
Hari-hari berlalu dengan cepat. Hubungan Rain dan Ega semakin hangat. Mereka berdua rasanya sudah bisa mengerti satu sama lain. Sering berdebat namun cepat-cepat mengambil solusi.
Keduanya selalu berprinsip untuk sesegera mungkin menyelesaikan masalah agar tidak berlarut-larut. Rain sebagai seorang perempuan hanya berharap agar tidak ada perubahan pada diri Ega setelah menikah nantinya. Mengingat keputusannya adalah suatu yang akan mengambil masa-masa mudanya.
****
Siang itu seminggu sebelum melakukan ujian Rain sengaja mengajak Ega ngedate setelah beberapa bulan lalu mereka ngedate pertama saat ulang tahun Ega.
"Anggap aja ngedate kali ini sebagai hadiah karena selama ujian kita nggak usah bareng-bareng dulu ya?!"
Kata Rain sambil menyuapkan cheese cake ke mulutnya. Mereka sedang berada si sebuah kafe siang itu.
"Kenapa harus gitu sih, Yang?Bukannya malah kalau kita barengan jadi tambah semangat ya?" protes Ega yang juga sedang menikmati cake nya.
"Kamu kan kerjaannya gangguin aku terus. Goda-goda Aku. Mana ada konsentrasi kalo belajar bareng kamu." Sahut Rain meletakan sendok di pinggir piring.
"Oh jadi selama ini aku pengganggu, ya?" Ega rupanya merasa tersindir.
"Bukan gitu, tapi kamu kan jahil terus". Jawab Rain mulai emosi.
"Kamu koq bentak-bentak sih?" Ega bertanya dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Siapa yang bentak? kamu nih seneng banget sih ngajak debat. Udah, ah. Males deket-deket." Rain menggeser jauh kursinya dari Ega.
"Ya ampun Yang, koq ngambek beneran?" Ega
melemahkan suaranya mulai menyadari bahwa kekasihnya itu sangat tidak suka jika dirinya bicara dengan nada tinggi.
"Udah gini aja, Aku nggak suka denger nada ngomong kamu yang tinggi." Jawab Rain mengerucutkan bibirnya.
"Masa marah sih, iya Aku minta maaf. Aku kelepasan abis kamu kan tadi yang mulai." Ega semakin melemahkan suaranya.
"Koq jadi Aku yang disalahin, Kamu tuh protes aja kalau Aku bilangin yang baik-baik." Rain masih saja ketus.
"Udah lah nggak perlu telpon-telpon ngabisin pulsa." Jawab Rain acuh.
"Nanti Aku beliin," jawab Ega memelas.
"Nggak usah, emang Aku semiskin itu sampe pulsa aja dibeliin." Rain menyahuti kata-kata Ega dengan nada ketus.
"Yang, udah dong. Iya Aku minta maaf. Aku cuma nggak bisa aja jauh dari Kamu." Jawab Ega lembut.
"Berlebihan!" Ucap Rain memalingkan wajahnya agar tak bertemu pandang dengan Ega.
__ADS_1
"Yang, Kita kan ke sini buat senang-senang koq malah ngambek?" Tanya Ega sudah sangat frustasi.
Ega coba meraih tangan Rain namun ditepisnya. Ega mencolek-colek bahu Rain namun Rain menggedigan bahunya kasar.
Lalu, srettt! Ega menarik kursi yang diduduki Rain. Karena tubuh Rain memang mungil mudah sekali Ega menggerakan kursi itu dan blush! Wajah Rain memerah.
Saat menoleh wajah Ega berada tepat di hadapannya. Wajah mereka belum pernah sedekat ini. Untuk sepersekian detik keduanya saling pandang. Debaran jantung keduanya bersahutan dan keduanya tertawa.
Rain akhirnya tertawa dan luluh.
"Maaf ya, Aku selalu mudah marah." Akhirnya kata itu keluar dengan suara yang sangat lembut.
"Iya, Aku juga minta maaf." Jawab Ega mengelus sayang kepala Rain.
"Aku juga sama nggak bisa jauh, tapi Aku rasa kita harus sama-sama konsen buat ujian. Kamu kan tahu kita kalau udah barengan ada aja yang diributin dan nggak bisa lah Aku ini konsen kalau deket Kamu soalnya pikiran Aku udah sepenuhnya Kamu kuasain. Jadi lebih baik Kita nggak barengan dulu selama ujian ini." Kali ini Rain bicara sangat halus sambil mengusap-usap punggung
tangan Ega.
"Iya, