Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Extra part


__ADS_3

Sore itu Rain sedang menyiapkan keberangkatan dirinya beserta suami dan anaknya untuk menginap ke Jakarta.


"Ibu benar-benar tidak ingin ikut?" Sekali lagi Ega bertanya pada Ibu yang menyatakan lebih baik di rumah mengawasi restoran.


"Iya, Ibu di rumah saja sama Tante Alis". Jawaban Ibu masih sama.


"Nanti siapa yang temenin Kaf kalau Bunda sama Baba jemput Adek lagi biar cepet bobok di perut Bunda kalau Enin nggak ikut?". Kaf ikut protes dengan keputusan Eninnya.


Pertanyaan Kaf membuat Ibu, Rain dan Ega saling melempar pandang. Ibu dan Rain membulatkan mata pada Ega.


"Malam ini tidak usah jemput adek bayi dulu, ya. Kasihan bundanya capek". Ega memberikan alasan.


"Ya sudah nggak apa-apa". Jawab Kaf tidak lagi memaksa.


"Hati-hati ya, Kalian. Nanti telpon Enin ya sayang". Ibu mengecup kedua pipi cucunya lalu mereka bertiga bergantian menyalami Ibu.


****


Sudah isya saat keluarga kecil itu tiba di hotel tempat mereka menginap. Saat Maghrib mereka sempat mampir sholat di mesjid. Ega menggendong Kaf karena tertidur di dalam perjalanan. Mereka memasuki ruangan VIP dengan tempat tidur yang lumayan besar.


"Ini kan kamar yang Kamu pesan buat malam pertama Kita ya Mas?" Rain masih ingat dengan kamar itu.


"Tapi reprodukasi tidak terjadi di sini, malah di kamar pengantin wanita dan pagi nya diledek Ibu karena mencuci sprei". Ega mengingatkan malam indah mereka itu.


Direbahkan tubuh Kaf dengan sangat hati-hati. Namun, Kaf malah terbangun dan menggeliatkan tubuhnya.


"Bundaaa, Kaf haus". Kaf merengek pada Rain. Rain hanya tersenyum lalu mengambil sebotol air mineral dari dalam tas besar. Kaf langsung menenggak minumnya setelah membaca do'a.


"Kaf mandi dulu yuk, nanti lanjut tidur". Ajak Rain dan Kaf mengangguk. Rain membawa anaknya ke dalam kamar mandi setelah membuka kerudungnya.


Malam itu mereka tidur dengan lelap melepas lelah setelah melakukan perjalanan sore hari tadi. Besok sekitar pukul 10:00 Pernikahan Riko dan Mika akan di langsungkan di hotel yang sama tempat mereka menginap.


🍂🍂🍂

__ADS_1


Acara digelar dengan sangat mewah meski Sang pengantin pria sudah tak lagi muda. Sepanjang acara Ega tidak melepaskan rangkulannya di pinggang ramping istrinya. Tingkah menggemaskan Kaf dengan wajahnya yang tampan menjadi daya tarik tersendiri saat Ega mengenalkannya pada rekan bisnis. Kaf sampai merasa kesal karena berkali-kali mendapat cubitan bahkan kecupan dari para istri rekan kerja Babanya.


"Kaf kenapa, koq cemberut. Sudah bosan?". Rain mengelus kepala anaknya yang kini tengah duduk menikmati hidangan namun tak jua Kaf melahapnya.


"Pipi Kaf sakit, Bund. Panas". Kaf mengusap-usap kedua pipinya. Ega dan Rain hanya tertawa kecil melihat tingkah putranya.


"Tapi Kaf harus makan, kan sebentar lagi Kita mau pulang. Bunda suapin ya?" Rain membujuj Kaf.


"Tidak mau, Kaf sudah besar. Kaf makan sendiri" Kaf mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


Tiba-tiba ada seseorang menyapa keluarga kecil itu.


"Permisi, selamat siang!" Itulah suara Cecil yang menghampiri meja Mereka. Cecil datang bersama Frea dan seorang pria.


"Hai, Cil. Waah akhirnya bertemu di sini". Rain segera berdiri dan menyalami Cecil.


