
Hari terakhir ujian. Ega sudah sangat senang, itu artinya dia bisa kembali berlama-lama dengan Rain. Ega yang lebih dulu menyelesaikan ujian sengaja menunggu Rain di depan kelas. Setelah 15 menit Rain pun selesai dengan ujiannya dan langsung ke luar kelas.
"Sayang, aku kangen banget." Seru Ega saat Rain tiba di hadapannya.
"Tiap hari juga ketemu, masa kangen?"
"Ketemu tapi dicuekin, sama aja bohong." Jawab Ega mengacak rambut Rain.
"Ayo, antar Aku pulang!" Kata Rain sambil berjalan tanpa menunggu Ega menjawab. Ega segera menyusul Rain dan mensejajarkan langkahnya. Ega meraih tangan Rain dan menggenggamnya.
Rain yang biasanya menolak kali ini membiarkannya walaupun hatinya sudah berdesir hebat. Seperti biasa setelah Rain memakai sabuk pengaman dan menutup bagian kakinya dengan kain Ega melajukan mobilnya. Rain sejujurnya juga rindu dengan kekasihnya itu. Rain terus melirik wajah tampan Ega tanpa bicara.
"Yang, Aku boleh mampir nggak ke rumah kamu?" tanya Ega. Rain yang masih fokus melirik Ega tidak mendengar pertanyaan Ega.
"Yang!" seru Ega. Rain masih fokus melirik Ega. Ega mendengus kesal dan langsung menepikan mobilnya.
"Lho koq berhenti?" Tanya Rain.
"Abis Kamu nggak jawab Aku nanya juga. Masa kamu nggak denger? Kamu mikirin apa sih? Atau ada cowok lain ya gara-gara beberapa hari kita jarang ketemu? Aku kesel tau, Yang!" Ega sepertinya marah.
"Bukan gitu, Aku tadi cuma... " Rain menggantung bicaranya menggigit bibir bawahnya. Ega menunggu Rain melanjutkan bicaranya.
__ADS_1
"Aku cuma, cuma lagi lirik wajah Kamu. Aku kangen banget sama Kamu. Aku lagi nginget-nginget saat pertama kali liat kamu dan langsung suka Kamu. Mana ada cowok lain. Kamu udah ngambil seluruh perhatian Aku. Aku nggak bisa lihat yang lain selain kamu" Rain berkata panjang lebar sampai terisak. Mengeluarkan rasa yang selama ini tertahan.
Ega kaget dengan kelakuan Rain. Ega tidak menyangka jika Rain memiliki perasaan sedalam itu. Selama ini Ega pikir perasaannya lah yang paling dalam. Bahkan Ega saja baru tertarik pada Rain saat mengantar Rain berobat. Ega segera mengambil kedua tangan Rain lalu menciuminya lembut.
"Maaf sayang, Aku nggak berniat menyakitimu. Please jangan nangis." Kata Ega tanpa melepas genggamannya. Rain mulai menguasai dirinya, mengatur nafasnya.
"Kamu nggak salah, Aku terlalu perasa. Aku terlalu suka melihat wajahmu." Rain sengaja mencari mata Ega dan menatapnya dalam hingga membuat Ega merasakan hatinya berdesir. Debaran jantung Rain menjadi alunan nada indah di telinga Ega. Ega tersenyum tanpa
melepaskan tatapannya.
"Jadi Aku boleh mampir ke rumahmu?" Tanya Ega
"Nggak usah, Ibu kan nggak ada di rumah."
"Nanti malam boleh ya?" Tanya Ega lagi
"Boleh, tapi kalau Ibu izinkan." Jawab Rain.
"Nanti Aku telpon Ibu." Balas Ega lalu melajukan kembali mobilnya.
Terik matahari siang itu nyatanya tidak memberhentikan aktifitas orang-orang siang itu. Lalu lalang kendaraan sangat padat meski tak macet. Ega dan Rain saling bertukar cerita selama perjalanan. Saling bercanda ria ditemani lantunan lagu dari radio. Sesekali keduanya ikut melantunkan lagu kemudian saling melirik dan melempar senyum.
__ADS_1
Keduanya sampai tak merasa saat mobil sudah mulai memasuki halaman rumah. Setelah Ega menghentikan mobilnya, Rain segera beranjak turun. Namun, Ega menahannya dengan menarik pergelangan tangannya.
"Aku mau telpon Ibu, aku loudspeak." Ega segera menelpon Ibu
"Hallo, assallamualaikum. Ada apa Ga?
"Waalaykumsalaam, Tante nanti malam aku boleh ke rumah Tan?"
"Tanya Rain dong, kan yang mau diapelin Dia bukan Tante."
"Kalau Rain mau diapelin, Aku boleh dateng?"
"Boleh, yasudah Ibu masih ada kerjaan. Assallamuallaikum."
Ibu segera mengakhiri panggilannya tanpa menunggu Ega menjawab salamnya.
"Gimana?" Tanya Ega setelah mengakhiri panggilannya.
"Iya, boleh." Jawab Rain seraya tersipu.
Ega mengacak Rambut Rain lalu menyentl ujung hidung Rain. Rain segera turun dan melambaikan tangannya setelah menutup kembali pintu mobil. Setelah memastikan Rain masuk ke dalam Ega segera melajukan mobilnya untuk pulang.
__ADS_1