
Setelah dirasa sedikit membaik Rain segera merapikan bekas sarapan suaminya yang ternyata tidak dihabiskan. Rain hari ini harus dapat pekerjaan, jadi Dia akan pergi lebih pagi.
Rain kembali menyusuri setiap toko dan kafe yang kemarin Dia hampiri. Sampai akhirnya langkahnya lebih jauh membawa Dia ke sebuah Sekolah Dasar karena melihat seseorang di depan gerbang itu. Seseorang yang sangat Dia kenal, Rain terus melangkah mendekati orang tersebut, dan
"Pak Darus!" Seru Rain setelah memastikan bahwa itu benar-benar Pak Darus.
"Hai, Rain. Kamu sedang apa?"
"Saya sedang jalan-jalan aja, Pak. Kebetulan rumah saya di sekitaran sini". Jawab Rain berbohong
"Saya sebetulnya mau masuk ke dalam, mau menjemput istri saya" Kata Pak Darus seraya menoleh ke dalam.
"Istri Bapak Guru?" Tanya Rain, ragu.
"Kepala Sekolah" Jawab Pak Darus.
Tiba-tiba datang seorang wanita menghampiri keduanya.
"Ayah, kirain belum sampai?" ucap wanita itu yang langsung dipeluk oleh Pak Darus.
"Nah, Rain. Ini istri Saya. Dan Bun, ini Rain. Murid Ayah yang suaranya bagus itu" Pak Darus memperkenalkan keduanya.
Rain menyalami istri Pak Darus seraya menyebut nama, begitupun istri Pak Darus yang menyebutkan namanya
"Rika" Katanya ramah.
__ADS_1
"Ayo, Rain ikut masuk dulu". Ajak Bu Rika dan diangguki oleh Rain. Karena Rain merasa tidak enak jika menolak ajakan Pak Darus dan istrinya itu.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang bisa dipastikan itu adalah ruang Bu Rika. Bu Rika dan Pak Darus mempersilahkan Rain untuk duduk.
"Siswa barunya banyak, Bun?" Tanya Pak Darus pada istrinya
"Banyak, lebih banyak dari tahun kemarin".
"Rain juga cita-citanya ingin jadi Guru lho Bun, iya kan Rain?" Kata Pak Darus seraya menoleh pada Rain yang sedang melamun, memikirkan siapa sebenarnya perempuan yang datang k rumah bersama Ega.
"Rain!" Panggil Pak Darus.
"Eeh iya Pak, ada apa?".
"Kamu, melamun ya?" Tanya Bu Rika.
"Oh, Rain. Kalau mau Kamu bisa lho sambil ngajar aja di sini. Kebetulan di sini sedang membutuhkan tenaga pengajar. Ya walaupun Guru bantu". Ucap Bu Rika. Mata Rain berbinar mendengar ucapan Bu Rima. Apa ini jawaban dari Tuhan atas salah satu do'a nya?
"Waah kebetulan, Bu. Saya juga lagi jenuh banget di rumah terus. Perkuliahan baru dimulai september nanti" Jawab Rain mulai tertarik dengan obrolan ini.
"Tapi, honornya nggak besar Rain" Kata Bu Rika.
"Nggak apa-apa, Bu. Sekalian saya juga cari pengalaman" Jawab Rain dengan hati berbunga-bunga.
Setelah disepakati bahwa Rain akan mulai bekerja besok, Rain segera pamit.
__ADS_1
"Jadi, ini rencana-Mu Yaa Rabb? Terimakasih". Gumam Rain seraya melangkah untuk menyetop angkot.
******
Di kamarnya Rain merasakan kehampaan yang sangat mendalam. Rain duduk di atas ranjang sambil membuka-buka galeri di ponselnya dan menatap lekat potonya bersama Ega. Air matanya kembali berderai manakala ingatannya menangkap sosok perempuan itu. Rain merasakan tubuhnya melemah seketika, ponselnya terjatuh dari tangannya.
"Mas, inikah yang Kamu mau? Membuatku sakit dan akhirnya menyerah dengan semua ini. Mas, tidak bisakah Kamu mencintaiku lagi?" Rain terus bicara sendiri sampai akhirnya tubuhnya semakin melemah dan tertidur dengan sejuta luka mendalam.
Pagi setelah membuat sarapan Rain bergegas kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk berangkat kerja di hari pertamanya.
"Semangat, Rain".
Kemarin sore Rain sudah memberitahu pada Bibi bahwa hari ini akan mulai bekerja.
Bibi yang sedang menemani Ega sarapan mulai membuka percakapan
"A, Aa nggak pernah kasih uang ke Neng Rain?"
Ega yang sedang mengunyah menoleh sekilas dengan wajah kesal karena Bibi membicarakan Rain sepagi ini.
"Neng Rain hari ini mulai bekerja, Dia nggak berani bilang sendiri karena takut Aa malah memarahinga atau mendiamkannya".
Ega masih tidak menjawab. Kelakuan Ega membuat Bibi kesal. Bibi menangis
"A, Bibi nyesel dulu sempat menjodohkan Aa dengan Neng Rain. Lihat, A. Besok-besok bahkan Bibi sendiri yang akan menyuruh Neng Rain pergi ninggalin Aa. Neng Rain orang baik. Bibi percaya sama Mereka. Semoga di saat Aa tahu kebenarannya, Neng Rain bisa memaafkan semua kesalahan Aa".
__ADS_1
Brukk. Bibi menggebrak meja dan meninggalkan Ega dalam keadaan mematung.