
Sebulan berlalu setelah kejadian itu. Masih sama. Rain masih tidur di kamar tamu dengan Ega yang masih bersikap dingin walau sesekali menunjukkan perhatiannya. Kini Rain dan Ega sudah disibukkan dengan kuliahnya masing-masing. Pak Riko sempat bisa dihubungi namun belum bisa ditemui. Rasanya Tuhan memang benar-benar tengah menguji cinta Rain dan Ega.
Pagi itu Rain sudah rapi hendak pergi ke kampus. Sebulan belakang Ega sengaja sekali selalu mencuri star duduk di ruang tamu sebelum Rain keluar kamar. Mereka juga selalu sarapan bersama walau tanpa saling mengobrol.
Rain yang hari itu mengenakan rok jeans dengan atasan sweater rajut berwarna mocca dengan pashmina berwarna senada terlihat sangat casual dengan sepatu kets warna hitamnya. Aroma minyak telon langsung menyeruak saat Dia ikut duduk bersama Bibi dan Ega di ruang tamu. Hari itu Rain hanya membuat roti panggang susu sebagai pelengkap.
"Mas, Aku hari ini berangkat camp nya. Aku nginep sehari di puncak nggak apa-apa kan Mas?" Tanya Rain membuka percakapan pagi itu.
"Iya nggak apa-apa, hati-hati". Jawab Ega tersenyum manis. Sudah sebulan ini Ega kembali tersenyum dan menatap Rain jika sedang berbicara.
__ADS_1
"Neng, hati-hati ya. Kalau digodain cowok jangan mau" Kata Bibi sengaja saja memanas-manasi Ega. Dan Ega memang terpengaruh oleh perkataan Bibi. Hatinya jadi gelisah.
Lihatlah, Rain sangat cantik dan fresh hari ini. Ditambah dengan obrolan beberapa teman-teman barunya di kampus yang mengatakan bahwa gadis berhijab sekarang terlihat lebih cantik dan spesial dan banyak diincar oleh para lelaki.
"Bibi, Aku ke sana buat menyelesaikan tugas bukan cari gebetan. Buat apa Aku tergoda kalau di rumah aja udah punya yang paling tampan dan kaya lagi. Iya, kan Mas" Jawab Rain seraya melirik Ega yang wajahnya berubah setelah perkataan Bibi tadi. Rain sadar bahwa Ega sedang menahan cemburunya. Rain tahu Ega masih sangat mencintainya walau masih menyimpan dendamnya.
Ega tersenyum mendengar perkataan Rain. Hatinya menjadi tenang dan pikirannya lega.
Sekarang ini keadaan seperti terbalik. Jika dulu saat pacaran selalu Ega yang pintar menggoda, sekarang Rainlah yang selalu menggoda suaminya itu. Terlihat sekali bahwa Rain sedang mati-matian memperjuangkan cintanya. Awalnya Rain memang berfikir akan benar-benar menghindar dari Ega namun lama-lama Dia merasa jika itu terjadi yang ada hubungan mereka akan semakin jauh.
__ADS_1
Maka Rain mengubah tak tik nya, Rain sekarang lebih bisa terbuka dengan perasaannya. Rain juga setiap malam selalu masuk ke kamar Ega sekedar untuk mencium suaminya itu. Rain tahu Ega pura-pura tidur saat melakukannya, namun Rain tetap konsisten melakukan itu. Entah mengapa Ega pun tidak ingin marah. Bahkan pernah sekali waktu Rain tertidur di kamar Ega dan sampai Rain bangun Ega masih pura-pura tidur. Rain mengira Ega tidak mengetahui bahwa dirinya tertidur. Ega hanya masih ragu dengan kenyataan yang sebenarnya. Dendamnya masih tersimpan rapi. Rain tidak mempermasalahkannya karena yakin jika sudah waktunya pasti semua akan dengan mudah diketahui.
Setelah selesai sarapan Rain dan Ega pamit pada Bibi. Rain hari itu terlihat kerepotan sebab membawa tas ransel berisi baju ganti dan beberapa camilan serta susu kotak. Rain biasanya memang selalu naik angkot. Ega rupanya masih enggan untuk mengantar Rain walau terkadang Rain berharap diantarkan.
"Rain, ayo Aku antar ke kampusnya". Ujar Ega saat Rain berjalan melewatinya yang hendak masuk mobil. Apa? Rain tidak salah dengar.
' Ya Rabb, apa semalam kalimat di sepertiga malamku menembus langit lalu kau ketuk hati suami hamba? oh terimakasih Rabb' batin Rain.
"Emang nggak repot Mas, kampus kita berlawanan arah lho". Rain sedikit bersikap jaim agar tidak terlalu terlihat murahan. Murahan? Dia itu suamimu Rain.
__ADS_1
"Masih ada waktu, ayo naik" Ucap ega dan langsung masuk ke balik kemudi.
Dengan senyum mengembang Rain segera naik ke dalam mobil. Hatinya sangat berbunga-bunga.