
Ega masih memeluk tubuh Rain dengan posisi yang sama. Tangis Rain mulai reda hanya menyisakan senggukan sesekali. Ponsel dalam tasnya berdering tanda panggilan masuk. Ega mengurai pelukkannya memberi ruang pada Rain untuk mengangkat teleponnya
📞Assallamuallaikum, Bu
📞Waalaikumsallaam, Rain. Ibu di depan rumahmu nih. Bukakan gerbangnya ya
📞Iya, Bu. Sebentar ya.
Ibu mematikan panggilannya.
"Mas, Ibu ada di depan. Nggak apa-apa kan Mas?" Rain menatap Ega cemas.
"Aku yang buka kan gerbang, Kamu cuci muka gih".
Rain mengangguk segera beranjak merapikan dirinya. Ega menghela nafas panjang dan dengan penuh keyakinan akan menemui Ibu mertuanya itu untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan tidak bertemu.
Dengan berlari-lari kecil Ega menuju gerbang rumahnya, pintu gerbang berhasil dibuka dan
"Assallamuallaikum"
"Waallaikumsallaam"
Ega dengan wajah kaku berusaha tersenyum menerima tatapan Ibu mertuanya.
__ADS_1
"Waah yang sekarang sudah jadi bos, sampai lupa nih sama Ibu mertua" Ibu tertawa seraya mengulurkan tangan dan buru-buru diraih oleh Ega.
"Sampai lupa juga ya gimana caranya menyalami mertua sendiri" Ibu menepuk-nepuk bahu Ega.
Ega tersenyum menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Ayo, Bu masuk. Ega kunci dulu gerbangnya" Ega merasa sangat canggung. Alih-alih mengindahkan ucapan Ega, Ibu malah memperhatikan menantunya mengunci gerbang tinggi itu. Ega yang tidak tahu Ibu masih berada di sana kaget sendiri saat membalikkan badannya.
"Lho, Ibu kenapa nggak masuk duluan?" Ega memegangi dadanya karena terlalu kaget.
"Ayo masuk sama-sama". Ibu segera melangkah dan diikuti Ega. Rain sudah menyambut kedatangan Ibunya di ambang pintu dengan berjingkrak-jingkrak kecil.
"Udah punya suami masih aja kaya anak kecil?" Ibu segera menyambut pelukan putri tercintanya itu. Ega harus setia berdiri di belakang Ibu yang sedang berpelukan dengan Rain sebab mereka melakukannya tepat di ambang pintu menghalangi jalan orang lain saja.
"Martabak keju coklaat" seru Ibu. Rain menerimanya dengan mata berbinar seraya mengendus bungkusan plastik itu.
"Wangi nya bikin pengen diabisin aja nih" Rain beranjak menarik tangan Ibunya lalu membawanya duduk di sofa ruang tamu. Akhirnya Ega bernafas lega. Setelah menutup pintu, Ega ikut duduk di sana dan ternyata bibi juga sudah bersama mereka.
"Waah tapi Bibi kan nggak boleh tuh makan yang manis-manis apalagi udah malem gini" Ega memperlihatkan jam tangannya tepat ke muka Bibi, dan langsung duduk di samping Rain. Bibi mendengus kesal.
"Mas, jangan gitu ih" Rain memukul lengan Ega pelan.
'pinter akting nih orang' batin Rain.
__ADS_1
"Rain ambil piring sama bikinin teh dulu yaa". Rain beranjak diikuti Ega di belakangnya.
"Aku bantuin ya" Sebetulnya Ega merasa masih sangat canggung terhadap Ibu mertuanya Itu. Jadi Dia memilih mengikuti Rain ke dapur
"Bibi apa kabar?" Ibu mengusap punggung Bibi lembut.
"Alhamdullillah semakin baik karena Neng Rain selalu kasih menu makan sehat" Jawab Bibi seraya melihat ke arah dapur. Terlihat Rain yang memukul bahu Ega, entah kenapa.
"Mereka setiap hari kaya gitu, Bi? romantis?" Ibu ikut-ikutan memandang ke arah dapur.
"Iya, Neng Ibu. Rumah jadi ramai setelah kedatangan Neng Rain" Bibi tersenyum tidak mau berbohong. Jika mengetahui bagaimana sikap Ega yang sebenarnya Ibu bisa-bisa malam itu juga membawa Rain pulang.
Sementara itu, di dapur pasangan suami istri itu sedang berdebat kecil meributkan perihal teh celup.
"Yaa ampun pelit banget sih Rain, teh nya saling satu aja nggak usah abis dicelupin di gelas ini Kamu celupin lagi di gelas satunya" Ega memperagakan cara Rain yang menyelupkan teh tawar.
"Satu teh cukup buat dua gelas, Mas. Jangan mubazir deh" Rain segera mengembalikan kotak teh celup ke dalam lemari.
"Aku bahkan bisa beli pabriknya, bukan cuma teh nya doang" Ega mendengus kesal.
"Dasar Hadiwijaya, SOMBONG" Rain menekan kata sombong pada kalimatnya lalu memutar bola matanya jengah. Rain menyusun gelas-gelas itu pada nampan tak lupa juga sebuah piring untuk menaruh martabaknya. Baru akan mengaangkat nampan itu, Ega menepis tangan Rain dan mengambil alih kegiatan Rain.
Rain tercengang dibuatnya, menatap punggung suaminya yang meninggalkannya.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan Kamu mengidap bipolar Mas?" Rain berjalan seraya memijat keningnya. Pusing dibuat tingkah Ega.