Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Pesan Dokter Fahri


__ADS_3

Akhirnya setelah dua malam menginap di rumah sakit, Bibi dinyatakan sehat dan boleh pulang. Tekanan darahnya sudah turun meski belum normal. Bibi hanya perlu menjaga pola makan dan menurunkan berat badan.


Sore sekitar pukul 17:00 mereka sampai di rumah. Bibi benar-benar sudah terlihat sehat dengan wajah yang berseri. Rain yang membawa tasnya memapah Bibi meski Bibi sempat menolaknya. Ega berjalan di belakang mereka membawa tasnya dan tas Bibi.


Ketiganya kompak duduk di ruang tamu. Meski semewah apapun fasilitas rumah sakit, tetap saja rumah adalah tempat yang paling nyaman. Belum ada percakapan di antara ketiganya. Sampai ponsel Rain bergetar tanda pesan masuk


Yugo


Ibu cantik, tau nggak? Main game itu rutinitas tapi kalau Ibu, prioritas. 💜


Rain tertawa sendiri membaca pesan dari muridnya itu. Bisa dipastikan Yugo adalah anak yang sudah keranjingan main gadget. Kalimat seperti itu sering Rain baca di akun sosmednya.


"Kenapa Neng?" Bibi menatap Rain keheranan, Ega juga ikut penasaran.

__ADS_1


"Ini Bi, Yugo masa ngirimin aku pesan gini" Rain membacakan isi pesan Yugo. Dan Bibi pun ikut tertawa Ega hanya tersenyum tipis. ponsel Rain kembali bergetar. Rain membaca pesannya keras setelah melihatnya sepintas


"Bu cantik senyumnya jangan manis-manis dong, nanti gulanya minder sama Ibu cantik". Rain dan Bibi lagi-lagi tertawa. Fix, pasti Yugo tahu kalimat seperti itu karena sering membacanya atau mendengarnya di sosmed. ponsel Rain bergetar lagi. Rain melakukan perbuatannya seperti tadi


"Bu Guru cantik kalau iket tali sepatu jangan kenceng-kenceng dong, cukup hati Aku aja yang Bu Guru cantik iket kenceng"


Rain tertawa terbahak-bahak sampai matanya mengeluarkan air. Bibi merasa senang melihat Rain tertawa bahagia seperti itu. Bibi berharap setiap hari rumah ini akan dihiasi tawa bahagia oleh Rain maupun Ega seperti saat mereka pacaran dulu.


"Bi, sumpah ya. Yugo ini anaknya lucu banget. Gitu ya anak zaman sekarang. Masih SD udah main suka-sukaan. Aku dulu boro-boro gitu. Naksir cowok aja pas udah kelas tiga SMA". Rain saking senangnya tidak menyadari kalimat terakhir yang dia lontarkan cukup membuat Ega dan Bibi saling pandang. Entah kenapa Ega merasakan bahagia saja mendengarnya. Bibi malah senang karena kini Ega sudah menunjukkan sikap baik walau masih dingin dan kaku.


"Mbak Rain, Saya tahu Mbak sudah menikah. Tapi, sepertinya suami Mbak nggak mencintai Mbak. Sayang sekali Mbak. Padahal kalau Saya yang jadi suami Mbak, Saya akan jaga Mbak dengan baik. Mbak adalah perempuan paling istimewa.... Rain menggantung kalimatnya karena ternyata bukan Yugo yang mengiriminya pesan. Rain jadi menyesal membacakan keras-keras isi pesan itu. Niatnya mencairkan suasana malah memperkeruhnya.


"Teruskan Rain, baca yang keras lanjutannya". Ega menatap lurus ke arah Rain dengan tatapan yang susah diartikan.

__ADS_1


"Kalau Mbak nggak bahagia sama Mas Ragga, Saya siap membuat Mbak bahagia. Salam manis dari dokter Fahri. Yang akan selalu mengagumimu". Rain seketika merasa lesu setelah membaca pesan tersebut. Ega menggebrag meja, mengumpat "Shit, berani-beraninya" lalu beranjak meninggalkan Bibi dan Rain.


Rain sangat ketakutan, baru saja sikap Ega berubah kini kembali marah-marah. Bibi malah senyum-senyum.


"Bibi koq malah senyum. Mas, marah Bi!" Seru Rain mengguncang bahu Bibi.


"Aa bukan marah sama Neng Rain. Dia hanya sedang cemburu".


Rain tidak yakin, tapi mengingat kejadian semalam saat menyuapinya Rain memiliki sedikit harapan semoga perlahan Ega nya bisa kembali seperti kemarin-kemarin saat mereka saling mencintai.


"Mending sekarang Neng masak aja buat makan malam, jangan terlalu mikirin Aa". Bibi berusaha mengalihkan pikiran Rain. Rain mengangguk. Seraya beranjak ke kamarnya, kamar tamu. Rain menaruh tasnya lalu kembali ke luar untuk memasak di dapur.


Rain cekatan memotong sayuran serta daging. Rain akan membuat sup dan tempe mendoan supaya dia sendiri bisa makan. Bosan juga hanya memakan roti gandum dan telur rebus. Rain segera menata cantik hidangannya sambil terus tersenyum.

__ADS_1


"Perfect" Gumamnya, Lalu pergi ke kamar untuk bersih-bersih karena badannya sudah terasa lengket semua.


__ADS_2