
Sebulan berlalu setelah kepulangan dari Jakarta itu Rain merasa ada yang aneh dengan tubuhnya yang cepat letih dan sering tidak bersemangat. Ega sekarang lebih terang-terangan bekerja di perusahaan. Seperti malam itu, Rain sedang menelpon suaminya yang menginap di Jakarta karena pekerjaannya baru selesai sampai larut malam.
"Udah jangan sedih, besok juga pulang. Tidur sama Kaf biar gak merasa sendiri." Suara Ega di ujung telepon berusaha Menenangkan Rain yang merajuk.
"Iya ini Aku lagi di kamar Kaf, Dia udah tidur sejam yang lalu. Mas, apa jangan-jangan Aku hamil ya?"
"Ya udah besok Kita periksa aja, atau besok setelah shubuh Aku pulang dan mampir beli tespack."
"Iya deh boleh, Aku tunggu. Hati-hati ya!"
"Ya sudah, tidur. Harus jaga kesehatan apalagi kalau benar ada dedek lagi. Jaga kondisi ya!"
Suara suaminya yang terdengar sesekali menguap membuat Rain yang sebenarnya masih ingin bicara terpaksa mengankhiri panggilan.
****
Setelah shalat shubuh Rain memilih kembali tidur dengan menutupi tubuhnya memakai selimut. Kaf sudah beberapa kali menawarinya makan dan minum tapi Rain menolak. Berangkat sedikit siang ke sekolah mungkin tidak apa-apa. Tadi Kaf sudah bilang akan berangkat lebih dulu diantar Nenek Alis.
Ega ternyata setelah shalat shubuh benar-benar segera meninggalkan hotel dan pulang kembali ke Bandung. Di jalan Dia sempat membeli dua buah tespack untuk Rain. Perjalan pagi hanya memakan waktu 2.5 jam karena lalu lintas belum terlalu padat.
Sampai di rumah ternyata sudah sepi. Kaf diantar Nenek Alis ke sekolah dan Ibu sudah mulai pergi ke restoran. Ega yang mendapat laporan dari Ibu bahwa Rain tertidur kembali setelah shalat shubuh segera masuk ke kamar memeriksa keadaan Rain.
Benar saja, Rain masih menggulung badannya dengan selimut. Lampu masih dinyalakan dan gorden belum dibuka. Ega membuka gorden dan jendela. Membiarkan udara pagi masuk ke dalam kamar. Disibakkannya selimut itu, Rain masih mengenakan mukena. Ega gemas sekali dengan tingkah istrinya itu. Dia ikut berbaring memeluk istrinya dari belakang. Tangannya mulai masuk ke balik baju tidur istrinya. Ega mengusap-usap perut rata istrinya. Merasa ada pergerakan di sekitar perutnya, Rain menggeliat dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Aroma khas daei parfum suaminya mulai tercium. Bibir Rain melengkungkan senyumman dengan cepat Dia membalikkan tubuhnya lalu segera mencium pipi suaminya.
"Iiih pelan-pelan atuh. Gimana kalau dalam perut ini beneran ada dedeknya?" Ega protes dengan ulah Rain yang tiba-tiba.
"Hehehe, abis kangen. Gak biasa ditinggal nginep kan!"
__ADS_1
"Ayo cepet pipis, Aku udah belikan tespacknya. Aku gak sabar nih." Ega segera membimbing Rain untuk duduk. Rain sebenarnya malas sekali tapi demi melihat pancaran kebahagiaan sekaligus rasa penasaran dari wajah Ega, Rain berusaha bangkit. Segera membuka mukena lalu melipatnya asal dan mengambil tespack yang diberikan Ega lalu membawanya ke kamar mandi.
Ega merasa de javu dengan kejadian ini. Dia segera melangkah mendekati pintu kamar mandi.
"Mas, Aku deg deg an. Ini sama seperti waktu hamil pertama aja." Rain dari dalam kamar mandi teriak.
"Makanya cepetan, Aku lebih penasaran lagi. Mudah-mudahan hasilnya positif."
