
Pukul 04:00 dini hari, Pak Riko membawa kembali Mawar ke hadapan Pak Rakha. Mawar dengan keadaan yang kusut berusaha meminta maaf pada Pak Rakha.
"Mas, tolong maafkan Aku!"
Pak Rakha tanpa ampun menampar Mawar.
"Seharusnya Kamu berfikir dulu sebelum bertindak. Kamu fikir saya tidak tahu tentang kelakuanmu yang merayu putraku. Aku sudah maafkan, dan pura-pura tidak tahu. Tapi, Kamu malah main serong di belakangku. Itu namanya penghinaan." Dengan suara bergetar Pak Rakha bicara sambil mencengkram kedua pipi Mawar dengan tangan kirinya.
"Aku tidak suka penghinaan dan pengkhianatan, Kau tahu. Istri pertamaku mati di tanganku karena berusaha menghianatiku. Lalu apa yang harus kulakukan untuk manusia sepertimu?" Pak Rakha bicara dengan penuh penekanan.
Pak Riko hanya bergidig ngeri menyaksikannya. Ia tak berani melerai, apalagi menolong Mawar.
"Ayo, kita main-main. Aku ingin melenyapkanmu dengan tanganku sendiri di hadapan kekasihmu itu."
Pak Rakha menoleh ke arah Pak Riko. Seperti tahu pertanyaan Pak Rakha, Pak Riko langsung bicara.
__ADS_1
"Beres Pak, target sudah diamankan."
Pak Rakha menyeringai lalu menyeret Mawar keluar. Namun sebelum benar-benar keluar Pak Rakha membisikkan sesuatu.
"Rapikan bajumu, berjalanlah normal agar tidak ada yang curiga".
Setelah itu baru mereka benar-benar keluar.
"Ikuti Kami dari belakang, Rik!"
"Diam Kamu, bisa mati bersama kalau begini caranya!" teriak Pak Rakha berusaha menyiku tubuh mawar.
"Kita lebih baik mati bersama, Mas. Aku tidak rela mati sendirian." Mawar dengan sekuat tenaga terus merebut kemudi.
"Kamu akan mati bersama kekasihmu, bukan Aku!" Pak Rakha masih memegang kendali namun jalannya mobil sudah ugal-ugalan ke segala arah. Pak Riko yang berada di belakang merasa ada yang tidak beres.
__ADS_1
"Apa Mawar mengamuk?" Gumam Pak Riko. Jalanan pagi itu masih sepi dan gelap jadi mereka masih bebas membawa kendaraan dengan kecepatan tinggi. Pak Riko terus mengejar mobil Pak Rakha. Namun karena Mawar yang terus berulah, akhirnya Pak Rakha kehilangan kendali dan dengan kerasnya mobil yang dibawanya menabrak pohon besar di pinggir jalan. Kaca mobil bagian depan pecah mengenai wajah keduanya.
Pak Rakha dan Mawar sama-sama banyak mengeluarkan darah dari kepala sebab benturan yang terlalu keras. Pak Riko langsung mebawa keduanya yang terluka cukup parah ke rumah sakit dengan keadaan keduanya yang sudah tak sadarkan diri.
***
Zenajah Pak Rakha dan Mawar akhirnya dibawa ke Bandung. Mereka akan dimakamkan secara layak oleh keluarga Mawar. Sementara itu kekasih gelap Mawar sudah dibebaskan setelah Pak Riko mengetahui kepergian Mawar dan Pak Rakha. Di rumah keluarga Mawar suasana sangat ramai. Kedua orangtua Mawar terus saja menangisi kepergian anak menantu mereka. Beruntungnya Pak Rakha, meskipun hidup dengan penuh kekejaman setidaknya saat meninggal dimakamkan dan diurus secara layak oleh keluarga mertuanya.
Pak Riko kembali ke Jakarta untuk menemui Ega. Lega, itulah yang dirasakan Pak Riko setelah menyaksikan sendiri pemakaman bosnya yang kejam itu.
***
Berita meninggalnya Pak Rakha mengejutkan pihak sekolah. Namun, setelah Pak Riko menjelaskan bahwa Pak Rakha disemayamkan di Bandung pihak sekolah memilih akan melakukan do'a bersama saja di sekolah tanpa perlu takziah.
Kepala sekolah dan dewan Guru mengenal Pak Rakha sebagai orang baik dan tidak banyak mau. Pak Rakha pun terkenal dermawan dan selalu memberikan beasiswa bagi siswa yang berprestasi. Pak Rakha memang sosok sempurna bagi yang tidak mengetahui kejahatannya. Tapi, tidak di mata Ega dan Pak Riko. Kepergiannya justru memberikan rasa lega
__ADS_1
Begitu pun Ibu Rain dan Bibi yang merasa lebih baik dengan kepergian Pak Rakha agar dendam itu tidak terus diturunkan pada Ega. Tapi sayang, Ega sudah dirasuki terlebih dulu oleh mulut berbisa Pak Rakha. Ibu dan Bibi tidak tahu jika dendam itu sudah tumbuh subur di hati Ega bahkan mengalahkan logikanya. Cinta yang teramat dalam pada Rain, mati begitu saja disiram dendam oleh Pak Rakha.