
sebelum beralih ke episode selanjutnya Like, Komen dan Vote ya. Terimakasih yang sebesar-besarnya buat kalian yang udah baca karyaku disela-sela waktunya. Tenang, episodenya sebentar lagi habis jadi simak terus yaa. Terimakasih. Love You all 💖
*******
Rain masih enggan memejamkan matanya padahal waktu sudah menunjukkan pukul 01:30. Rain menyalakan lampu utama dan mematikan lampu tidur. Terlihat dengan jelas suaminya terlelap dengan nyenyak dan tenang.
"Aku sholat aja deh, tadi kan sudah tidur walau cuma beberapa jam". Rain bicara pada dirinya sendiri seraya beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu. Khusu sekali Dia berwudhu, membersihkan setiap bagian yang wajib dibasuh. Rain mengambil mukena dari dalam lemari dan memakainya perlahan. Dibentangkannya sajadah dan memulai menghadap-Nya dengan segala kerendahan hati. Rain memang sudah terlatih shalat malam sejak SD dan menjadi kebiasaanya hingga sekarang. Meski mungkin pengetahuan agamanya belum dalam karena selama ini hanya tahu dari Ibu dan pelajaran di sekolahnya.
Rain berdo'a dengan lebih khusu kali ini, meminta agar tiada lagi cobaan dalam rumah tangganya. Selesai berdo'a Dia pun mengambil Al-qur'an pemberian Ega dari dalam lemarinya. Diusapnya sampul depan Qur'an itu dan berkata dalam hati 'Kamu udah setahun menemaniku, walau Aku belum kembali khatam membacamu. Lihatlah, kali ini sepertinya Dia lupa hari ulang tahunku'. Rain sekilas melirik pada suaminya lalu mulai melantunkan ayat suci itu tepat pada surat Ar-rahman.
🍂🍂🍂🍂
Rain sedang merapikan tempat tidur saat suaminya pulang dari mesjid.
"Mas, nggak ikut kajian dulu?" Rain meraih tangan suaminya dan mengecupnya khidmat.
"Kajiannya diganti setelah dhuhur Yang". Ega membuka sarung dan kokonya lalu memberikannya pada Rain.
"Semalam Kamu tidur duluan sih, Aku tadinya Mau mengajakmu menyempurnakan pernikahan Kita". Ucap Ega mulai mendekap tubuh mungil istrinya itu.
"Maaf ya, padahal jam setengah dua Aku bangun lagi lho. Sekarang aja". Jawab Rain dengan tampang genit.
"Nanti malam aja, Kamu sekarang mending mandi terus bikinin Aku nasi goreng spesial. Ok" Ega mengecup dahi Rain lalu mengacak rambutnya dan melepaskan dekapannya. Rain hanya menggeleng memasukkan koko dan sarung Ega ke dalam lemari.
"Eh koq Kamu nggak marah sih Aku nyinggung soal itu?" Ega kembali mendekati Rain.
"Kan ngomongnya diperhalus, biasanya to the point dan nggak enak didenger banget. Kesannya tuh kaya cowok mesum gitu" Rain berjinjit lalu mengecup pipi suaminya sekilas dan berlari ke kamar mandi. Ega hanya tertawa melihat tingkah istrinya itu.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃
"Mas, telurnya habis lho. Di kulkas nggak ada apa-apa. Beli bubur aja ya". Rain yang terengah-engah karena berlari dari arah dapur menuju kamarnya.
"Aku maunya nasi goreng, beli dulu lah telurnya. Di depan itu ada kan warung". Ega yang baru selesai mandi mengeluarkan ATM dari dompetnya dan menyerahkannya pada Rain.
"Ngaco, mana ada belanja ke warung kecil pake ATM. Minta lima puluh ribu aja". Rain menyerahkan kembali ATM itu.
"Bawa aja sama dompetnya". Ega menyerahkan dompet itu tanpa mengambil kembali ATM nya.
"Ini kebanyakan". Rain terbelalak saat membuka isi dompet suaminya.
"Buat Kamu semuanya, cepetan sana beli telurnya. Nanti kesiangan nih".
"Ih aneh, ini kan hari minggu. Mau kemana coba pake rahasia-rahasia segala?". Rain melangkah meninggalkan kamarnya dengan menghentak-hentakkan kaki.
