
Bibi malah tertawa terbahak-bahak membuat Ega dan Rain saling melempar pandang.
"Bibiiiii" teriak keduanya, sadar Bibi sedang menjahili mereka.
"Atuhda, suami istri tapi kayak orang yang baru kenal aja. Diem-dieman, tatap-tatapan. Pasti itu teh dalam hati saling bicara" Kata Bibi menghentikan tawanya lalu duduk menghadap meja makan.
Ega dan Rain juga ikut duduk. Awalnya Rain ingin pikir Wga tidak keluar kamar sepagi ini. Rain tidak ingin semakin membuat Ega membencinya maka dari itu Rain berusaha menghindar. Ega tempo hari sempat bilang tidak ingin melihat Rain, kan?
"Ayo pada sarapan, jadi pada diem" Bibi memecah lamunan Rain dan Ega.
"Bi, inget. Jangan marah-marah. Inget tensi Bi" Kata Rain menggoda Bibi dengan mencolek dagunya.
"Iya, Bi. Bibi makannya juga harus dijaga ya. Aku udah buatin Bibi sarapan khusus tuh". Rain menunjuk tumis brokoli dan ikan tuna panggang yang Dia taruh di satu piring.
Bibi menatap penuh haru ke arah Rain, Ega juga. Ketulusan Rain terpancar dari wajahnya yang selalu cantik. Rain yang lembut dan meneduhkan saat dipandang. Hati Ega tiba-tiba terasa nyeri mengingat dua bulan terakhir memperlakukan Rain dengan kasar.
"Makasih ya, Neng. Bibi sayang banget sama Neng Rain". Ujar Bibi seraya mengusap air matanya yang mulai terjatuh. Rain mengangguk penuh arti dan tertawa kecil.
"Aku berangkat, ya. Aku udah sarapan tadi". Rain segera beranjak berdiri dan menyalami Bibi.
__ADS_1
"Mas, duluan ya. Makan yang banyak. Hati-hati di jalan. Semangat ya, Mas" Rain tersenyum, tanpa mendapat jawaban dari Ega Rain pergi setelah mengucap salam sambil berlari kecil. Menyembunyikan perasaanya yang kacai. Ingin sekali Rain mencium tangan suaminya itu. Ingin sekali rasanya berangkat bersama. Ingin sekali rasanya mendapat kecupan hangat. Rain berjalan membawa semua keinginannya sambil sesekali mengusap air mata yang terus berjatuhan.
Ega menghela nafas setelah kepergian Rain. Dadanya terasa sesak. Ega memejamkan matanya, teringat masa-masa pacaran dulu. Di mana cintanya yang mendalam terhadap Rain. Di mana keinginannya yang selalu ingin bersama dengan Rain. Amarah dan dendam dalam dirinya terus berontak. Ega seperti memiliki dua hati yang berlawanan. Satu, cinta yang mendalam. Dan satunya, benci serta dendam yang mengakar.
Ega akhirnya memakan sarapannya dengan susah payah menelannya, dadanya masih sesak. Bibi tidak bicara lagi karena melihat raut wajah Ega yang sangat dingin dan tatapan kosong, namun tajam.
*********
Malam nya selesai makan Bibi dan Ega duduk bersama di ruang tv sementara Rain sedang menyetrika baju di ruang belakang.
Ega terus memandangi pintu kamar Rain yang tertutup rapat.
"Siapa juga yang cari Rain" Jawab Ega seraya menaikkan volume AC di ruangan itu karena sedari siang cuaca memang panas.
"Aa nggak mau lihat neng Rain pakai tangkop dan celana pendek doang?" Bibi lagi-lagi menggoda. Perkataan Bibi justru mengingatkan Ega pada saat pertama berkunjung ke rumah Rain. Ega tersenyum kecil.
"Udahlah Aku mau ke kamar, Bibi ngaco".
Ega beranjak dari ruangan itu. Namun saat hendak menaikki tangga, entah kenapa kakinya malah ingin melangkah ke ruang belakang. Ega melirik sebentar ke arah ruang tv. Bibi masih asyik menonton. Ega mengendap-endap pergi ke ruang belakang. Dari balik pintu Ega melihat Rain yang sedang menyetrika sambil bersenandung.
__ADS_1
Deg.
Jantung Ega melompat-lompat. Benar kata Bibi Rain membuka hijab bahkan mengikat tinggi rambutnya. Rain hanya menggunakan tanktop dan celana pendek. Ega rasanya mengalami de javu.
"Cantik" Gumam Ega tanpa sadar dengan ucapannya. Entah apa yang membuat Ega ingin bergerak, tangannya sudah membuka pintu dan berjalan ke arah Rain. Rain yang merasa melihat bayangan seseorang segera mematikan setrikanya dan membalikkan tubuhnya.
"Mas, ngapain ke sini?" Tanya Rain mengerenyitkan dahi.
"Eh itu, Aku cari kaos kaki buat besok kerja" Ega menjawab asal-asalan karena melihat beberapa kaos kaki yang terlipat rapi di keranjang.
"Ooh, iya ini ada. Aku baru selesai setrika. Nanti Aku bawa ke kamar Mas". Jawab Rain tersenyum lalu mengangkat keranjang pakaian itu.
"Boleh kan Aku ke kamar merapikan pakaian Mas?" Tanya Rain seraya menunjukan keranjang pakaian yang dia bawa.
"Boleh, biar Aku aja yang bawa keranjangnya". Ega mengambil keranjang itu dari tangan Rain.
"Ayo, Kamu jalan duluan. Bukain pintu kamarnya".
Rain mengangguk lalu berjalan tanpa sadar sedang berpakaian seperti apa.
__ADS_1