"Hai, Kaf. Kenapa pipimu merah?" Frea ikut menyapa Kaf yang terlihat menggemaskan dengan pipi yang penuh makanan. Kaf berusaha dengan cepat menelan makanannya agar dapat bicara menjawab pertanyaan Frea.


"Ehm, baiklah. Sayang nggak apa-apa kan Kita duduk bareng Mereka". Cecil bertanya pada sosok pria yang dari tadi menggandengnya.


"Iya, no problem". Pria itu segera duduk dan membawa Frea ke dalam pangkuannya.


"Rain, Ga. Kenalin nih, suami Gue. Papinya Frea". Cecil dengan wajah berbinar mengenalkan suaminya pada Rain dan Ega.


"Noah"


"Ragga"


Ega dan Noah saling menjabat tangan dan menganguk seraya melempar senyum tipis.


"Saya, Rain". Rain hanya mengatupkan kedua tangannya di bawah dagu sebagai salam perkenalan.


"Seperti familiar ya, wajah Kak Noah?" Rain mengingat seseorang saat melihat wajah Noah.

__ADS_1


"Dia aktor terkenal itu sayang, yang sinetronnya suka ditonton Tante Alis". Ega sedikit berbisik namun tetap saja didengar Cecil dan Noah.


"Loe lupa pas hari pesta pernikahan Loe kan Ega udah bilang Gue pacaran sama artis? nah ini orangnya". Cecil menepuk-nepuk bahu suaminya yang tersenyum pada Rain.


"Ooh sorry, Aku jarang nonton tv soalnya". Rain merasa malu sendiri.


"Kaf, Frea seneng lho sekarang udah punya Papi. Jadi Kaf tidak usah repot buat jaga Frea. Sekarang Frea tidak nangis lagi karena diganggu teman". Frea menunjukkan rasa bahagianya dengan senyum lebar.


"Alhamdullillah kalau gitu, Fre. Sekarang Kaf tidak khawatir lagi saat Frea jauh dari Kaf". Kaf membalas senyum bahagia Frea.


"Kaf kemarin-kemarin sempat merajuk terus karena Frea pindah". Rain memberitahukan kelakuan Kaf seminggu terakhir.


Frea terlihat merasa bersalah mendengar cerita Rain. Frea tiba-tiba saja membuka ikatan tali rambutnya. Dia membuang beberapa lembar rambut yang menempel pada tali rambutnya.


"Kaf, simpan ini. Frea tidak bisa kasih Kaf barang untuk kenang-kenangan karena Frea tidak punya uang". Frea memberikan ikat rambutnya pada Kaf. Kaf menerimanya dengan senang hati. Lalu Kaf berfikir untuk membalas memberikan sesuatu pada Frea. Dirogohnya saku jasnya dan dikeluarkannya sebuah gantungan berbentuk kucing yang terbuat dari kayu.


"Ini juga buat Kamu, Aku membuatnya sendiri saat kemarin di sekolah, dibantu Bunda sih". Kaf melirik bundanya yang sedang tersenyum melihat tingkah kedua anak kecil itu.


"Makasih ya, Kaf. Janji ya jangan lupakan Aku". Frea mengangkat jari kelingkingnya lalu Kaf membalasnya dengan menautkan jari kelingking di jari Frea.


"Frea, Kata Baba wanita itu akan cantik jika rambutnya tidak diikat. Jangan mengikat rambutmu kecuali saat berada di dekatku". Kaf melepaskan tautan kelingkingnya di jari Frea.


"Kamu tahu dari mana kata-kata itu?" Cecil penasaran dengan perkataan Kaf.


"Aku suka dengar saat Baba bicara itu pada Bunda. Aku juga suka lihat jika sedang mencuci piring Baba sengaja menarik ikat rambut Bunda agar rambut Bunda terurai". Kaf menjelaskan alasannya menyuruh Frea tidak mwngikat rambut.


"Anak udah besar masih aja Kalian bucin". Cecil mencibir Rain dan Ega.


"Kamu mau juga Aku tarik ikat rambutnya saat mencuci piring?" Noah menggoda Cecil.


"Aku kan tidak pernah cuci piring". Cecil dengan nada sombong menjawab perranyaan suaminya.


"Istri artis". Ega balas mencibir Cecil dan meledaklah tawa dua keluaraga kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2