
Seperti malam-malam sebelumnya, Rain akan masuk ke kamar setelah pukul 21:00. Sudah menjadi kebiasaannya sebelum masuk selalu mengetuk pintu dan mengintip sebentar. Dilihatnya Ega sudah berbaring dengan masih mengenakan pakaian kerjanya. Rain melangkah pelan dan duduk di tepi ranjang di samping Ega. Rain mengelus lembut rambut suaminya itu. Dia pandangi wajah tampan itu lekat-lekat. Mata itu, sudah lama tidak pernah menatapnya. Rain mencium kedua mata terpejam Ega bergantian.
"Kita dekat namun rasanya jauh sekali. Kita seatap namun rasanya rindu sekali". Gumam Rain mulai tak bisa menahan tangisnya. Air matanya lolos bahkan sampai mengenai pipi Ega. Merasakan ada sesuatu yang basah di pipinya, merasakan ada sura isak seseorang. Tidur Ega terganggu. Dia membuka mata dan langsung mendorong tubuh Rain dengan kasar.
Rain yanh tidak siap menerima serangan, tubuhnya tersungkur di lantai.
"Loe lama-lama bertingkah, ya. Mulai malam ini Loe nggak usah tidur di sini. Sana, tidur di ruang tamu". Ega berdiri di hadapan Rain dengan berkacak pinggang.
Rain tidak mampu menjawab, menangis tanpa sura. Karena Rain diam saja dan tidak bergerak Ega kembali berteriak
"cepet beresin barang-barang Loe, Gue kasih waktu sejam. Gue balik Loe dan barang-barang Loe udah nggak ada di kamar Gue".
Ega dengan langkah besar meninggalkan Rain yang merasakan nyeri menjalar di hatinya. Entah Ega hendak pergi ke mana malam-malam begini.
Sambil mengusap air mata, Rain mengeluarkan beberapa pakaiannya di lemari ke dalam koper. Dia juga merapikan skincare nya yang tertata rapi di meja rias. Rain segera menghapus sisa-sia air mata yang menganak sungai di pipinya. Diraihnya tas yang berisi pakaian barunya dari Ibu yang belum sempat dimasukkan ke lemari. Dengan langkah gontai Rain menyeret kopernya. Menuruni anak tangga dengan perasaan hampa.
Rain membuka kamar tamu yang memang sudah sering Dia gunakan.
"Aku bingung harus mulai dari mana untuk tahu sebenarnya ceritanya seperti apa. Aku nggak yakin Ibu wanita seperti itu" Rain bicara sendiri seraya duduk di depan meja rias.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk disusul suara Bibi memanggil
__ADS_1
"Neng, Bibi boleh masuk?"
Rain segera membuka pintu, memastikan tidak ada lagi sisa air mata di pipinya.
"Neng, ngga apa-apa? Tadi Bibi dengar A ega teriak-teriak".
Rain menggeleng seraya tersenyum dan membisik di telinga Bibi
"Bibi doa kan saja, supaya Mas ku itu cepet baik lagi"
Bibi memeluk Rain erat, menyandarkan kepalanya di dada Rain. Tubuh Bibi bergetar hebat dengan tangisan yang memecah sunyi di malam itu. Rain menuntun Bibi untuk duduk di tempat tidur tanpa melepas pelukkannya.
Rain mengelus-elus pundak Bibi.
"Kita bicarakan saja sama Ibu" Kata Bibi dengan mengusap pipinya.
"Jangan, Bi. Kita cari tahu sendiri aja"
"Caranya gimana, Bibi juga nggak tahu".
"Kita tanya Pak Riko, Bi. Nanti kalau Pak Riko ke sini Aku mau tanyain"
__ADS_1
Bibi mengurain pelukkannya dan menatap Rain dalam
"Sabar, ya"
Rain mengangguk seraya mencubit hidung bulat Bibi lalu keduanya tertawa.
********
Setelah membuat sarapan Rain tidak langsung ke belakang, Dia kembali ke dalam kamar sebab hendak siap-siap ke sekolah untuk mengambil ijazah. Setelah mandi, Rain mengeluarkan pakaian barunya dari dalam tas.
Rain mencoba mengambil gamis dengan potongan lucu berwarna lilac lalu memakainya. Ukurannya sangat pas di badan Rain, tidak terlalu ketat. Rain mulai mengikat rambutnya. Dengan perlahan dia memakai inner sesuai yang sudah Ibu ajarkan. Rain mengambil pashmina broken white lalu membentangkannya dan meletakkannya di atas kepala, menutup sempurna rambutnya.
"Bismillah, Ya Allah mudahkanlah" Bibir mungilnya bergumam seraya bergetar.
Rain mematut dirinya di cermin. Rasanya seperti lahir kembali. Ada perasaan aneh yang susah dijelaskan saat melihat sosok dalam cermin dengan balutan hijab itu. Rain memegangi pipinya sendiri lalu tersenyum dan memperlihatkan satu lesung manis di pipi sebelah kirinya.
Tok
tok
tok
__ADS_1
Rain mengalihkan pandangan pada pintu yang diketuk, dan berjalan pelan untuk membuka pintu.