
Ibu terkekeh geli melihat raut wajah putrinya. "Kamu juga nggak nanya kan siapa yang mau Ibu jodohkan?"
Rain berfikir sejenak, dia menatap tajam Ega seraya berkata "Kamu juga ikut terlibat?" Dituduh seperti itu membuat Ega sedikit kesal.
"Gue nggak bakal repot-repot datang ke sini berusaha nenangin loe dan perasaan kacau pas Bibi bilang loe mau dijodohkan sama Ibu Lo."
Rain bernafas lega, setidaknya bukan hanya dirinya yanh dikerjai. Ibu menarik tangan Bibi ke dalam membiarkan Rain dan Ega berdua di teras. Awalnya keduanya kikuk, Rain masih butuh waktu mengartikan perasaan Ega padanya. Sementara dirinya, dengar saja jantungnya melompat-lompat tak karuan seperti hendak lepas dari tempatnya. Ega jahil, terus menatap dalam ke arah Rain. Rain yang merasa ditatap berusaha membuang pandangan menghindari mata indah yang terus mencari matanya. Baiklah, Ega. Rain kalah. Rain memejamkan matanya, menarik nafas panjang dan katanya, "jadi sekarang kamu masih mau menyuruh aku menolak perjodohan ini?" Ega tidak menyangka Rain akan mengucapkan itu.
Ega pikir Rain akan mengungkapkan isi hatinya jadi Ega tidak usah repot-repot menjelaskan isi hatinya. 'Mengapa berurusan dengan gadis polos merepotkan sekali'. Batin Ega.
Keduanya kembali hening. 'Ega tuh sebenarnya suka nggak sih sama Aku?' Rain sibuk dengan pikirannya begitupun Ega 'Ini bakal jadi yang pertama Gue nembak cewek, rese banget sih Rain. Lo bener-bener bikin Gue mati kutu'. Ega berdehem, Rain masih sibuk dengan pikirannya.
__ADS_1
Rain beranjak, "yaudah kalau kamu nggak ada yang diomongin Aku ke kamar aja ya, mataku perih banget."
Tapi, sebelum Rain benar-benar meninggalkannya Ega segera menarik tangan Rain. Rain kembali duduk. "Gue pikir dengan ngelarang loe nerima perjodohan Lo yang
belum kita tahu siapa cowoknya, loe ngerti maksud Gue."
Rain mengerenyitkan dahinya "Please Ega, Aku semalaman nangis. Kepalaku berat mau pecah, please jangan nyuruh Aku berfikir keras." Ega menggeleng sambil tersenyum 'dosa apa gue jatuh cinta sama gadis polos begini'. Rain menghela nafasnya, "jadi masih mau diem aja nih?"
Apa? Rain kaget, dunianya seakan berhenti. Tubuhnya seakan dibawa terbang ke langit ke tujuh seakan dikelilingi banyak bunga dan balon berbentuk love. Pipinya serasa mengembang dan rasanya damai. Inikah rasanya dicintai?.
"Apa kamu yakin, Ga?"
__ADS_1
Ega mengangguk, menggenggam kedua tangan Rain yang dingin. Rain semakin berdebar jantungnya. Tolong, jangan biarkan Rain serangan jantung.
"Apa secepat itu kamu jatuh cinta sama aku?"
Ega tersenyum geli,gemas sekali dia dengan kekasih hatinya itu. "Loe sendiri emang butuh berapa lama jatuh cinta sama Gue?" pertanyaan Ega malah membuat Rain malu. Rain menyesal bertanya seperti itu. Jelas saja tak butuh waktu lama dia jatuh cinta pada Ega. Saat pertama melihatnya, saat itu juga dia jatuh cinta. Rain menarik tangannya dari genggaman Ega.
"Ah udah ah Aku malu." Jawab Rain jujur.
"Jangan malu-malu dong pacar, mukanya jadi lucu kalo merah gini." Ega mencubit pipi kiri Rain.
"Jadi sekarang kita pacaran ya?" Tanya Ega, Rain mengangguk dan langsung berlari ke dalam menyembunyikan wajah merahnya dan tentu saja debaran jantungnya. Ega tertawa melihat tingkah kekasihnya.
__ADS_1
"Rain, koq Gue malah ditinggal. Dipeluk dong Rain". Ega ikut masuk ke dalam mengejar Rain. Bibi dan Ibu yang sedari tadi mwngintip di balik pintu saling berpelukan, terbawa suasana kedua sejoli yang dimabuk cinta. Akhirnyaaaaaa, jadian juga.