Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Flashback


__ADS_3

Ruang tamu itu tiba-tiba menjadi mencekam, hanya terdengar suara detak jarum jam dinding yang bersahutan. Ibu duduk diapit Rain dan Ega. Rain menggenggam tangan Ibu yang dingin. Mereka sepertinya sedang memberikan kekuatan satu sama lain. Dada Rain bergemuruh hebat dengan perasaan yang kacau. Pak Riko masih enggan bicara.


Ega sendiri duduk menunduk berkali-kali meremas jarinya. Bibi yang duduk terpisah hanya bisa menatapnya sedih.


"Bicaralah, Rik. Gue udah siap". Ibu berhasil menenangkan diri.


Pak Riko menghela nafas panjang, bergantian melirik Rain dan Ega. Pak Riko beranjak dari duduknya, berusaha tenang dan berdiri menatap ke luar.


Flashback


Di sebuah perkebunan teh yang luas seorang gadis berusuia 17 tahun dengan wajah manisnya bersenandung riang menenteng sebuah keranjang yang digunakannya sebagai tempat untuk menampung hasil petikkan tehnya. Zein, gadis berambut panjang dengan satu lesung pipi di bagian kirinya memang selalu tampak cantik dilihat dari sisi manapun. Hari itu dia mengenakan dress selutut berlengan pendek warna broken white dengan sendal jepit hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Zein terus tersenyum sambil memetik daun teh itu. Jika para karyawan melakukannya di pagi hari, maka Zein melakukannya di sore hari sebab kekasihnya melarang Zein berbaur dengan karyawan lain agar tidak ada lelaki yang menikmati kecantikannya. Padahal sebagian besar pemetik teh itu adalah para Ibu-ibu, termasuk Ibu Zein sendiri.

__ADS_1


"Sayaang, sudah kubilang jangan jauh-jauh" Suara kekasihya yang berteriak hilang dibawa angin. Masih terdengar oleh Zein, tapi Dia pura-pura saja mengacuhkannya.


"Lihat, kan Rik. Gimana Gue nggak gemes coba kalau kelakuan Dia kaya gitu?" Rakha mendengus kesal melihat kelakuan Zein yang mengabaikan peringatannya.


"Perlu Gue yang bawa Dia ke hadapan Loe? Gue nggak akan keberatan gendong Dia ke sini" Ujar Riko sambil terus memandang senyum indah itu walau samar.


"Gue penggal kepala Loe kalo berani" Rakha mendorong bahu Riko seraya berlari kecil menghampiri kekasihnya yang berada di tengah perkebunan.


"Mas Rakha kebiasaan ya suka maksa, ini baru sedikit Mas" Zein menunjukkan keranjang teh nya.


"Sayang, udahlah. Bahkan seluruh perkebunan ini bisa jadi milikmu kalau Kamu mau nikah sama Aku" Rakha menyeret paksa kekasihnya. Mereka berjalan dengan Rakha melingkarkan pergelangan tangannya di pinggang ramping Zein.

__ADS_1


"Hai Riko, Loe bakal jadi nyamuk lagi hari ini" Zein menyapa Riko seraya melempar wajahnya dengan daun teh. Sakit? tidak. Yang sakit hatinya, melihat wanita yang dicintai bermesraan dengan lelaki lain.


"Pacaran mulu Loe bos, nikahin laah" Teriak Riko menggoda Rakha.


"Sekarang juga Gue nikahin kalo Dia mau" Rakha bicara tanpa berhenti melangkah.


"Aku belum siap, Mas" Zein mencubit pelan perut Rakha. Mereka sampai di tujuan, sebuah teras rumah yang langsung menghadap ke perkebunan. Terdapat meja bulat dan empat buah kursi kayu di sana. Mereka duduk dan tak lama Rosa keluar membawa nampan berisi empat cangkir teh panas yang asapnya masih mengepul. Zein segera mengambil salah satu cangkir itu. Dia sengaja menghirup kepulan asap dari teh itu.


"Hati-hati, sayang. Masih panas, kebiasaan Kamu tuh" Rakha mengelus sayang rambut lurus Zein.


Rosa dan Riko saling melempar pandang, melihat kelakuan keduanya. Rosa, Riko, Rakha dan Zein adalah empat sekawan dengan latar berbeda. Rosa, Zein, dan Riko adalah anak dari para pemetik teh yang bekerja di perkebunan itu. Sedangkan Rakha adalah putra satu-satunya dari pemilik teh. Rosa, Zein dan Riko lahir dan besar di lingkungan perkebunan teh dan sudah bersahabat sejak kecil. Sedangkan Rakha sendiri baru setahun yang lalu menginjakkan kaki di perkebunan itu karena kedua orangtuanya meninggal jadilah Dia yang harus terus memantau keadaan perkebunan milik mereka. Rakha tidak menetap, hanya sesekali datang. Bukan mengurus perkebunan sebetulnya, melainkan menemui kekasihnya yang baru dia pacari sebulan lalu. Dari awal Rosa sudah menaruh hati pada Rakha namun dia menahan diri karena sejak pertama datang Rakha sudah terang-terangan bilang suka pada Zein. Zein sulit sekali didapatkan, Rakha bahkan harus menunggu 11 bulan agar cintanya terbalas. Zein memang istimewa, Riko saja hatinya selalu bergetar melihat senyuman Zein walau senyum itu bukan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2