
Sebulan berlalu setelah kejadian itu, kini Ega sudah kembali dengan sifatnya yang hangat dan manis jika bersama Rain. Mereka pun hanya sesekali datang ke sekolah dan sisanya mereka akan menghabiskan waktu di rumah.
Mereka berdua juga sudah lebih sering jalan berdua. Menurut Rain ternyata benar, ngedate itu asyik.
Siang itu mereka sedang berada di atap gedung tinggi. Gedung mewah ini adalah perusahaan milik Pak Rakha.
"Aku kira Pak Rakha itu cuma sebagai pemilik yayasan lho, ternyata punya perusahaan dengan karyawan yang banyak juga!" Seru Rain yang sedang berdiri di pinggir atap memandangi bangunan-bangunan yang terlihat seperti miniatur.
"Kamu akan menjadi menantu orang kaya" Ucap Ega yang berdiri di samping Rain.
"Huh, sombong!" Rain menyikut perut Ega.
"Kalau Aku miskin, Kamu masih cinta nggak sama Aku?" Tanya Ega serius.
"Aku tuh udah jatuh cinta sama Kamu dari pertama liat Kamu tanpa berfikir Kamu ini kaya atau enggak." Jawab Rain penuh penekanan.
Ega hanya tertawa, jelas saja Ega sudah tahu Rain bukan gadis matre seperti mantan-mantannya dulu.
"Lagipula, Aku lebih pengen Kamu itu bukan anak Pak Rakha. Aku pengen Kamu biasa aja kaya Aku. Aku takut dengan latar keluarga Aku, bikin Kamu merasa malu di depan rekan-rekan bisnis Kamu" Rain menunduk dengan wajah sendu.
"Hei, Sayang. Jangan berfikir seperti itu. Aku akan potong lidah orang yang berani menghina Kamu" perkataan Ega yang terdengar tulus dan serius membuat Rain tertawa.
"Orang kaya kalau ngomong gini, ya. Seenak lidahnya!" Sahut Rain lalu berlari menuju kursi panjang dan duduk, Ega segera ikut duduk.
"Ega, kamu punya berapa banyak mantan sih?" Tanya Rain mulai penasaran.
__ADS_1
"Tuh, kan. Masa manggilnya Ega lagi" Alih-alih menjawab Ega malah protes dengan sebutan Rain
kepadanya.
"Udah, jawab aja. Jangan mengalihkan pembicaraan!" Sahut Rain dengan wajah serius.
"Eemm berapa ya, 10 eh 11 sih kalau sama Mawar" Jawab Ega.
"Iiih" Rain memukul bahu Ega.
"Dasar playboy!" Teriak Rain.
"Playboy mah mantannya ratusan, Yang!" Sahut Ega. Rain diam saja menekuk wajahnya.
"Yang jelas nggak sama kaya Kamu sekarang lah. Aku paling lama satu bulan pacarannya. Lagian 3 diantara 11 itu adalah temen Aku waktu Tk. Aku sengaja macarin dua hari doang trus Aku putusin lagi!" Cerita Ega panjang lebar.
"ish, jahat!" Lagi-lagi Rain memukul bahu Ega.
"Aku nggak pernah ngerasa suka apalagi cinta. Nggak pernah merasa secinta ini sebelumnya. You my fisrt and my last" Kata Ega membisik di telinga Rain dan membuat wajah Rain merona seketika.
Debaran jantungnya kembali tak beraturan. Ayolah, sudah mau dinikahin masih saja deg-degan jika berdekatan seperti ini.
Ponsel Ega bergetar, Pak Rakha mengirimnya pesan.
"Ayo Yang, Papa udah nunggu di restoran depan" Kata Ega segera beranjak. Hari itu mereka punya janji makan bersama dengan Pak Rakha. Ega dan Rain berjalan beriringan turun dari atap gedung.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan hingga tiba di hadapan Pak Rakha dan Mawar mereka terus berpegangan tangan.
"Assallamuallaikum" Sapa Rain dan Ega bersalaman. Keduanya langsung menyalami Pak Rakha.
Mereka segera menikmati hidangan yang tersedia. Rain hanya memakan nasi dan capcay. Rain menepati janjinya untuk menjaga kesehatan agar amandelnya tidak meradang. Selesai makan Pak Rakha membuka pembicaraan.
"Jadi, kapan Kita ke rumah Rain untuk melamar?"
"What, apa nggak kecepetan mas menikahkan Ega dengan gadis yang asal usulnya aja Kita nggak tahu," adalah Mawar yang bicara penuh emosi.
"Sudahlah Sayang, bukankah Kita sudah membahas ini. Ega tidak mungkin salah pilih. Lagipula Aku ingin segera punya cucu karena Kamu sendiri tidak mau memiliki anak." Jawab Pak Rakha dengan suara pelan namun terdengar menakutkan.
'Gue mau hamil, tapi sama Ega. bukan elo, Aki-aki!' umpat Mawar dalam hati.
"Emangnya Kamu berasal dari mana?" Tanya Mawar menunjuk Rain dengan dagunya.
"Saya lahir dan besar di Jakarta. Saya memang hanya tinggal berdua dengan Ibu. Ayah saya sudah meninggal karena kecelakaan saat Ibu mengandung Saya." Jawab Rain, lengkap.
"Sudahlah Rain, jangan pikirkan perkataan Mama mertuamu ini" Ucap Pak Rakha menatap Rain.
"Kita melamar Rain setelah acara perpisahan gimana Pa?" Tanya Ega yang sedari tadi kesal dengan Mawar.
"Baiklah, atur saja. Papa pasti hadir. Nanti Papa suruh anak buah Papa menyiapkan hantarannya." Jawab Pak Rakha.
Merasa pertemuan siang itu selesai, Ega dan Rain pamit terlebih dulu. Ega sudah mengerti bahwa Rain mulai merasa tidak nyaman. Keduanya pun berlalu, berjalan sambil berpegangan tangan meninggalkan Pak Rakha dan Mawar.
__ADS_1