
Sebuah Al-qur'an lengkap dengan terjemahan. Dengan sampul berwarna peach dan pita warna warni untuk pembatas halaman. Rain terperangah, senang.
"Aku yakin sih kalau aku kasih kamu perhiasan pasti ditolak mentah-mentah," ucap Ega.
"Aku nggak suka perhiasan." Rain menjawab tanpa menoleh Ega sambil terus memperhatikan Al-qur'an tanpa menyentuhnya dan tetap membiarkannya di dalam kotak.
"Sukanya apa? " tanya Ega menyelidik.
"Suka kamu...." Rain menatap Ega dalam. Jadi salting deh Ega.
"Yang nggak usah pasang tampang manis gitu nanti aku khilaf pengen cicipin kamu." Ega membuang pandangannya.
"Emang bener kata Ibu nggak aman lama-lama berduaan terus!" Seru Rain menutup kotak kadonya.
"Makanya kita nikah secepetnya," timpal Ega
"Iya nanti kita bicara secepetnya ke Ibu." Kata Rain
"Serius Yang?"
"Seriuslah, nggak baik juga kan pacaran lama-lama. Lagian menikah itu ibadah. Ibu pasti bisa mengerti kita." Jawab Rain. Ada perasaan aneh saat mengucapkannya. Perasaan sedih sekaligus bahagia bersamaan menyelimutinya. Menikah berarti memulai hidup baru. Meninggalkan Ibu dan mengabdi sepenuhnya pada suami. Menikah muda berarti melepas masa-masa yang penuh gejolak. Namun, bukankah menikah muda itu akan seru? Apalagi bisa bersama setiap hari dengan orang yang kita cintai? Bersenda gurau dengan suami bukankah dapat pahala. Rain melamun memikirkannya.
__ADS_1
"Koq mukanya sedih sih Yang?." tanya Ega
"Enggak koq, ayo masuk ke rumah! Aku udah capek banget." Rain segera membuka pintu mobil dan beranjak diikuti dengan Ega. Mereka berjalan bersisian saat masuk Rumah.
Ibu dan Bibi sedang asyik menonton Televisi. Saking asyiknya salam dari Rain dan Ega tak mereka jawab
"Yaa Allah Buu, Bii jangan kebanyakan nonton sinetron deh. Ntar ketularan drama lho!" Seru Rain melihat tingkah Ibu dan Bibi. Ibu dan Bibi cuma cengengesan.
"Duduk dulu Ga, aku taruh ini dulu ke kamar"
Ega segera duduk dan Rain berlalu merapikan kotak kado dan gaunnua ke kamar. Lalu segera ke dapur mengambil segelas air putih hangat untuk Ega.
"Buu udah dong, Bu. Ibu biasanya melarang keras Rain buat lihat drama-drama gitu." Rain mengguncang bahu Ibu pelan.
Ibu tak menggubris
"Ibuu, malu lah sama ini." Kata Rain lagi sambil menarik-narik ujung hijab Ibu.
Ibu menoleh dan tersenyum malu
"Maaf sayang, Ibu ketularan Bibi nih!"
__ADS_1
"Iya udah jangan dilanjut. Cukup Bibi aja. Biar Bibi aja yang halu. Bisa repot nanti kalo Ibu ikut-ikutan," iimpal Rain bergelayut manja di lengan Ibunya. Bibi tetap asyik dengan tontonannya.
Ega segera menyadarkan Bibi
"Bii, udah ayo pulang. Nanti lanjut di rumah. Aku keburu ngantuk nih!"
"I-iiya Aa. Aa ganggu aja nih." Bibi pura-pura marah.
Setelah itu Ega dan Bibi mohon undur diri dan segera pulang. Setelah membersihkan badan Rain pun segera merebahkan tubuhnya di kasur. Rain senyum-senyum sendiri dengan banyak kejadian hari ini. Merasa beruntung dicintai begitu dalam oleh Ragga Hadiwijaya.
Ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Dari Ega tentunya
/selamat tidur, Sayang. Love You/
/Love You too, tidur yang nyenyak ya
Selalu ada kata-kata manis sebelum mereka mengakhiri hari. Ega yang awalnya terlihat sangat sombong dan angkuh nyatanya sangat manis dan perhatian pada Rain. Rain terlelap membawa senyum dan impian indahnya.
****************************************
Lanjut terus bacanya yaa. Ekpetasinya belum sebagus yang lain. Maaf masih belum bisa menggambarkan dengan jelas setiap episodenya.
__ADS_1