Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Berbeda


__ADS_3

"Bibi, ada apa?" Rain bicara seraya menatap ke luar kamar melihat Ega dengan pakaian kerjanya berdiri dari kursi setelah selesai sarapan. Bibi tidak menjawab malah terperangan melihat penampilan Rain. Bibi tersenyum dan bergumam


"Ini manusia atau bidadari"


Rain yang mendengarnya langsung tertawa


"Ini Rain, Bi"


Bibi tersadar lalu segera ingat tujuannya ke kamar Rain.


"I-iitu kata A Ega cepetan ditunggu di mobil. Ke sekolahnya bareng"


Rain tidak salah dengar? Bukannya bergegas Rain malah bengong, belum lagi kebingungannya sirna dari luar terdengar bunyi klakson berkali-kali


"Ayo, Neng. Nanti Aa marah" Bibi menyadarkan lamunan Rain. Rain yang memang sudah siap segera berlari.


Rain memasuki mobil dengan hati berbunga-bunga sekaligus gugup

__ADS_1


"Maaf ya, jadi nunggu" Kata Rain setelah menutup pintunya.


Rain masih berusaha memakai sabuk pengaman saat Ega mulai menancap gas mobilnya. Beda sekali saat berpacaran dulu. Sebelum melajukan mobil Ega selalu menunggui Rain selesai memakai sabuk pengaman. Berhasil memakai sabuk pengamannya Rain mengusap dadanya pelan menggunakan tangan kanan dan memejamkan matanya. Ega mengemudi dengan kecepatan tinggi. Rain merasakan denyut perih yang hebat di hatinya. Tangan sebelah kiri Rain mencengkram gamisnya kuat-kuat. Rain sangat ketakutan dengan cara Ega mengemudi kali ini.


Tiba di sekolah, Ega keluar duluan tanpa bicara apa-apa. Rain segera keluar dengan sisa-sisa ketakutan dan perut yang mulai terasa mual dan pusing. Dengan langkah besar Rain segera menyusul Ega mensejajarkan langkah dan berjalan beriringan. Sebelum masuk ke ruang kepala sekolah, Ega tiba-tiba menghentikan langkahnya dan sontak Rain pun melakukan hal yang sama.


"Loe nggak usah ge er Gue ajak satu mobil, nggak mungkin Kita dateng nggak barengan. Gue nggak mau semua yang ada di sini memandang negatif tentang Kita. Nanti Gue dikira nggak tanggung jawab". Bisik Ega sambil mencengkram kuat lengan Rain, Rain menunduk meringis kesakitan.


"Iya, Aku ngerti" Jawab Rain. Dengan kasar Ega menarik cengkramannya dari tangan Rain sehingga membuat tubuh mungil itu terpelanting membentur tembok. Tanpa merasa bersalah Ega memasuki ruangan itu tanpa memperdulikan Rain. Rain menghela nafas panjang, mengusap-usap lengannya yang masih terasa sakit lalu bergegas masuk ke dalam ruangan.


"Ini Dia pengantin barunya. Rain, apa kabar?" Tanya Pak kepala sekolah seraya membalas uluran tangan Rain dan Rain segera mencium tangan tersebut


"Tentu saja baik, Bapak senang kalian menyempatkan waktu. Padahal bisa saja ijazahnya diantarkan ke rumah kalian"


"Nggak apa-apa Pak, sekalin silaturahmi" Jawab Rain tersenyum lembut.


"Oh, iya. Mas Ragga meneruskan ke mana?" Tanya Pak Kepala sekolah

__ADS_1


Ega menjawab sebuah universitas terkenal di kotanya tanpa memberitahukan jurusannya.


"Saya pikir Kamu lanjut ke luar negeri?" Tanya Pak kepsek lagi


"Repot Pak, kerjaan Saya banyak banget soalnya. Di sini juga kualitasnya nggak kalah bagus".


"Kalau Rain melanjutkan ke mana?" Pak kepsek beralih bertanya pada Rain.


"Ke universitas Garuda Pak, saya ambil jurusan keguruan ilmu pendidikan. Saya dari kecil udah pengen jadi Guru dan konsisten sampai hari ini" Jawab Rain dengan mata berbinar.


"Cocok sekali dengan pribadi Kamu yang hangat itu, Rain. Apalagi pasti kedepannya kalian kan yang bertanggung jawab tentang yayasan ini". Seru Pak kepsek semangat sekali.


Rain dan Ega hanya tersenyum kaku lalu mereka pamit undur diri membawa ijazah masing-masing. Rain dan Ega kembali berjalan beriringan menuju parkiran. Rain mengedarkan pandangannya berharap bertemu dengan Sela, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Sela.


Di tengah perjalanan Ega menghentikan mobil dan menurunkan Rain tanpa belas kasihan. Rain sebenarnya sangat sedih sampai sebenci itu Ega terhadap dirinya. Rain berjalan sebentar lalu menemukan sebuah bangku di pinggir trotoar. Rain mendudukkan dirinya di sana. Menatap sedih pada kendaraan yang lalu lalang.


Di sebrang jalan terlihat sepasang muda mudi mengenakan seragam putih abu menyebrang bergandengan tangan. Rain jadi asyik memperhatikan keduanya sampai dia teringat akan masa-masanya pacaran dulu. Di mana Ega selalu memperlakukannya manis, Rain tersenyum mengingat semua itu.

__ADS_1


"Ayo, Rain. Semangat. Inget-inget aja masa-masa indah itu agar sakitnya nggak terlalu terasa. Minta terus pada Tuhan agar Ega kembali mencintaimu" Rain bicara menyemangati diri sendiri. Seraya bangun dari duduknya dan menyetop ankutan umum untuk kembali ke rumah.


__ADS_2