
Seharian ini Rain merasakan Ega sibuk sendiri dengan ponselnya. Sedari pagi saat menjemputnya Ega tidak banyak bicara. Sampai tiba di sekolah pun Ega yang biasanya selalu mengajaknya mengobrol tetap asyik dengan ponselnya.
Saat jam istirahat juga, Ega cuek saja saat Rain memberinya kotak bekal. Ega malah menyuruh Rain pergi karena Dia yang sedang sibuk dengan ponselnya dan tak mau diganggu.
Rain segera menemui Sela yang sedang di kantin.
Sela merasa ada yang tak beres melihat raut wajah Raib yang sedih dan matanya menahan tangisan.
"Sel, emang semua cowok gitu ya kalo udah pacaran? Bisa tiba-tiba cuek." Rain bersungut-sungut. Suaranya jelas menahan tangis.
"Lo, kenapa? baru juga pacaran udah ribut?" Sela malah balik bertanya.
"Nggak ribut, cuma heran aja Ega tiba-tiba cuek. Padahal semalam kita masih chatting." Rain kembali ingat pesan-pesan yang Ega kirim semalam.
"Lo bikin salah kali, atau Lo nolak keinginan Ega. Misalnya loe nolak dicium Ega." Sela sedikit membisik di akhir kalimatnya.
Rain mengingat-ingat kembali apa salahnya. Soal ciuman yang selalu Rain tolak bukankah Ega juga sudah mengerti. Ega juga sudah mengetahui batasannya. Rain menggeleng. Pacaran emang serumit ini ya.
"Udahlah, ayo ke kelas udah bel tuh."Sela menyeret langkah Rain takutnya mereka telat masuk.
Saat tiba di kelas betapa kagetnya Rain melihat Ega yang tidak menduduki kursinya. Ega duduk di kursi Sela. Sela juga sedikit kaget.
__ADS_1
"Hari ini Gue pinjem kursi lo dulu Sel, Kita tukeran dulu."
Ega berkata dengan tatapan tanpa ekpresi pada Sela. Sela hanya mengangguk. Rain kesal sekali dengan Ega. Kenapa tiba-tiba. Rain ingin menghampiri Ega. Namun, Guru sudah terlanjur datang. Jadilah Rain duduk dan tidak fokus belajar. Sepanjang pelajaran Rain tidak bisa berfikir jernih.
Berkali-kali tangannya mengusap air mata yang menggenang di ujung matanya. Sela yang serius memperhatikan tidak melihat keadaan Rain. Rain merasakan dadanya sesak.
'Apa memang seperti ini kelakuan cowok. Setelah mendapatkan gadisnya dengan seenaknya dia memainkan perasaannya?" Rain terus membatin.
Ingin sekali rasanya cepat pulang. Ingin sekali menumpahkan segala tangisan agar dadanya tak sesesak ini.
Pelajaran berganti, Rain sedikit lega. Artinya, sebentar lagi sekolah bubar. Sudah tidak tahan rasanya seperti ini. 'Ok, Rain tadi aja bisa, sedikit lagi. Tahan Rain' Rain menyemangati dirinya.
"Rain, Lo nggak apa-apa kan?" Sela iba melihat raut wajah Rain. Rain menggeleng.
"Gue duluan ya?"
Sela beranjak. Rain menggangguk. Selesai merapikan semuanya Rain segera bangkit. Dia hanya ingin cepat sampai di kamarnya.
Sesampainya di rumah, Rain langsung masuk kamar. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia menangis meraung-raung seperti tempo hari saat Ibu mengerjainya tentang perjodohan. Hampir satu jam Rain menangis. Ponselnya berbunyi tanpa pesan masuk. Rain berharap itu dari Ega, ternyata Ibu.
*Rain, cepat ke restoran. Ibu tunggu dari tadi*
__ADS_1
Rain lupa, urusan Ega benar-benar membuatnya pikirannya tak fokus.
Rain mandi dengan cepat. Selesai mandi dia cepat memakai pakainnya. Dia mengenakan kaus putih lengan pendek yang sangat pas di tubuh mungilnya. Rain menggunakan jeans gombrong sebagai celana. Dia memoles wajahnya dengan bedak bayi dan lipbalm di bibirnya.
Rain mengikat tinggi rambutnya hingga terlihat jelas lehernya yang putih. Rain meraih tas selempang kecilnya lalu memasukan ponsel ke dalamnya. Rain menggunakan sendal flat lucu yang terlihat manis di kakinya yang putih dan mungil.
Rain berlari-lari kecil. Matanya sembab, masih ingin menangis tapi Ibu sudah menunggunya.
Setibanya di restoran Rain sedikit kaget. Lama tak datang Restoran Ibu terlihat semakin ramai dan menarik saja. Beberapa pasang mata lelaki yang sedang makan terpesona melihat kehadiran Rain. Rain segera menujj kasir dan bertanya keberadaan Ibunya. Rain segera melangkah ke ruangan Ibunya setelah kasir memberi tahu.
Rain mengetuk pintu.
Tok
Tok
Tok
"Masuuuk!" teriak Ibu dari dalam ruangnya. Rain membuka pintu perlahan. Kepalanya menunduk. Daaaaan, Surprise.
Lanjut episode selanjutnya.
__ADS_1