Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Kado Ulang Tahun


__ADS_3

Rain terus berlari hingga ke tempat mobil terparkir. Dia berdiri di depan mobil memasang wajah cemberut.


"Koq cemberut sih? nanti cepet tua lho!" Seru Ega terengah-engah.


"Buruan, pulang!" Rain tetap kesal.


Dengan cekatan Ega membukakan pintu untuk Rain.


"Makasih!" Kata Rain ketus. Ega hanya tertawa menggeleng sambil masuk ke balik kemudi.


"Pulang nih? kan janjinya jam 9?" Tanya Ega sambil melaju.


"Ngga jadi, Aku udah bad mood!" beritahu Rain masih saja ketus.


"Aku nggak salah lho, Yang. Cewek itu tadi yang godain Aku!"Seru Ega.


"Kamu juga marah kalo Aku digoda sama cowok!"


"Aku kan marahnya sama cowoknya, bukan sama Kamu."


"Tapi Kamu tadi diem aja, pake bantuin beresin barang-barangnya. Udah tahu Dia modus!"


Baiklah, Ega menepikan mobilnya. Ega tidak mau memulangkan Rain dalam keadaan marah.


"Koq berehnti, Kamu mau nurunin Aku di sini?" Tanya Rain semakin emosi.


"Aku nggak mau Kamu pulang dalam keadaan marah." Jawab Ega hendak memegang tangan Rain namun segera ditepis.

__ADS_1


"Jangan pegang-pegang, tangan Kamu kotor abis megang barang-barang cewe tadi." tolak Rain.


"Ayolah, Yang. Aku harus gimana biar Kamu nggak marah. Aku teriak di tengah jalan bilang I love You Rain?"


"Nggak usah berlebihan," jawab Rain dengan tatapan penuh belati.


"Terus gimana Yang?" Tanya Ega mengusap wajahnya kasar, frustasi.


"Pokoknya sekarang Aku kesel, Aku marah, Aku cemburu. Aku nggak suka dibilang bukan pacar Kamu. Emangnya pacaran mesti mesra-mesraan terus gitu? Itu sih tadi emang ceweknya ganjen aja. Ngapain sampe ngikutin Kita. Aku kesel, Aku...." Rain menggantung kalimatnya dan, menangis seperti anak kecil.


Ega mengangkat tangannya hendak mengusap rambut Rain, namun....


"Aku nggak mau disentuh pake tangan kotor. Kamu tadi bantuin Dia. Tangan Kamu kotor!" Teriak Rain di sela tangisnya.


"Ok, menangislah sampai emosimu reda. Menangislah sampai puas dan kesalmu hilang. Aku akan mendengarkannya."


Beruntunglah Ega Kau menyebutkan kalimat itu. Sebab, wanita memang tidak suka saat disuruh berhenti menangis apalagi jika dibilang tangisannya berisik. Kau tahu, itu sama saja mengiris-iris hatinya. Rain terus saja menangis, hingga setelah 15 menit tangisannya mereda.


Ega tersenyum, membuka botol namun tidak diberikan pada Rain melainkan dipakainya mencuci tangan. Setelah itu dia mengelap tangannya dengan tisu dan kembali membuka botol baru dan memberikannya pada Rain sambil tersenyum. Rain segera mengambil dan


meneguknya.


"Sudah tenang? masih kesel?" Tanya Ega


"Sedikit." Jawab Rain menunduk.


"Rain, Aku nggak mungkin bisa berpaling dari Kamu!" Kata Ega memegang tangan Rain.

__ADS_1


"Nggak ada yang nggak mungkin, kalau bicara jangan asal!" Seru Rain masih menunduk.


"Ya pokoknya cuma Kamu yang Aku sayang, Aku serius". Kata Ega dengan suara melemah.


"Aku tahu tapi... Lagi-lagi Rain menggantung kalimatnya.


"Jangan ragu, Rain. Anggap itu semua godaan buat hubungan Kita. Jangan sampai Kita gegabah dalam bertindak." Kata Ega penuh keyakinan.


"Maaf, maaf karena Aku cuma takut kehilangan." Ucap Rain menaikan kepalanya dan menatap dalam mata Ega.


"Aku senang Kamu cemburu, artinya Kamu cinta." Kata Ega balas menatap Rain.


"Aku punya sesuatu buat Kamu." Rain mengeluarkan kotak kecil dari tasnya.


"Selamat ulang tahun ya, Aku nggak bisa kasih apa-apa selain ini." Rain menyerahkan kotak itu yang langsung diterima Ega.


Ega membuka kotak itu dan terperangah melihat isinya. Sebuah foto mereka berdua mengenakan seragam sekolah yang diambil di dalam mobil Ega tempo hari.


"Ini?" Tanya Ega keheranan.


"Buat Aku nggak ada yang lebih berharga dari pertemuan dan kebersamaan Kita. Simpan foto ini baik-baik biar nanti kita sama-sama ceritakan ke anak cucu kita bahwa hari-hari indah Kita berawal dari sana."


Ucap Rain penuh keyakinan seraya menunjuk pada foto tersebut.


"Makasih, sayang" Ega merentangkan tangannya. Namun alih-alih dipeluk, Rain malah memukul bahu Ega.


"Ayo ah jalan lagi, nanti makan di rumah aja!" Rain segera merapikan kain yang menutupi kakinya.

__ADS_1


Ega hanya tertawa kecil seraya menyalakan kembali mobilnya. Baru beberapa menit melaju Rain sudah tertidur, wajahnya terlihat lelah dan terlihat sisa-sisa air mata membekas seperti anak sungai di pipinya. Ega mengusap halus pipi Rain dan mengecupnya sekilas.


'Anggap Aja hadiah ulang tahun' batinnya. Bisa dibombardir kalau saja Rain tidak tidur.


__ADS_2