
Tak terasa sudah tiga hari libur sekolah. Hujan semakin deras setiap harinya. Membuat Rain malas ke mana-mana. Setiap malam Ega selalu datang walau setelah dua jam Rain selalu mengusirnya pulang. Seperti biasa Ega akan merengek, maka perdebatan mereka akan selesai dengan kata video call.
Hari keberangkatan Ega ke Bali pun tiba. Rain dan Bibi sengaja mengantar Ega ke Bandara. Sebenarnya Ega berat sekali meninggalkan Rain. Setiap hari bertemu saja Ega selalu Rindu apalagi tiga hari. Rain berjanji akan selalu video call atau sekedar chatting maka kegundahan Ega sedikit terobati.
"Yang, padahal kita sekarang ciuman aja biar kaya Cinta dan Rangga." Ega mulai menggoda Rain saat akan berpisah.
"Kamu tuh bener-bener kalau ngomong nggak pernah difilter dulu." Jawab Rain memukul perut Ega.
"Peluk keq Yang, kasih Aku amunisi vitamin cinta kamu."
Semakin ngaco saja Ega ini. Rain hanya menggeleng-geleng dan memijat pelipisnya. Bibi yang mendengar dan melihat tingkah Ega hanya tersenyum saja.
"Jaga kesehatan ya. Jangan begadang makannya diatur. Sholatnya juga jangan kelewat dan jangan lirik-lirik bule." Perintah Rain.
Bukannya menjawab Ega malah memeluk Rain erat. Diciuminya pucuk kepala Rain berkali-kali. Rain hanya memejamkan matanya dan membalas pelukan Ega. Ega melepaskan pelukannya sebab kini giliran Ega yang diperiksa kelengkapan surat-surat sebelum keberangkatannya.
Sebelum melangkah dengan cepat Rain meraih tangan Ega dan menciumnya.
"Hati-hati yaa, cepet pulang!" Kata Rain dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Itulah Rain dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya lewat kata maupun tindakan. Padahal belum ditinggal Rain sudah merasakan rindu memenuhi ruang hatinya. Rasanya langkah Ega semakin berat. Setelah surat-suratnya diperiksa Ega mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan sambil berjalan. Bibi dan Rainpun segera pulang. Saat masuk ke dalam taxi online ponsel Rain berbunyi notifikasi pesan masuk. Rain membaca pesannya.
*Jangan pernah malu buat ungkapin apa yang kamu rasa. Aku cinta kamu. Aku pasti cepat pulang*
Rain tambah menangis membaca pesannya. Bibi yang mengerti perasaan Rain mengusap-usap punggung Rain. Bukan berhenti, Rain malah sesenggukan. Bibi sedikit kewalahan.
"Udah dong neng, nanti Ibu khawatir kalau matanya sembab."
Rain segera berusaha menghentikan tangisnya dan menghapus air matanya. Mulai menguasai diri dan mengendalikan emosinya.
****
Setelah sampai di Bali, Pak Rakha menyuruh Ega menemuinya di kamar hotelnya. Ega segera melakukannya karena sudah tidak sabar untuk beristirahat dan menghubungi Rain.
"Bukan Papa, tapi Mama mudamu." Jawab Papa merangkul bahu Mawar yang duduk di sampingnya.
"Kamu nggak ajak pacarmu ke sini?" Tanya Pak Rakha membuat wajah Mawar berubah masam.
"Buat apa diajak dia nya juga lagi datang bulan." Ega sengaja memanas-manasi Mawar. Pak Rakha terkekeh. Mawar jelas semakin menahan amarah.
__ADS_1
"Kapan acaranya? Aku nggak tahan lama-lama jauh dari Rain." Kata Ega lagi. Mawar semakin dibuat panas.
"Besok malam, kalau Kamu mau di sini banyak bule Ga. Lupakan sejenak Rainmu itu." Kata Pak Rakha.
"Tidak ada yang senikmat Rain, pa!" Ega menatap tajam Papanya.
Pak Rakha tertawa menepuk-nepuk bahu Ega. "Sudahlah sana ke kamarmu, sepertinya Kamu butuh banyak istirahat."
Tanpa berkata-kata lagi Ega segera berlalu. 'Nggak apa-apa kalau Papa benar-benar menganggap kita sudah melakukan itu yang penting Mawar nggak berusaha goda Gue lagi'. Kata Ega dalam hati.
Saat akan memasuki kamarnya ada seseorang memanggil namanya dan menghampirinya.
"Egaaaa." Ya, dialah Tania.
"Lo di sini juga, waaah kita jodoh kali ya selalu ketemu!" Seru Tania dengan mata berbinar.
"Hati-hati kalo ngomong. Gue udah punya Rain." Jawab Ega mengepalkan tangannya.
"Rain kan nggak ada di sini, udahlah sama Gue aja. Lagian Rain nggak bisa kasih apa yang Lo mau kan?" Tania hendak memegang lengan Ega namun segera ditepis kasar oleh Ega.
__ADS_1
"Jaga mulut Lo kalau masih pengen ikut ujian dan dapet ijazah. Gue bahkan bisa lempar loe ke dalam rawa buaya berani loe ngatain calon istri Gue"
Brakk! Ega menutup kasar pintu kamar hotelnya. Tania mendengus kesal dan berlalu.