
"Mas, minggu depan Mas inget kan hari apa?" Rain yang sedang merapikan lemari pakaian suaminya bicara tanpa menoleh ke arah suaminya yang sedang sibuk mengerjakan tugas di meja belajar.
"Ya hari minggu lah, aneh-aneh pertanyaannya" Ega serius sekali mengetikkan sesuatu di laptopnya.
"Mas, hari sabtu kita ke taman bunga ya. Aku waktu ke puncak acara kampus sempet ngelewatin taman bunga itu".
"InsyaAllah ya, Aku banyak kerjaan. Aku juga banyak ketinggalan materi nih". Ega beranjak lalu berdiri di belakang Rain melingkarkan tangannya di perut Rain. Rain merasa kecewa dengan jawaban suaminya hanya mencebikkan bibirnya.
"Sholat sunnah dua rakaat yu sebelum tidur" Ega sedikit berbisik dibalik telinga Rain yang memakai hijab instan warna hitam.
"Aku lagi haid, Mas. Lebih sabar dikit lagi ya. Tunggu seminggu lagi". Rain mengusap rambut Ega tanpa menoleh.
"Huh, udah mau enam bulan ini Yang, still virgin". Ega mencium sekilas pipi Rain dan kembali duduk di depan meja belajarnya. Rain hanya tertawa
"Sorry Mas, ini di luar kuasaku".
__ADS_1
Ega hanya menoleh sekilas lalu mengerlingkan matanya, Rain tertawa dan menutup kembali lemari suaminya yang sudah rapi.
🍂🍂🍂
Suara hujan yang yang turun sejak dini hari tadi menambah Rain enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Padahal sudah pukul 05:30 bahkan suaminya sudah terbangun sejak pukul 03:30 tadi. Rain bersyukur semenjak pulang kembali ke rumah Ega, Dirinya tidak perlu repot-repot membuat sarapan terlalu pagi sebab tidak harus lagi sembunyi-sembunyi. Gemuruh suara hujan seperti menina bobo kan tidur Rain, sedikitpun tidak terusik padahal sesekali petir menyambar.
Ketukkan pintu kamarpun tak membuat Rain terusuk, Dia benar-benar nyenyak. Ega yang baru pulang dari mesjid dan masih mengenakan sarung dan koko duduk di sebelah Rain yang masih terlelap. Ega menelusuri lekuk wajah Rain. Mulai dari dahi, alis, hidung sampai di bibirnya. Rain masih tak terusik. Ega tersenyum lalu terbesit niat jahilnya untuk mencium seluruh wajah istrinya itu. Di dahi, masih tak terusik. Di kedua mata, tidak mempan juga. Dikedua pipi, tetap sama. Baiklah, Ega menempelkan bibirnya di bibir Rain, sebentar. Masih tidak terusik juga.
Ega beranjak, membuka gorden dan membiarkan jendela terbuka. Dengan angin yang kencang, tempias air hujan masuk ke dalam kamar lewat jendela yang Ega buka.
Rain yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos tanpa lengan mulao merasakan dingin mwnerpa kulitnya. Matanya mulai mengerjap dan menggeliatkan tubuhnya. Rain mengucek matanya lalu duduk dan membuka matanya lebar. Bibirnya langsung melengkungkan senyum manakala saat membuka mata Dia langsung disuguhkan dengan pemandangan hujan besar dari jendela. Rain beranjak ke depan jendela dan bisa merasakan tempias air hujan di sana.
"Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang Kau dustakan". Ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur. Ega yang sedari tadi berdiri di tepi ranjang sama sekali tidak dihiraukan oleh Rain.
"Gilaa, Dia lebih milih nyapa hujan daripada Gue?". Ega gemas dan langsung berlari menuju istrinya lalu memeluknya dari samping.
__ADS_1
"Seneng ya lihat hujan, sampai suami sendiri nggak dilirik?" Sindir Ega yang masih mengenakan koko dan sarung. Rain tertawa riang, rambutnya yang berantakan memberikan kesan sexy pagi ini.
Rain meneliti penampilan suaminya.
"Waah, Allah pagi-pagi udah kasih pemandangan yang indah ini sih. Hujan yang lebat sama titisan surga yang bikin melting gini. Rezeki anak sholehah ini sih". Rain senyum-senyum sendiri karena menurutnya kadae ketampanan suaminya akan meningkat 100 persen saat menggunakan koko dan sarung.
"Lebay, Ayo bikin sarapan. Ini udah jam 6 tahu. Tidur nyenyak banget sih. Sampe digrepe aja nggak terusik. Jangan-jangan emang doyan ya digrepe-grepe" Goda Ega dan membuat Rain otomatis menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Mesum, cuci pakai Rinso itu otak". Rain berlari, namun baru sampai di depan pintu Dia berhenti dan berkata
"Awas ya berani sekali lagi grepe Aku pas tidur, Aku hajar Kamu Mas". Ega mengepalkan tinjunya.
"Ya udah Aku grepenya pas lagi bangun aja ya" Ega mulai melepas koko dan sarungnya. Rain tidak menjawab Dia membuka pintu lalu menutupnya kembali dengan keras.
"Dasar polos, tapi cinta sih". Ega segera ke kamar mandi. Semenjak kepulangan beberapa hari lalu kebawelan Rain meningkat hingga 100 persen. Ega tidak boleh melakukan sedikit saja kesalahan. Bisa-bisa Rain akan mengomel seharian dan membahas hal-hal yang itu-itu saja. Perkara handuk basah ditaruh di atas kasur saja bisa jadi kasus paling mengerikan dan dibahas sehari semalam oleh Rain. Ega hanya pasrah.
__ADS_1