Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Misi Rain


__ADS_3

Di Kamar tamu Rain mematut dirinya di cermin.


'Apa ini saatnya?'


Rain memegangi rambutnya, lalu wajahnya, kedua tangannya. Dari pantulan cermin Rain memperhatikan lekuk tubuhnya yang mengekpose segala bentuk aurat. Rain meraih ponsel di meja rias dan melakukan panggilan pada Ibu. Satu kali dering, Ibu langsung menjawab.


"Duuh, pengantin baru. Lupa ya sama Ibu?" terdengar suara Ibu tertawa di seberang sana.


Rain tersenyum getir


"Ibu, kangen nih!" Rain merengek menghapus air matanya.


"Gimana, sudah beres mengurus mertuamu?"


"Sudah, bu"


"Ada apa, sayang?"


"Hmm, Bu. Rain ingin berhijab. Tapi bingung mulai dari mana?


Ibu di seberang sana tersenyum bahagia mendengar penuturan Rain. Memang selalu itu yang Ibu inginkan. Bahkan diam-diam Ibu sudah menyiapkan segala sesuatu dari jauh-jauh hari.

__ADS_1


"Besok, bisa Kita bertemu?" Tanya Ibu.


"Besok Rain ke rumah Ibu ya?"


"Iya, sayang. Jam berapa?"


"sore, ya Bu. Ya udah makasih Bu. Udah dulu ya".


Rain menutup panggilannya dan bergegas ke luar kamar. Dilihatnya Bibi di dapur sedang membereskan belanjaan.


"Bi, cape ya?, Rain buatkan minum ya?" Rain mengusap punggung Bibi yang sedang menata sayuran di kulkas.


"Nggak usah Neng, nanti ambil sendiri Bibi mah".


Rain bingung mau mengerjakan apalagi semuanya sudah beres. Rain melirik ke arah tangga. Ingin sekali melihat wajah suaminya itu. Dengan mengumpulkan keberanian Rain berjalan perlahan hendak ke kamar Ega. Perlahan Rain membuka pintu, mengintip sebentar sebelum benar-benar masuk. Ega sedang duduk di depan meja belajar mengerjakan sesuatu di laptop.


"Mas, mau dibikin minuman?" Rain duduk di tepi ranjang menatap punggung Ega. Ega tidak menjawab tidak juga memberi isyarat.


"Mas, please dong jangan kaya gini. Mas nggak mau cari tahu kebenarannya seperti apa? Kita tanya Pak Riko Mas" Entah darimana Rain mempunyai keberanian berbicara seperti itu.


Engga menghentikan aktifitasnya, memukul meja dengan keras.

__ADS_1


"Loe nggak bisa ya dilembutin? dari tadi Gue udah nahan nih nggak mau kasar. Tapi kenapa sih Lo muncul lagi depan Gue. Bisa nggak Loe nggak usah menampakkan muka Loe yang menjijikan itu depan Gue?" teriak Ega tanpa menoleh pada Rain.


Rain memegangi dadanya yang lagi-lagi sesak. Ditahannya air mata itu agar tak jatuh. Rain mengatur nafasnya. Tangan sebelahnya Dia gunakan untuk berpegangan pada sprei, mencengkramnya kuat.


"Mas, apa Kamu nggak inget masa-masa indah Kita? Kamu nggak inget lagi semua yang pernah Kamu bilang sama Aku?" Rain beranjak mendekat pada Ega. Tangannya terangkat hendak menyentuh bahu Ega namun, Ega kembali berteriak.


"Stop, Gue nggak mau lagi ada kontak fisik sama Loe!"


Rain berusaha tegar, menarik kembali tangannya yang sudah terangkat. Satu bulir air mata lolos dari ujung mata dan segera Rain hapus.


"Mas, lalu apa tujuan Kita menikah? Kenapa nggak dibatalin aja sih dari awal kalau akhirnya seperti ini. Kamu akan berdosa Mas!"


Ega tertawa, suaranya menggema di kamar itu.


"Gue nikahin Loe buat bikin Loe menderita. Gue pengen Loe ngerasain apa yang udah dirasain Mama. Loe siap-siap aja ya Gue poligami. Gue pengen bikin batin Loe tertekan lalu Loe jadi gila dan akhirnya bunuh diri. Baru dendam gue beres"


Rain ingin sekali rasanya saat itu juga menenggelamkan diri di lautan lepas, atau masuk ke dasar jurang yang curam atau apa saja yang bisa membuat dirinya hilang seketika. Tapi, lagi-lagi Rain tak gentar. Rain tersenyum meski dengan mata berkaca-kaca


"Baiklah, Mas. Tapi Aku juga akan berjuang. Semakin Kamu menyakitiku Aku justru akan semakin mengejar cintamu. Kita lihat saja Mas, Aku yang mati bunuh diri atau Kamu yang malah cinta mati sama Aku". Rain melangkah lagi mendekati Ega, dan membisikkan sesuatu di telinga Ega


"Aku tikung di sepertiga malamku, sampai bertemu". Rain tersenyum miring, lalu beranjak keluar meninggalkan Ega. Jantungnya sudah mau loncat saja rasanya. Rain berlari-lari kecil menuruni tangga dengan wajah tersenyum tipis. Rain segera masuk ke dalam kamar tamu. Sudahlah, Rain tidak ingin lagi menangis. Rain menyisir rambutnya dan memoles lipbalm di bibir mungilnya. Lalu, Dia kembali ke dapur untuk memasak makan siang. Dia akan berusaha jadi istri yang baik walau suaminya masih diliputi dendam dan amarah. Rain akan segera mencari tahu kebenarannya.

__ADS_1


__ADS_2