
Acara pembukaan restoran Mawar berlangsung meriah. Mawar sengaja mengundang artis Ibu kota. Terlihat Tania pun hadir dalam acara itu. Tania ternyata putri salah satu rekan bisnis Pak Rakha. Ega bosan sekali dengan acara itu. Dia malah terlihat asyik di pojokan sambil chatting dengan Rain. Sedari tadi Ega selalu meminta Rain mengirimkan foto dirinya. Rain sampai mengumpat kesal dengan tingkah kekasihnya itu.
*Kamu jangan kaya gini dong, Aku tuh sekarang lagi di rumah. Ibu melarangku ke restoran gara-gara Kamu*
Setelah kemarin Ega dengan sengaja terus mengirim pesan pada Ibu Rain bertanya Rain sedang apa? Kenapa tidak balas chat? Rain digoda laki-laki tidak? dan seterusnya. Akhirnya Ibu melarang Rain ke restoran hari ini. "Udah, nggak usah ke resto lagi. Ibu pening dibuat Ega. Pacar kamu itu benar-benar overprotective. Lebih baik Kamu di rumah. Jari Ibu sampe keriting membalas pesan dia." Itu kata-kata Ibu saat pagi tadi Rain sudah siap hendak ikut.
*Aku terlalu mencintaimu, sayang* Ega
*Berlebihan, cepatlah pulang. Kamu lebih baik ada di sini biar gak repot aku terus-terusan kirim kamu poto* Rain
*Besok Aku pulang, sayang. Kamu keliatan banget kangennya sama Aku* Ega
*Kamu kali* Rain
*Ooh Aku jelas kangen banget, emangnya Kamu yang nggak bisa ngakuin perasaan sendiri* Ega
__ADS_1
*Ega nyebelin. udahlah Aku mau setrika baju dulu* Rain
*pasti cuma pake tanktop dan hotpans. Kirim ya potonya* Ega
Rain mendengus kesal menyimpan ponselnya di bawah bantal. Bisa gila rasanya menghadapi sikap Ega. Sedangkan Ega hanya senyum-senyum membayangkan raut wajah Rain yang memerah dan jantungnya pasti berdebar kencang.
Saat seperti itu Tania menghampiri Ega. Tanpa permisi duduk di samping Ega dan langsung merangkul lengan Ega seraya menyenderkan kepalanya di bahu Ega. Ega berusaha melepaskan namun pegangan Tania sangat kuat. Saat dari kejauhan berhasil mengambil poto keduanya barulah Tania mengalah melepaskan Ega. Ega beranjak meninggalkan Tania.
"Dasar cewek gila." Umpat Ega. Rasanya sudah benar-benar kesal dengan acara itu. Ega memutuskan untuk kembali saja ke Kotanya tanpa menunggu besok. Ega segera mengirimkan pesan kepada Pak Rakha.
*Baiklah, lain kali ajak kemanapun Rainmu itu. Repot kalau sudah begini kan? Kamu memang anakku* ciih Ega mendengus kesal. "Papa pikir Aku perusak wanita seperti Papa."
Ega segera merapikan bawaannya dan terbang saat itu juga. Ega memang penuh perhitungan dia sudah menyiapkan tiket jika saja hal seperti ini terjadi.
Rain selesai menyetrika, dia segera ke dapur mengambil minum dan kembali ke kamar. Sambil meminum air putih hangat Rain membuka ponselnya. Betapa kagetnya Rain membuka pesan groupnya penuh dengan komentar tentang Tania dan Ega.
__ADS_1
Rain menggeser-geser ponselnya. Menemukan sebuah poto. Tania dan Ega. Tania terlihat merangkul lengan Ega dengan kepalanya menyender di pundak Ega sementara Ega sendiri tertunduk. Rain lemas seketika. Tenggorokannya terasa sakit. Jantungnya berdebar hebat. Darahnya seakan mendidih. Rain kesal sekali, Rain menangis sejadi-jadinya. Terbakar cemburu.
Di saat seperti itu ponsel Rain berbunyi. Panggilan masuk dari Sela. Rain segera menjawab panggilan Sela
"Rain loe nggak apa-apa? Rain Loe jangan kehasut sama omongan anak-anak. Gue yakin itu cuma akal-akalan Tania doang. Nggak usah didenger. Tunggu sampai Ega ngejelasin semuanya." Sela berkata panjang lebar.
"Aku cuma cemburu Sel, Aku percaya sama Ega. Aku cuma kesel sama omongan anak-anak" Jawab Rain di sela-sela tangisnya.
"Loe tenang aja, Gue yakin Ega pasti cepet beresin masalah ini." Sela berusaha menghibur Rain.
"Makasih ya, Sel." Ucap Rain sudah bisa menghentikan tangisnya.
"Sekarang Lo harus lebih terbuka tentang hubungan Lo dan Ega. Biar anak-anak tahu yang halu tuh Tania bukan Lo! " kata Sela lagi berapi-api.
"Nanti Aku bicarain sama Ega."
__ADS_1
"Ok, udah dulu ya. Loe kirim nomor Ega. Biar Gue yang bilang ke Ega. Gue tahu Lo pasti nggak bakal mau kasih tau Ega." Kata Sela lagi dengan nada memerintah lalu mematikan panggilannya. Rain segera mengirim nomor Ega pada Sela. Setelahnya Rain kembali menelungkupkan kepalanya di atas bantal.