di meja sengaja menghindar ocehan bos kecilnya itu. Ibu dan Rain tertawa melihatnya dan Ega hanya memutar bola matanya kesal.


Setelah berpamitan pada Ibu keduanya meninggalkan rumah Ibu dengan perasaan bahagia campur haru. Rain dengan segenap hatinya berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjadi istri yang selalu menuruti perintah suaminya, tidak mau dilaknat oleh Allah.


__ADS_2