"Kalau positif Kita gak perlu terus mengulang-ulangnya ya, Mas. Aku udah males diledekin Ibu tiap hari cuci sprei." Sahut Rain yang mulai menampung urinenya ke dalam wadah kecil.
"Gak mau, Aku gak bisa kalau gak gitu dulu sebelum tidur. Udah biar nanti Aku yang cuci spreinya."
Rain sudah malas sekali melanjutkan pembicaraan itu. Ujung-ujungnya selalu dia yang kalah dan pasrah. Tak lama Rain segera keluar dengan dua buah tespack di tangannya.
"Mas, nih Kamu aja sama Ibu yang lihat. Aku mau siap-siap ke sekolah. Aku gak mau lihat dulu hasilnya." Rain segera kembali masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ega sendiri tidak berani melihat hasilnya. Segera Dia masukkan alat tes kehamilan ke dalam saku celananya. Nanti setelah mengantar Rain dan tiba di resrtoran biar sama-sama dibuka dengan Ibu.
****
"Mas, gimana hasilnya?" Rain sedikit berbisik karena tidak ingin didengar oleh Kaf.
"Positif, Sayang. Dua garis merah." Ega merangkul bahu istrinya yang duduk di sebelahnya.
"Kurang-kurangin ya kegiatan mencuci sprei di pagi harinya. Pasti janinnya masih baru. Kasihan gak usah tiap malam harus menjemput bayi." Ibu mengingtan keduanya.
"Apa? Koq gak usah dijemput sih bayi nya?" Fokus Kaf yang sedari tadi memainkan mobil-mobilan barunya teralih mendengar perkataan Eninya.
"Itu kata Baba sekarang Adek Bayi udah bobok di perut Bunda." Jawab Ibu seraya pergi meninggalkan keluarga kecil itu agar tidak usah ikut-ikutan repot menjawab pertanyaan Kaf.
__ADS_1
"Hah, benar udah ada Adek di perut Bunda?" Kaf segera mmendekati Bundanya.
"Insha Allah, besok kita bawa Bunda ke bidan biar diperiksa." Ega membantu menjawab pertanyaan Kaf.
"Horee, sebentar lagi Kaf punya Adik. Jadi rumahnya ramai." Kaf dengan naluri anak-anaknya melompat-lompat bahagia.
"Iya, jagain Bunda nya saat Baba gak ada ya!"
Kaf mengangguk-angguk mengerti sambil memperhatikan perut Rain.
Hihihi dedeknya sebesar apa sih dalam perut bunda? Koq masih kecik perut Bundanya. Ini Aku lagi nggak dikerjain biar gak tanya-tanya Frea terus kan?
Rain dan Ega saling melempar pandang melihat tingkah anaknya yang senyam senyum sendiri sambil sesekali mendongakan mata ke arah langit-langit rumah dan mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari.
"Dia lagi apa sih?" Rain berbisik pada suaminya.
"Gak tahu, tapi lihat gayanya sok banget seperti orangtua." Ega menahan tawa melihat kelakuan Kaf.
"Seganteng apa ya Dia saat besar nanti. Aku jadi pengen reinkarnasi aja deh minta dilahirkan kembali seusia Dia biar bisa jadi pendampingnya. Gak rela rasanya kalau nanti anakku diambil hatinya oleh gadis lain."
"Hus, aneh-aneh aja. Kamu itu udah punya Aku yang gantengnya maksimal. Anak sendiri masih diembat juga." Ega mencubit pipi Rain.
"Hehehe becanda, Mas. Aku cuma lagi menikmati salah satu ciptaan Allah yang indah lewat ketampanan Kaf. Kamu jangan cemburu, Aku bersyukur banget punya suami Kamu. Udah ganteng, baik dan sabar walaupun selalu bikin Aku harus cuci sprei setiap hari." Rain mengakhiri kalimatnya dengan mendengus.
Setelah lama membayangkan keberadaan bayi dalam perut Bundanya namun tak bisa menemukan jawaban akhirnya Kaf kembali pada fokusnya terhadap mobil-mobilannya.
Nanti saat sudah belajar Biologi baru sadar ya, Kaf kalau selama ini dibohongin Baba. Ck
__ADS_1