
Selesai melipat mukenanya setelah shalat shubuh Rain membangunkan Ega. Ega menepis tangan Rain yang berkali-kali menyentuh bahunya. Alih-alih pergi wudhu Ega malah dengan sengaja menutup tubuhnya dengan selimut. Rain mendengus kesal berlalu meninggalkan kamar karena terdengar suara orang mengobrol. Rain dengan langkah besar turun melihat ke sumber suara. Pak Riko terlihat sedang duduk di ruang tamu bersama Bibi.
"Pak Riko?" Sapa Rain tersenyum ramah.
"Mbak, Mas nya udah bangun?" Tanya Pak Riko. Rain berfikir sejenak. Jika dia yang membangunkan pasti Ega tidak akan mendengar.
"Bi, minta tolong bangunin Mas ya. Aku bikin minum dulu buat Pak Riko"
Bibi tersenyum mengangguk dan berjalan ke kamar Ega. Rain segera beralih ke dapur. Membuat dua cangkir teh manis aroma vanila. Ega sudah duduk bersamaan dengan Rain kembali dari dapur membawa dua cangkir teh dan satu toples kue kering. Rain dengan hati-hati meletakkannya di meja,
"Silahkan, Pak diminum teh nya" Ucap Rain seraya berlalu dari sana.
Pak Riko yang melihat raut wajah Ega dan Rain bergantian seperti melihat sesuatu yang aneh.
"Maaf ya mas, Saya baru datang sekarang dan sepagi ini. Semalam ada yang harus diurus" Pak Riko membuka pembicaraan. Ega hanya menggangguk.
"Mas, siap tidak siap mas harus turun tangan mengurus bisnis Almarhum" Pak Riko melanjutkan bicaranya.
__ADS_1
"Saya butuh bantuan Pak Riko dan jangan libatkan Saya di Yayasan. Saya belum siap" Jawab Ega dengan tatapan kosong membuat Pak Riko semakin yakin jika tuan mudanya itu tidak baik-baik saja. Namun bukan kesedihan ditinggalkan Pak Rakha melainkan sesuatu tentang pernikahannya.
"Mas, apa Mas tidak ingin mengetahui sesuatu?" Tanya Pak Riko menyelidik.
"Saya sudah tahu semuanya, Pak Riko ngga usah ikut campur rumah tangga Saya" Ega mengeraskan rahangnya menatap Pak Riko tajam. Pak Riko sampai mendadak sakit tenggorokan ditatap seperti itu.
"Baiklah, Mas. Saya hanya ingin menyerahkan barang-barang berharga milik almarhum. Setelah ini saya permisi. Mungkin beberapa bulan Saya akan disibukkan dengan urusan pekerjaan" Ucap Pak Riko menyerahkan sebuah koper yang enggan sekali untuk Ega lihat.
"Hubungi saya kalau ada apa-apa, Mas. Saya permisi" Namun, alih-alih beranjak Pak Riko malah menyeruput habis teh manisnya lalu benar-benar beranjak pergi dengan bergidig ngeri.
*******
Rain yang semenjak tadi duduk di dapur memperhatikan keduanya tanpa bermaksud menguping. Rain segera menghampiri Ega yang masih duduk menatap koper dengan tatapan nanar.
'Bahkan kekayaanmu tidak mampu membeli kebahagiaanku, Pa' batin Ega.
"Mas, mau sarapan sekarang?".
__ADS_1
Ega tidak menjawab, dengan kasar berlalu menabrak bahu Rain bahkan tidak membawa koper itu. Rain berinisiatif membawakan koper itu dengan langkah hati-hati menaiki tangga. Namun, saat tiba di depan pintu Ega dengan sengaja membanting pintu itu tepat di hadapan wajah Rain.
Rain menghela nafas panjang, memegangi dada yang sesak. Namun segera tersenyum dan membuka pintu. Ega tidak ada di tempat tidur. Suara gemericik air di kamar mandi menandakan Ega tengah mandi. Rain dengan cekatan menaruh koper itu di samping meja belajar. Setelah Itu merapikan tempat tidur dan bergegas kembalu ke bawah setelah mengambil dompetnya di tas.
Bibi sedang merapikan cangkir bekas teh manis tadi saat Rain turun.
"Bi, biar Rain saja yang bersih-bersih. Bibi lebih baik ke pasar. Bilang pada Mas kalau Bibi mulai hari ini ingin belajar masak. Kasiahan Bi, suamiku itu jangan dikasih masakan dapet beli mulu" Kata Rain memeluk bahu Bibi yang sedang menaruh cangkir ke tempat cucian piring.
"Bibi nggak bisa masak, Neng" Jawab Bibi sambil tersenyum menutup wajahnya, malu.
Rain berbisik
"Kita kerjasama, Bibi bilangnya yang masak tuh Bibi padahal Aku yang masaknya"
Bibi tersenyum sumringah mendengar perkataan Rain. Dengan sigap kembali ke kamar untuk mengambil uang belanja dari Ega dan segera berlalu. Rain menatap punggung Bibi dengan perasaan haru
'Makasih, Bi. Bantu Rain kuat menghadapi ini Bi' Rain segera menghapus bulir kristal yang mulai keluar dari matanya lalu segera mencuci cangkir. Bahkan cangkir Ega masih utuh dengan teh manis yang mulai digerumuti semut. Entahlah, Rain merasa sakit dihatinya melihat teh manisnya bahkan diabaikan.
__ADS_1