
Sebulan sudah pernikahan Ega dan Rain. Mereka tinggal satu atap tapi bahkan jarang sekali bertemu. Jika Rain ingin melihat sosok tampan suaminya itu maka Dia akan melakukannya dengan mengintip dari kejauhan. Semakin hari Ega semakin menjauh dari Rain dan semakin tidak ingin melihat keberadaan Rain.
Malam itu selesai mengintip suaminya sendiri yang sedang makan Rain duduk di tepi ranjangnya dan mengecek saldo tabungannya lewat ponselnya.
2.500.00
Angka yang tertera membuat Rain sedikit gundah. Ega bahkan tidak pernah memberinya uang. Rain berfikir keras jika terus seperti ini bagaimana untuk ongkosnya nanti saat perkuliahan sudah dimulai pada pertengahan september nanti. Biaya kuliah memang sudah ditanggung oleh beasiswa bahkan sudah dipastikan untuk segala macam bentuk pembayaran kegiatan juga Rain tidak usah mengeluarkan uang. Tapi, bagaimana untuk ongkosnya?
Rain beranjak dari duduknya dan mulai berjalan mondar mandir memikirkan ide apa untuk menghasilkan uang.
"Ah sudahlah, mungkin mulai besok bisa cari kerja. Kan di depan banyak kafe dan toko bisa deh Aku melamar di sana" Rain yang sudah merasa sangat lelah akhirnya tertidur tanpa melepas kerudungnya.
****
Setelah membereskan pekerjaan rumah, Rain pergi ke luar sekitar pukul 11:00. Rain sengaja berjalan kaki untuk menyisir setiap toko maupun kafe dan berharap ada lowongan. Namun, nihil sampai adzan dhuhur berkumandang tidak ditemukan tempat yang membuka lowongan kerja. Akhirnya Rain memutuskan untuk pulang saja dan sedikit kaget saat tiba di rumah ternyata mobil Ega sudah terparkir rapi. Rain memasuki rumah dengan perasaan was-was dan saat memasuki ruang tamu Rain disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya seakan di hujam ribuan tombak. Rasanya tububnya melayang seperti kapas terlempar oleh angin ke sana kemari
__ADS_1
"Mas Ragga lucu ya" Kata perempuan yang terlihat tua itu seraya memukul bahu Ega manja.
Mata Rain terbelalak. Dia marah, Dia cemburu. Bisa-bisanya Ega duduk berdekatan dengan perempuan lain yang memakai baju sangat seksi. Rain mematung memperhatikan keduanya, sadar diperhatikan perempuan itu bertanya pada Ega
"Mas, Dia siapa?"
Ega yang tidak menyadari keberadaan Rain melirik sekilas ke arah Rain dan katanya
"Oh, pembantu baru" Jawab Ega.
Rain yang sudah tidak tahan dengan kelakuan Ega segera berlari membawa air matanya yang sudah mulai berderai. Rain masuk ke kamarnya dan mejatuhkan diri di atas kasur dengan posisi tengkurap.
Di hadapan Tuhan, Rain mengadukan segala perasaannya. Rain menangis menengadahkan tangan. Rain selalu meminta untuk diberi kesabaran dan kekuatan. Tak henti meminta supaya hati suaminya itu kembali mencintainya
"Ya Allah, jika memang Engkau ingin melihat seberapa besar ikhlas dan sabar hamba maka hamba mohon jangan biarkan suami hamba mencintai gadis lain selain hamba". Rain tertidur di atas sajadahnya dengan masih mengenakan mukena hingga sore dan hampir membuatnya telat shalat ashar jika saja Bibi tidak masuk dan membangunkannya.
__ADS_1
Pukul 17:00 selesai shalat Rain keluar dari kamar karena merasa perutnya sangat lapar. Rain megambil beberapa roti dan susu kotak juga buah apel dan kembali ke kamarnya karena takut terlihat oleh Ega.
****
Pagi-pagi sekali saat Rain mengintip suaminya hendak sarapan Dia dikejutkan dengan kehadiran perempuan yang dilihatnya kemarin. Sepagi ini perempuan berpakaian seksi itu sudah datang dan makan bersama Ega dengan Dia yang mengambikan makanan untuk Ega.
Dari dalam kamar, Rain memegangi dadanya yang sesak. Rain merasa tidak bisa diam saja diperlakukan seperti ini. Rain akhirnya keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Ega juga perempuan itu
"Mas, Dia siapa sih? Pagi-pagi udah di sini?" Tanya Rain dengan isak tangisnya.
"Pacarku, kenapa? masalah?" Ega bekata tanpa menoleh pada Rain dan malah asyik makan.
"Kamu kan pembantu baru itu?" Tanya perempuan itu menunjuk Rain.
"Saya istrinya, mbak tolonglah jangan jadi wanita jahat kaya di sinetron itu. Saya cukup diperlakukan tidak baik tapi jika diselingkuhi Saya nggak sanggup Mbak" Rain bicara sambil tersedu-sedu menangis.
__ADS_1
Brak!
Ega memukul meja kuat dan berlalu meninggalkan Rain seraya mengajak perempuan itu untuk segera berangkat. Rain dengan tangisnya yang semakin pecah menatap punggung Ega dengan perasaan hancur. Bibi yang sedari tadi melihat kejadian itu hanya mampu menangis untuk Rain. Rain terjatuh, terus menangis.