
Satu jam setelah menangis, Ibu merasakan tenggorokannya kering. Ibu bergegas beranjak dari tempat tidurnya hendak ke dapur. Saat pintu sudah terbuka Rain segera berdiri
"Ibu...." mata Rain yang sembab menatap Ibu pilu.
"Kamu kenapa sayang? Mana Ega dan Bibi?"
"Ibu...." Bukan menjawab Rain malah berhamburan ke pelukan Ibunya dan dalam isaknya dia berkata, "Ibu jangan nangis sendirian, Ibu selalu seperti ini."
"Ibu nggak nangis, Ibu habis tidur." Ibu mengelak.
"Mana ada orang tidur sesenggukan."
"Mungkin Ibu mendengkur." Ibu tetap berkilah.
"Bu, berhentilah menyimpan segala beban sendirian!" Rain menarik tubuhnya dan menatap Ibu lekat, lalu katanya lagi, "Aku udah besar bukan gadis kecil lagi."
Ibu tertawa merapikan rambut Rain.
"Iya sudah besar, sampai mau dinikahin sama pacarnya! "
Seru Ibu menyentil hidung Rain.
"Buu, Aku bisa menolak kalau Ibu nggak restuin." Ucap Rain menunduk.
"Emmm, emang sanggup jauh-jauh dari Ega?"
__ADS_1
Rain mengangguk tanpa menatap Ibunya.
"Ibu bukan nggak restuin tapi masih kaget aja bayi Ibu sekarang udah besar. Udah bisa memikat." Ibu terkekeh tapi, terlihat menahan tangisnya.
"Selamanya Aku anak Ibu, bayi Ibu." Rain menenggelamkan wajahnya di dada Ibu. Ibu dengan halus mengusap kepala Rain mengecup pucuk kepala Rain.
"Ibu akan setujui niatan Ega, tapi untuk saat ini biarkan Ibu memikirkannya." Ibu membisik di telinga Rain.
Rain mendongakan wajahnya, menatap Ibu dengan mata berbinar
"Ibu, makasih. Love you!" Seru Rain kembali memeluk Ibu erat.
*****
Selama ujian Rain meminta Ega untuk tidak mengantar jemput saat ke sekolah. Rain juga meminta agar mereka tidak usah bertemu selain di sekolah. Rain ingin fokus dengan ujian. Walaupun hanya ujian semester tetap Rain ingin melakukan yang terbaik.
Siang itu saat hari pertama ujian setelah pulang Ega terus merajuk seperti anak kecil
"Yang, ini kan bukan ujian akhir kali. Masa sampai nggak boleh cuma anter jemput?"
Rain yang sebenarnya sudah ingin segera pulang merasa kesal dengan sikap kekasihnya itu.
"Aduuh Ga, seminggu doang. Tahanlah. Aku pengen fokus."
"Yaaang seminggu itu lama, bukan doang." Ega masih tetap merajuk.
__ADS_1
"Kamu lama-lama manja banget sih, Ga. Kita masih bisa ketemu di sekolah. Aku masih bawain Kamu bekel." Bujuk Rain. Dimana ada rajuk disitulah ada bujuk.
"Di sekolah nggak bisa peluk-peluk Yang." Bisik Ega yang langsung mendapat pukulan dari Rain.
"Koq dipukul sih, Kamu udah nggak sayang ya sama Aku?" Tanya Ega dengan raut sendu, entah itu benar-benar sendu atau hanya dibuat-buat. Rain mengacak
rambutnya frustasi.
"Ragga Hadiwijaya yang terhormat please jangan buat saya, Rain Khadija lebih marah lagi!" seru Rain sedikit mengencangkan suaranya. Ega seketika kaget dengan tingkah Rain, biasanya dia tak seperti ini.
"Ok, ok. Seminggu ya. Abis tiap hari pokoknya harus dibolehin apel." Ega mulai mengalah, terbujuk Dia.
"Tergantung, kalau nilai kamu sama kaya Aku boleh tiap hari apel. Apalagi kalau bisa melebihi Aku. Aku kasih bonus." Rain dengan sengaja membisik di telinga Ega.
Ega bersemangat demi sebuah bonus
"Ok, siapa takut"
"Tapi, nggak boleh curang. Awas kalo nyogok." Ancam Rain.
"Rain, kamu jangan gitu dong mikirnya. Pacar sendiri dikatain." Ega menyentil dahi Rain.
"ok, ya. Inget bonus." Kata Rain lagi sambil mencubit pipi Ega dan segera berlari pulang naik angkot.
Rain, Rain. Mana bisa gue nggak jatuh cinta tiap hari kalo loe kaya gini. Ega bicara sendiri sambil senyum-senyum dan memikirkan bonus yang akan diberikan Rain. Dia segera pulang dan akan fokus belajar agar nilainya di atas Rain.
__ADS_1