Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Bandung


__ADS_3

Pagi sudah menampakkan keberadaannya. Kicauan burung jelas terdengar di luar kamarnya namun Rain enggan sekali beranjak. Dia kembali ke bawah selimutnya seraya membaca novel kesukaannya sambil tiduran. Suaminya yang baru masuk setelah selesai dari mesjid untuk shalat shubuh hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan istrinya. Rain tertawa-tawa sendiri sambil terus membaca novel di tangannya. Dia sampai mengabaikan keberadaan suaminya.


Ega menarik paksa novel dari tangan istrinya.


"Ngapain sih ganggu aja, Mas" Rain memasang wajah kesal dengan segera mendudukkan tubuhnya.


"Ini bukan waktu yang pas untuk membaca novel, masih terlalu pagi". Ega menaruh novel itu di atas meja belajar. Rain tidak menjawab malah meraih ponsel yang dia taruh di bawah bantal. Membuka aplikasi Instagram dan mengetikkan nama seseorang dalam sebuah kolom pencarian.


Sebuah akun yang sangat Rain idolakan muncul. Wajahnya berseri-seri melihat-lihat postingan sang idola.


"Mukanya cocok banget sama tokoh dalam novel yang kubaca". Rain bicara sendiri tanpa peduli pada suaminya.


"Kamu kenapa sih tumben banget males". Ujar Ega mendekati istrinya.


"Sekali-kali boleh kan, badanku tuh lemes banget. Nggak sanggup rasanya pergi dari sini". Rain menepuk-nepuk kasur.


"Kan Kita ke Bandung pagi ini?" Ega mengelus rambut istrinya yang berantakan dan masih basah itu.


"Ini kan masih setengah enam, sedikit lagi lah kasih waktu". Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel Rain masih tertawa-tawa sendiri dan terus bergumam.


"Satu-satunya artis Korea yang Aku tahu ya cuma Kamu".


Ega mengernyitkan dahi, penasaran sekali dengan apa yang dilihat istrinya sampai mengabaikan keberadaannya. Ega dengan cepat merebut ponsel itu dan matanya terbelalak saat melihat lanyar ponsel yang menampilkan beberapa foto pria.


"Siapa nih?, Kamu berani simpen foto lelaki selain Aku?"


"Iih apaan sih, itu cuma artis Korea! Bukan laki-laki lain". Rain berusaha mengambil ponselnya. Namun, Ega mengangkat tangannya sehingga sulit sekali Rain menggapainya.


"Katanya nggak suka sama beginian!" Ujar Ega masih mencegah Rain mendapatkan kembali ponselnya.


"Aku sukanya dan tahu nya sama Dia doang, cuma satu nggak bisa dibilang pencinta drakor kan?" Rain menyerah dengan menjatuhkan kembali badannya di atas kasur.

__ADS_1


"Kamu mikirin Dia? suka? Dia ganteng?" Ega mendekatkan layar ponsel ke wajah Rain dan memegangi kedua tangan Rain agar tidak merebut ponsel itu.


"Cuma suka nggak apa-apa kan? Masa gitu aja cemburu?" Rain diam saja tak melakukan pergerakan.


"Awalnya suka, lama-lama Kamu akan mulai membandingkan denganku. Kamu memikirkannya bahkan dihadapanmu ada suamimu". Ega melempar ponsel Rain ke tengah kasur membuat Rain tersadar bahwa suaminya sedang marah.


Ega pergi meninggalkan Rain yang mematung melihat punggung suaminya menghilang di pintu kamarnya.


"Semarah itukah, cuma artis lho?". Rain menenggelamkan wajahnya di bawah selimut. Tubuhnya benar-benar menolak melakukan aktifitas.


🍂🍂🍂


Sudah dhuhur saat Mereka tiba di Bandung, tepatnya di perkebunan teh dengan sejuta kenangan itu. Persis yang ada di benak Rain. Perkebunan itu sangat luas membentang dengan hijau membuat mata segar saat memandangnya. Rumah dengan bangunan gaya Belanda itu masih terlihat sama seperti dulu saat Ibu pergi meninggalkannya.


Ega, Ibu, Pak Riko dan Rain masih berada di dalam mobil dan enggan turun padahal mereka sudah sampai di halaman rumah itu. Ibu terlihat menyiapkan dirinya untuk berhadapan dengan masa lalunya. Sesekali matanya terpejam dan tangannya mencengkram kuat rok yang dipakainya.


"Ibu pasti kuat, Kita keluar sekarang ya?" Rain yang duduk di kursi belakang memegang bahu Ibu. Ibu mengangguk.


