
Dibantu Bibi, Ibu membawa Rain ke kamar tamu. Melepas hijab anaknya. Mengolesi dahi dan leher Rain dengan minyak telon. Bibi memijat-mijat kaki Rain. Ega dilarang melihat apalagi menyentuh Rain. Tak lama Rain sadar, kepalanya terasa berat.
"Bu, Rain haus". Rain berusaha duduk dibantu oleh Ibu. Bibi mengambilkan minum yang ada di meja rias.
"Bu, Rain mau pulang". Rain dengan mata sembab dan suara parau menatap sendu Ibu yang berusaha tegar.
Ibu mengangguk, lalu katanya
"Bi, tolong bereskan barang-barang Rain di kamar Ega ya"
Rain menggeleng
"Kamarku di sini, Bu. Barang-barangku di sini".
Ibu sekali lagi merasa ditampar. Putrinya mengalami kesulitan dan Dia baru mengetahuinya sekarang.
"Bagaimana Kamu bisa menjalani ini tanpa memberitahu Ibu?" Ibu meraih tubuh anaknya yang baru dia sadari semakin mengecil. Ibu mengurai pelukkannya, meraba setiap jengkal wajah putrinya.
"Bereskan sekarang juga barang-barang Rain, Bi. Aku akan memesan taksi online". Ibu meraih ponselnya dan memesan taksi online. Dirapikan rambut putri kesayangannya itu lalu kembali dipakaikannga jilbabnya.
Sementara itu Ega dan Pak Riko masih duduk di ruang tamu.
"Lalu om Reza dan Mama meninggal?"
__ADS_1
Tanya Ega yang masih terduduk di lantai.
"Rumah itu dibakar oleh Rakha, Dia pikir di dalamnya ada Zein. Saya sendiri yang mengurus dua jenazah itu. Rakha memintanya untuk dikebumikan di Bandung. Reza sendiri adalah anak panti asuhan yang tidak memiliki keluarga". Pak Riko kembali ke mode awal, sebagai bawahan Ragga sekarang.
"Mama mawar?"
"Mawar dibunuh oleh Rakha karena berusaha membawa Kamu kabur saat itu"
Ega sudah semakin membenci Papanya. Bagaimana bisa dendamnya itu sampai menyakiti bahkan menghilangkan nyawa banyak orang.
Ibu dan Bibi sudah selesai mengemas barang-barang Rain.
"Neng, Bibi sedih kenapa harus jadi seperti ini? bukankah Aa juga adalah korban dari kejahatan si neraka jahanam?" Bibi merasa tidak rela jika Rain pergi apalagi berpisah.
"Kasih Aku waktu ya, Bi". Rain meraih kedua pipi bibi dan menciumnya bergantian.
"Maaf ya, Bi. Saya ingin Aa mu itu merenungi kesalahannya". Ibu memeluk tubuh gempal itu.
"Kalian jangan berpisah, biarkanlah Aa merasa bahagia di dalam hidupnya" Pinta Bibi masih berusaha menahan kepergian Rain.
Rain dan Ibu hanya tersenyum kembali memeluk Bibi. Ponsel Ibu bergetar. Driver taksi online sudah menunggu di depan gerbang.
Ibu membawa satu koper dan Rain juga membawa satu buah tas besar. Rain menyapukan pandangannya di seluruh ruangan kamar itu. lalu melangkah dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Ega dengan tak berdaya mencegah kepergian Rain, seperti anak kecil Dia menghalangi Rain dan Ibu di depan pintu.
"Jangan mempersulit keadaan, Mas" Rain memohon, tidak lagi menangis.
"Berjanjilah untuk kembali" Ega dengan linangan air mata berusaha menggapai tangan Rain yang terus menepisnya.
"Jangan gantungkan harapan pada manusia jika tidak ingin kecewa, Mas. Aku butuh waktu untuk menerima semua ini" Rain berusaha tersenyum walau sulit.
"Aku izinkan Kamu keluar dari sini, Aku izinkan Kamu menginap di rumah Ibu. Jaga kehormatanmu saat jauh dariku" Entah dapat bisikkan dari mana Ega bicara seperti itu. Itu di luar dugaan Ibu dan juga Rain. Jujur saja Rain merasa tersentuh.
Ega meraih tas besar yang dibawa Rain juga koper yang dibawa Ibu.
"Aku anggap Kamu mau nginep ke rumah Ibu, kalau mau nginep harus izin dulu dong sama suami" Linangan air mata itu seolah hilang begitu saja. Suara lembut Ega menggetarkan hati Rain.
"Mas, jangan kaya gini". Rain menunduk, bimbang.
"Aku titip istriku ya, Bu. Aku akan merindukannya". Ega mendahului langkah Ibu dan Rain. Pak Riko tersenyum melihat tingkah tuan mudanya.
"Kamu yakin mau pulang?" Ibu menyentuh bahu Rain yang sedang tertunduk.
"Seenggaknya biarkan Aku dan Mas saling berintropeksi Bu. Aku kemarin sudah berusaha mempertahankan rumah tangga ku. Sekarang giliran Mas dong" Rain tertawa kecil, hatinya membaik.
"Neng teh mau balas dendam ceritanya?" Bibi senang ternyata Ega dalam sekejap bisa meluluhkan hati Rain.
__ADS_1
"Sedikit, Bi" Jawab Rain disambut tawa kecil Ibu dan juga Bibi. Mereka melangkah keluar bersamaan dengan hati yang lebih lega dan ikhlas.
Mas, Aku selalu mencintaimu dari awal perjumpaan kita. Itu tak akan berubah.