
Rain terus melangkah diikuti Ega. Bibi tidak sengaja menangkap pemandangan itu. Rain yang berpakaian seksi berjalan diikuti Ega yang membawa keranjang pakaian. Bibi tersenyum senang
"Aah andai si neraka jahanam enggak meracuni pikiran Aa. Mungkin Neng Rain sekarang sudah hamil" Gumam Bibi seraya kembali menonton.
Tiba di kamar Ega meletakkan keranjang itu tepat di depan lemari. Rain segera memasukkan pakaian Ega ke dalam lemari dan menyusunnya rapi. Setelah selesai Rain menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Berantakan sekali, bahkan banyak puntung rokok berserakan di meja belajar.
"Mas, boleh Aku rapikan kamarnya. Biar Kamu nyaman?"
Ega yang sedari tadi berdiri di ambang pintu hanya mengangguk. Rain memulainya dari tempat tidur. Rain mengganti sprei dan sarung bantal itu. Dengan lihai dan cekatan tempat tidur sudah rapi dalam sekejap. Rain beralih ke meja belajar lalu memasukan sampah bekas rokok ke dalam plastik kecil yang tergeletak di sana.
Menyadari Ega masih berdiri Rain menoleh ke arahnya
"Mas mending gosok gigi, bersih-bersih. Pegel deh Aku liat Mas berdiri terus. Mas jangan khawatir, Aku sebentar lagi keluar koq".
"Iya, kamu bawel deh". Jawab Ega seraya ke kamar mandi. Rain tersenyum. Rasanya bahagia sekali. Rain kembali merapikan meja belajar Ega. Rain merapikan alat tulis yang berserakan dan memasukkannya ke dalam laci. Namun saat hendak menutup laci mata Rain menangkap sebuah ponsel yang diyakini itu adalah ponsel Ega. Rain mengambil ponsel itu dan memeriksanya. Iya, itu ponsel Ega.
__ADS_1
'Ternyata Kamu sampai ganti ponsel Mas. Pantas nomormu nggak aktif". Batin Rain seraya kembali meletakkan ponsel itu namun saat hendak menutup laci, lagi-lagi matanya menangkap sebuah potret lusuh. Poto yang tempo hari diberikan Pak Rakha kepada Ega.
Ega keluar dari kamar mandi, mendengar suara pintu tertutup Rain kager dan menjatuhkan poto itu. Ega yang melihatnyanya langsung menghampiri Rain.
"Kamuu" Ega berseru mengangkat telunjuknya.
"Maaf, Mas. Aku nggak sengaja lihat. Maafkan Aku. Aku janji nggak akan lagi sentuh barang-barang Kamu". Rain menunduk mulai menangis. Rain mengambil poto itu memasukkannya ke dalam laci. Lalu membalikkan badan hendak keluar. Namun baru melangkah tangannya ditarik Ega dan terpaksa Rain menghentikan langkahnya itu.
"Kamu tahu siapa yang ada di poto itu?" Tanya Ega.
Tanpa melepas pegangannya dari tangan Rain, Ega mengambil poto itu dan melihatnya kembali secara seksama. Iya, itu Pak Riko dan itu memang Mamanya.
"Mas, Aku mohon. Kalau mau marah suranya pelan-pelan. Jangan sampai Bibi mendengar". Kata Rain dengan tatapan memohon.
"Siapa yang mau marah, Rain?" Ega malah bicara pelan dan mendekatkan tubuhnya pada Rain.
__ADS_1
"Mas, Aku ingin bertemu Pak Riko. Mas, Aku rasanya lelah dengan semua ini". Rain yang mulai merasakan dadanya sesak berusaha menahan tangis.
"Aku udah pernah tanya pada Ibu, tapi Ibu malah berbohong". Rain yang merasakan kakinya sudah lemas berjalan tanpa dilepaskan tangannya oleh Ega menuju tepi ranjang dan duduk di sana. Ega ikut duduk tanpa melepas pegangan tangannya.
"Mas, bolehkan Aku berharap banyak pada pernikahan ini? Maaf Mas, Aku nggak percaya sama Papa. Aku terlalu takut untuk menganggap semua yang dikatakan Papa adalah benar". Rain mulai terisak.
"Aku juga ingin tahu, Rain. Tapi Pak Riko susah sekali dihubungi". Ujar Ega semakin mengeratkan pegangannya pada tangan Rain.
"Mas mau kan mencari tahu kebenarannya? Aku berharap semua yang dikatakan Papa itu bohong. Kalaupun benar, Aku akan terima apapun perlakuan Mas terhadapku. Tapi satu pintaku. Jangan perlihatkan benci Mas kepadaku di hadapan Ibu dan Bibi". Rain dengan berderai air mata menatap mata Ega dengan penuh kesedihan. Tangis Rain meledak hatinya yang sesak seolah meronta-ronta minta dikeluarkan. Rain terus sesenggukan memegangi dadanga dengan sebelah tangan. Tangannya yang lain masih digenggam erat oleh Ega.
Ega Iba sekali melihat keadaan istrinya itu. Betapa luka yang Dia torehkan nyatanya sudah terlalu dalam. Jika Bibi saja bisa sesakit itu, apalagi Rain yang langsung merasakan kekejamannya.
"Maafkan, Aku. Aku pasti mencari tahu kebenarannya. Beri Aku waktu Rain". Ucap Ega lirih. Rain awalnya menyangka Ega akan marah namun ternyata Ega malah menenangkannya.
"Mas, Aku ingin dipeluk. Sebentar aja Mas". Rain memohon dengan tatapn memelas.
__ADS_1
Ega luluh, hatinya teriris sakit. Dengan lembut menarik tubuh istrinya ke dalam pelukkannya. Rain menangis sejadi-jadinya namun ada perasaan hangat di hatinya. Ega membelai lembut kepalanya. Rain menangis sampai matanya terpejam dan terlelap.