
Sekali lagi Aku mau bilang makasih buat yang udah meluangkan waktu mampir. Novel ini sedang dalam tahap revisi penulisan. Happy reading.
Rain dan Ega segera keluar dari Mobil. Rain takut sekali, Dialah pak Rakha Hadiwijaya. Papa dari kekasihnya sekaligus pemilik yayasa. Pak Rakha menatap Rain dan Ega menyelidik. Kedua tangannya di masukkan di saku celananya.
"Dasar anak nakal, masih pagi sudah pacaran. Di dalam mobil lagi." Seru Pak Rakha.
Ega santai saja, sementara Rain, dia sudah ketakutan setengah mati. Ega segera meraih tangan Papanya dan menciumnya.
"Gimana kabarnya pa?" tanya Ega dengan terpaksa.
"Papa baik-baik saja, maaf baru bisa mengunjungimu."
Ega tersenyum, "Aku ngerti, Papa kan SIBUK". Ega sengaja mengucapkan kata sibuk dengan penuh penekanan.
Pak Rakha segera mengalihkan pembicaraan. Pandangannya tertuju pada Rain yang sedari tadi berdiri di belakang ega.
"Siapa gadis cantik ini?"
Rain segera meraih tangan Pak Rakha dan menciumnya. Aah sial, Ega merasa cemburu pada Papanya sendiri.
"Namanya Rain, Dia pacarku." Ega menjawab dengan lantang. Pak Rakha tertawa riang bertepuk tangan.
"Seleramu tinggi," katanya menepuk bahu Ega.
"Kenalkan saya papanya Ragga, saya calon mertuamu."
Ahh tidak anak tidak bapaK sama saja suka sekali membuatku meleleh, batin Rain.
"Papa sengaja menemuiku atau memang ada urusan di sini?" tanya Ega.
Rain melihat ada yang aneh dengan kelakuan anak dan bapak ini, tidak seperti Dirinya dan Ibunya.
"Papa mau menikah lagi, Ga. Minggu depan Kamu datang ya. Nanti papa share lokasinya."
Raga kaget dan langsung protes. "Pa, kenapa sih?"
__ADS_1
Papanya hanya tertawa "Papa juga sepertimu, Nak. Butuh pendamping."
Ega menatap penuh amarah.
"Sudahlah, Papa sibuk. Ajak pacarmu nanti ke sana ya."
Pak Rakha berlalu meninggalkan keduanya.
Ega mengusap kasar wajahnya, emosi sekali Dia.
"Ga, kenapa?" Rain mulai merasa takut. Ega tak menjawab, berusaha menguasai diri dari emosi.
"Ga, kamu jangan gini dong. Aku takut."
"Peluk Aku Rain!" raut wajah Ega masih penuh emosi. Rain menggeleng.
"Rain, please. sebentar!"
Rain mengangguk demi melihat Ega yang mulai berkaca-kaca matanya. Rain berhambur ke pelukan Ega. Ega memejamkan matanya dalam pelukan Rain. Debaran jantung Rain yang seperti melodi indah menurut Ega itu, membuatnya nyaman. Ega mulai merasakan ketenangan. Ega mengeratkan pelukannya. Seketika amarahnya sirna.
Rain mulai merasa tidak enak jika ada yang melihat mereka seperti ini. Ega mengangguk melonggarkan pelukannya, lalu melepaskannya walaupun berat. Rain meraih kedua pipi Ega dengan tangannya dan berkata "kalau kamu percaya, Aku siap dengerin keluh kesah mu. Nanti pulang sekolah mau kan ceritakan padaku?" Ega mengangguk, meraih kedua tangan Rain lalu
menggenggamnya erat.
"Aku beruntung memilikimu. I love You, Rain".
Rain salah tingkah. Dia belum terbiasa dengan kalimat itu. Ega senang sekali melihat gadisnya salah tingkah, wajahnya memerah kepalanya menunduk
"Rain, koq nggak dijawab?"
Rain nyengir kuda.
"I love You too, I love You more." Rain menatap dalam ke mata Ega. Sontak saja membuat Ega kembali memeluknya. Rain tersenyum dalam pelukan Ega.
Ega melepaskan pelukannya sebab bel sudah berbunyi. Segera mereka menuju kelas untuk menaruh tas dan segera seluruh siswa berhamburan ke lapangan untuk upacara bendera.
__ADS_1
***************************
Pelajaran usai bersamaan dengan turunnya hujan yang sangat deras. Rain segera memakai kembali sweater tebalnya. Sela masih belum masuk sekolah, Rain merasa rindu pada Sela. Seperti biasa Rain dengan telaten membereskan alat tulisannya dan itu menjadi pemandangan indah untuk Ega.
"Selesai". Gumam Rain tersenyum manis.
"Senyumnya jangan manis-manis Yang, nanti aku diabet lho," ucap Ega.
Rain hanya berdecak kesal, "Kamu gomal aja terus! "
"Bukqn gombal tapi kenyataan." Ega beranjak, mengajak Rain dengan cara menarik pergelangannya. Rain menggeleng. "sebentar, Aku pengen telpon Sela dulu." Ega mangangguk dan kembali duduk.
"Assalluallaikum, Sel. Kamu masih di Surabaya?"
"Gue baru sampai rumah nih, Rain"
"Besok udah bisa sekolah dong?"
"Iyaaa, Lo kangen ya?"
"Iyaaaaa, ya udah sampai besok ya. Assallamuallaikum"
"waalaykum salaam."
Rain mematikan panggilannya lalu beranjak.
"Ayo pulang!"
Ega yang sudah berdiri menahan tangan Rain
"Aku yang ke rumah kamu atau kamu yang ke rumah aku?"
Rain ingat dengan janjinya yang akan mendengar Ega bercerita. Rain berfikir sejenak
"Rumah kamu aja, soalnya Ibu nggak ada. Nggak enak kalau berduaan doang."
__ADS_1
Ega mengangguk, keduanya segera ke luar kelas. Berjalan beriringan membuat siswa dan siswi yang menaruh hati pada Ega ataupun Rain menatap iri. Mereka berdua terus melangkah tanpa menghiraukan tatapan itu. Peduli apa, jatuh cinta membuat dunia serasa milik berdua bukan?.