Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Namaku, Rain


__ADS_3

Sampai di rumah sakit Rain segera merapikan bawaannya dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Ega duduk di sofa dan menyalakan laptopnya. Bibi terbangun mendengar suara gemericik air dari dalm kamar mandi.


"A". Panggil Bibi pada Ega.


Ega segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Bibi.


"Bi, gimana keadaannya. Maaf ya ini gara-gara Aku". Ega menggenggam tangan Bibi menatapnya penuh sayang.


"Aku janji, Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan cari tahu kejadian sebenarnya. Tapi, janji dulu Bibi harus selalu sehat" Ega mulai meneteskan air mata.


Rain keluar dari kamar mandi sambil memegangi perut merasakan nyeri datang bulan. Rain tersenyum melihat pemandangan di hadapannya. Bibi yang tersenyum tangannya digenggam Ega dan Ega yang sesekali mengusap ujung matanya.


"Bi, Bibi kenapa bangun?" Rain tersenyum berjalan ke arah bed Bibi seraya memegangi perutnya.


"Bibi tadi denger suara gemericik air, Neng. Kirain udah di surga". Bibi tertawa kecil. Rain langsung memeluk Bibi, menghujani wajah Bibi dengan ciuman.


"Bibi nggak boleh ngomong gitu. Bibi harus terus sehat. Aku nggak mau lagi pokoknya lihat Bibi kaya gini"


Bibi meraih pipi Rain, menghapus air mata Rain.


"Jangan nangis terus, Bibi akan baik-baik saja kalau Neng juga bisa selalu bahagia dan tersenyum".


Rain mengangguk patah-patah. Lalu pandangannya beralih ke arah Ega yang sedari tadi memperhatikan perlakuan Rain pada Bibi. Jadilah mereka saling memandang. Ega tersentuh sekali dengan kasih sayang yang Rain tunjukkan untuk Bibi. Bagi Ega, Bibi adalah segalanya. Bibi adalah orang yang paling penting dalam kehidupannya.


Bibi yang melihat keduanya saling melempar pandang, tersenyum bahagia. Ternyata sakitnya Bibi membawa hikmah bagi keduanya. Apalagi tadi Ega berjanji ingin mencari tahu kejadian sebenarnya di masa lalu tentang orangtuanya.


"Mas, besok ke kantor nggak?" Tanya Rain membuang pandangannya.

__ADS_1


"Kenapa?" Alih-alih menjawab Ega malah bertanya balik.


"Eemm itu, Mas. Sebelumnya maaf banget. Mas udah tahu kan, sekarang Aku jadi Guru bantu. Besok Aku nggak bisa izin soalnya ada kelas juga. Boleh ya Mas titip Bibi. Aku usahain pulang cepet". Jawab Rain panjang lebar seraya menunduk padahal dari tadi Ega terus memandangnya.


"Iya, boleh". Hanya itu jawaban Ega. Dan sudah membuat Rain tersenyum dengan mata berbinar.


"Makasih, Mas". Ega hanya mengangguk seraya beranjak untuk mandi.


*******


Pagi-pagi saat Rain hendak berangkat sementara Ega masih enggan beranjak dari tempat tidur. Padahal sudah bangun dan sejak tadi dengan mata sedikit terpejam memperhatikan kegiatan Rain.


Sebelum benar-benar berangkat Rain menghampiri Bibi yang baru saja terbangun.


"Bi, nggak apa-apa ya Rain tinggal. Ada Mas yang nemenin". Rain mengusap punggung tangan Bibi. Lalu datanglah dokter bersama dua orang perawat yang akan memeriksa Bibi. Rain menyingkir memberi ruang pada dokter itu. Selesai mengecek semuanya dua suster meninggalkan ruangan itu namun tidak dengan Dokternya.


"Lebih baik, tekanan darahnya juga sudah turun namun belum normal. Jangan dibuat stress. Harus dikasih yang bikin bahagia-bahagia saja". Jawab dokter seraya membetulkan letak selang infus.


Rain mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Mbak cantik mau ke mana, bekerja?" Tanya dokter.


"Dok, udah kubilang namaku Rain. Bukan cantik. Panggil Rain aja".


"Lho, kan Mbaknya memang cantik?" Ujar dokter itu membuat Bibi tertawa kecil sementara Rain hanya menghela nafas panjang dan Ega yang juga mendengarnya cukup merasa sangan terganggu. Mungkin cemburu.


"Ya, udah gimana dokter aja. Saya permisi. Bi Aku berangkat ya". Rain lau meraih tangan Bibi dan menciumnya juga mengecup dahi Bibi dan pergi.

__ADS_1


Setelah Rain benar-benar keluar dari ruangan, Domter itu kembali bicara.


"Rain itu siapanya Bibi. Saya pertama kali melihatnya langsung jatuh hati. Cantiknya alami dari dalam".


Bibi tersenyum.


"Maksudnya dokter naksir?, Neng Rain itu masih kecil. Baru 17 tahun. Nah, dokter udah dewasa udah jadi dokter juga"


"Boleh ngga, Bi saya naksir sama Rain?". Tanya dokter itu menggoda Bibi.


"Nanti Bibi tanya dulu sama Neng Rain". Jawab Bibi seraya melirik ke arah Ega. Bibi sebenarnya sengaja bicara seperti itu karena Bibi tahu Ega itu hanya pura-pura tidur.


"Ya, sudah. Saya permisi. Nanti siang saya periksa. Demi bertemu Rain saya rela merawat Bibi secara khusus". Ujar dokter itu seraya pergi meninggalkan ruanga dan menutup kembali pintu.


Ega segera beranjak, Dia langsung memasang wajah masam.


"Bi, kenapa nggak dibilangin ke dokter itu Aku suaminya Rain?"


Bibi tertawa melihat wajah kesal Ega yang terlihat lucu.


"Aa sendiri kemarin bawa perempuan ke rumah dan bilang itu pacar Aa. Jadi biarkan saja jika sekarang ada laki-laki yang mau jadi pacar Neng Rain".


"Perempuan itu bukan pacarku, Aku akan bawa dia ke hadapan Bibi untuk menjelaskan semuanya". Kata Ega seraya meninggalkan Bibi. Namun belun sempat benar-benar pergi Bibi kembali berkata


"Ingat A, kalau Aa terus-terusan nyakitin Neng Rain. Bibi sendiri yang akan menyuruh Neng Rain pergi. Ini ancaman". Bibi tersenyum tipis.


Ega merasa gundah dengan perkataan Bibi barusan, kembali melangkah dengan kasae mwnuju kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2