Mereka semua turun dari mobil. Rain mengembangkan senyumman karena tempat itu benar-benar sesuai apa yang ada dalam bayangannya. Rumah dengan gaya belanda dan dikelilingi kebun teh menghampar luas. Beberapa orang keluar dari rumah, seorang wanita seusia Ibu dan seorang kakek yang menggendong anak kecil. Mungkin cucunya.


"Rikoo". Pekik Mereka saat sudah berada di dekat tamunya. Ibu yang sedari tadi menundukkan wajah pelan-pelan menaikkan kepalanya.


"Mang Odang, Alis?" Ibu mengenal dua sosok itu.


"Zein?" Mereka berdua serentak menyebut nama Ibu. Ibu mengangguk lalu entah apa yang mendorong mereka sehingga membuat ketiganya berpelukkan.


"Lama sekali Kamu pergi, kenapa hilang seperti ditelan bumi. Bahkan Kamu tega tidak mengundang Kamu saat pernikahan itu". Protes Alis dan Mang Odang


"Sudahlah, Ayo masuk". Mang Odang mengajak tamunya masuk.


Mereka semua masuk ke dalam rumah itu. Ibu sekilas memandang ke arah kursi kayu di mana tempat terakhir Ibu memadu kasih dengan Rakha. Rain yang mengerti kesedihan Ibu, menggengam tangan Ibu kuat.

__ADS_1


Suasana rumah itu masih sama seperti dulu, perabotannya masih sama. Bahkan di sana masih tersimpan poto pernikahan Rakha dan Rosa. Rumah itu memang sekarang beralih atas nama Rosa meski Rosa sendiri sudah tiada.


Rain tersenyum kembali melihat isi dari rumah itu, ingin rasanya Dia menetap di sini.


"Kalian berdua menikah?" Alis yang baru kembali daei dapur membawa beberapa cangkir teh untuk tamunya menunjuk Riko dan Ibu bergantian.


"Lo pikir Lis? Dari Rakha masa harus beralih ke Dia" Jawab Ibu memandang tajam Pak Riko yang cengengesan.


"Eh mereka berdua pasti anak-anak Loe? cantik dan ganteng. Yang cowok bisa mirip Rakha gitu ya?" Tanya Alis duduk dan menaruh nampan di pangkuannya.


"Dia anak Rakha dan Rosa". Jawab Pak Riko membuat Mang odang dan Alis terperangah.


"Rosa bilang anaknya meninggal?" Alis mengamati wajah Ragga dan ada bola mata Rosa pada mata Ragga.


"Tipu daya Rakha, Dia sengaja ngelakuinnya buat balas dendam sama Rosa". Jawab Pak Riko.


Mang Odang mendekat ke arah Ega dan meraih kedua pipi Ega.


"Kamu anak Rosa? Kamu anak keponakanku?" Mang Odang yang wajahnya sudah keriput di mana-mana tidak bisa menyembunyikan rasa kaget dan senangnya. Ega yang bingung harus bersikap bagaimana hanya mengangguk tersenyum.


Alis ikut mendekat dan mendekap bahu Ega. Jadilah anak dan Ayah itu memeluk Ega bersamaan. Rain melihat pemandangan itu dengan hati bahagia. Begitupun Ega, akhirnya Dia bisa merasakan bagaimana hangatnya sebuah keluarga.


"Aku terlalu miskin sehingga membiarkan Rosa dinikahi pria beristri waktu itu. Gara-gara Aku, pasti hidupmu menderita tanpa seorang Ibu". Mang Odang mengurai pelukkannya.


"Tapi kalau Papa sama mama nggak nikah, Aku nggak akan bisa punya suami setampan ini Kek". Rain berusaha mengalihkan perhatian mereka agar bisa melihat juga keberadaannya.


"Kamu istrinya? Aku pikir... Mang Odang menggantung kalimatnya karena dipotong oleh Rain


"Kenalin Kek, Rain khadija. Putri cantiknya Ibu Zein dan Ayah Reza. Sekarang jadi cucu mantumu". Rain meraih dan mencium tangan Mang Odang dan beralih melakukan hal yang sama pada Alis.


Lihatlah Dia, bahkan dengan polosnya bisa merubah suasana. Bagaimana bisa Aku tidak selalu jatuh cinta padanya?

__ADS_1


Batin Ega menatap dengan senyum tipis ke arah istrinya yang sekarang dipeluk Mang Odang dan Alis.


__ADS_2