"Aneh banget Dia, sebentar manis sebentar nyebelin. Dia padahal waktu pacaran nggak gini deh. Mana pernah Dia nyuruh-nyuruh Aku. Aku bilang apa aja pasti Dia Ok. Sekarang malah nyuruh beli telur pagi-pagi. Mana masih gelap lagi jalanan. Aku kan takut. Dia nggak peka banget. Anterin keq, kesel ih. Mas, pengen cakar muka Kamu rasanya. Eh kalau dicakar nanti jadi jelek. Aku ngga mau punya suami jelek" Rain terus saja bersungut-sungut sepanjang perjalanannya sampai dia membuka gerbang tinggi itu.
Seseorang yang menggunakan jubah hitam membawa tubuh Rain masuk ke dalam sebuah mobil hitam.
"Jadi gimana, bos?" Ucap si jubah hitam yang ternyata adalah wanita.
"Kita langsung bawa ke hotel. Pastikan tidak ada luka sedikitpum atau kita akan dipenggal oleh bos besar" Ucap seorang pria seraya melajukan mobilnya dan mulai membelah jalanan yang masih lengang. Rain masih tidak sadar akibat biusnya itu. Dia dibaringkan denga posisi kepalanya di atas pangkuan wanita yang membiusnya. Hijabnya sedikit berantakan namun beruntung tak selembarpun rambutnya terlihat. Sang supir menambah kecepatan mobil saat matahari mulai beranjak.
Pagi yang cerah, langitnya membiru walau masih pukul 07:00. Rain dibawa ke sebuah kamar hotel mewah oleh dua orang wanita yang mengangkat tubuhnya.
"Loe nggak kebanyakan kan ngasih biusnya, koq belum sadar juga sih nih orang". Seru salah satu wanita itu seraya membaringkan Rain di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Kita keluar aja deh sebelum Dia sadar, biar Dia aja yang jaga. Gue nggak mau jadi orang pertama yang Dia lihat pas sadar nanti". Ucap wanita yang memakai jubah hitam lalu melangkah keluar diikuti wanita yang tadi ikut mengangkat Rain.
Rain ditinggalkan berdua dengan seorang wanita berambut panjang. Wanita itu menelusuri setiap jengkal wajah dan tubuh Rain.
"Loe pasti orang yang spesial". Gumamnya, lirih.
Rain menggerakan jari-jarinya. Kepalanya terasa berat. Pelan-pelan mulai membuka matanya. Terkejut saat sadar Dia berada di sebuah kamar dan bukan tempat tidurnya. Rain ingat, terakhir kali Dia hendak ke warung untuk membeli telur dan di jalan tiba-tiba ada seseorang yang membekap mulutnya.
Rain panik, Dia menatap wanita yang ada di hadapannya.
"Siapa Kamu, Aku di mana? Jangan macam-macam atau Suamiku nanti membuat perhitungan". Rain berusaha bangkit, namun tenaganya masih lemah.
Wanita itu hanya berdecak kesal harus terjebak ke dalam drama seperti ini.
"Jadi Kamu istrinya Ragga? Gue kalah sama model beginian?" Wanita itu berjalan pelan mondar-mandir. Hentakan dari heelsnya membuat seseorang yang sedang berada di luar mengepalkan tinjunya.
"Kamu kan yang malam itu pernah video call Mas ku?". Rain mengingat wajah wanita itu. Rambutnya yang dicat pirang terurai panjang hingga ke pinggang. Tubuhnya tinggi semampai dengan dress hitam di atas lutut yang membuat betis jenjangnya terekpose dengan indah. Wajahnya sungguh cantik, meski jelas terlihat keangkuhannya.
"Bagus juga ingetan Loe, bisa-bisanya Ragga jatuh cinta dan bertekuk lutut sama cewek kaya gini. Bertahun-tahun Gue nunggui Dia cuma dapet kekecewaan". Wanita itu bicara dengan nada angkuh.
"Biar Aku kayak gini tapi bisa bikin Mas jatuh cinta, udahlah Mbak keluarin Aku dari sini. Nanti Mas ku marah lihat istri tercintanya diculik gini". Rain mulai turun dari tempat tidur. Namun, tiba-tiba wanita itu melemparkan sesuatu pada Rain dan membuat Rain teriak histeris ketakutan sampai melompat-lompat.
Seseorang membuka pintu kamar itu dan berteriak
"Rain, Sayang!".
"Mas, tolong Aku".
__ADS_1
Ya dialah Ega, lelaki yang dari tadi berdiri di depan pintu masuk kamar itu menunggu istrinya sadar.
Like dulu sebelum episode selanjutnya. Makasih, 💖