
Sebelumnya saya ucapkan terimakasih untuk yang setia membaca. Terus dukung, like dan vote ya. Semoga kita sama-sama bahagia sampai akhir cerita.
Zein terlalu takut untuk kembali ke Bandung, Dia tidak ingin membuka luka lama itu. Akhirnya dengan berbagai pertimbanga dan saran dari Reza, Ibu Zein lah yang dijemput oleh Reza untuk ke Jakarta.
Sore itu Reza dan Rosa sudah kembali ke Jakarta dan berhasil membawa Ibu Zein. Zein yang sedari tadi mondar-mandir di depan kost akhirnya bernafas lega melihat Ibunya datang diapit oleh Reza dan Rosa.
"Ibu, Zein kangen banget" Zein memeluk Ibunya erat dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu senang Nak, akhirnya Kamu bisa bangkit dan akan menikah". Ibu mengurai pelukannya mengelus lembut pipi Zein.
"Ini berkat do'a Ibu". Zein mengecup kedua pipi Ibunya.
"Zein, sebaiknya mulai hari ini kalian tinggal di rumahku. Mana mungkin Ibu harus berdesak-desakkan tinggal di kamar kecil itu". Reza menunjuk ke arah kamar kost.
"Tapi kan Mas?" Zein ingin protes namun Reza sudah lebih dulu membawa Ibu ke rumahnya yang terletak di belakang kost-kostan. Zein dan Rosa ikut melangkah, berjalan di belakang Ibu dan Reza.
"Kamu kenapa Ros, Kamu sakit?" Zein melihat ada sesuatu yang aneh.
__ADS_1
"Mungkin mabuk perjalanan, Zein". Jawab Rosa, berbohong.
"Nanti minum teh panas, ya". Zein merangkul bahu sahabatnya itu. Rosa mengangguk lemah.
'Teh panas tidak akan membuat sakit hatiku hilang, Zein'
Tibalah mereka di rumah Reza. Tidak mewah, namun besar dan nyaman. Terlihat di sana sudah banyak orang yang berkumpul. Zein bingung, namun tidak dengan Ibu dan Rosa yang sudah mengetahui akan ada apa.
"Maaf, Saya nggak telat kan?" Tiba-tiba datang seorang pria paruh baya.
"Mang Agus?" Zein kaget kenapa ada Mang Agus, adik satu-satunya Ayah Zein yang hidupnya berantakan dan urakan. Di usia yang tidak lagi muda, Mang Agus masih saja hidup di dunia kelam. Tidak memiliki istri dan memang tinggal di Jakarta sebagai tukang palak atau preman pasar orang-orang menyebutnya.
"Nak, Rakha sekarang sudah berbeda. Dia sekarang menjadi orang yang penuh emosi dan amarah. Menikahlah segera dengan Reza. Ibu ingin hidup tenang". Ibu meyakinkan Zein.
Zein melirik ke arah Rosa, ingin mendengar ucapan Rosa.
"Gue yakin Loe bahagia sama Mas Reza, Gue bahagia kalo Loe bahagia". Rosa mengusap bahu Rain menahan tangis. Rosa cemburu, Rosa sakit hati dan memendam luka yang dalam.
__ADS_1
Akhirnya proses akad nikah itu berlangsung sederhana namun penuh khidmat dan sakral. Sejak hari itu juga Ibu menetap di Jakarta dan tidak Zein ijinkan pulang ke Bandung. Sementara mang Agus sendiri sudah pergi begitu saja setelah menjadi wali nikah Zein.
🍂🍂🍂
Ibu tiba-tiba menghentikan ceritanya. Ibu tidak menangis namun tersenyum menghampiri Ega dan Rain. Rain kini menyandarkan kepalanya di bahu Ega. Tenang, sudah pasti.
"Ibu sekarang paham kenapa kisah cinta Ibu dulu begitu rumit. Sebab Allah ingin menyatukan darah dari cinta segi 4 yang rumit itu ke dalam 2 orang yang saling mencintai"
Rain dan Ega saling pandang tidak mengerti.
"Ibu dan Mama mertuamu selalu mencintai orang yang sama dalam waktu bersamaan. Awalnya Rakha kemudian Reza. Namun pada akhirnya Kami tidak ada yang bersatu. Lalu, lahirlah kalian berdua. Darah daging dari Rakha dan Rosa juga Reza dan Zein. Kalian penyempurna cinta Kami yang rumit di masa lalu" Ibu menatap Ega dan Rain bergantian. Berniat ingin mengakhiri saja ceritanya. Biarkan Rain merasa bahagia saja dengan hanya mengetahui bahwa akhirnya Zein menikah dengan Reza yang sangat mencintainya.
"Loe nggak mau nerusin cerita, Zein? Loe yang bilang nggak mau bikin anak-anak bucin ini stuck di pemikiran yang salah?" Riko protes dengan tindakan Zein yang mengalihkan perhatian Ega dan Rain.
"Kali ini Gue setuju sama Loe, Pak. Bu ceritakan bagaimana bisa Papa dan Mama menikah dan ada Aku". Ega menatap mertuanya penuh harap.
"Rain juga ingin tahu, Bu. Apa benar Ayah meninggal karena kecelakaan?" Rain ikut berharap.
__ADS_1
Posisi Ibu sekarang terpojokkan oleh tiga orang yang sepemikiran. Ibu seperti seorang penjahat yang sedang diinterogasi penyidik.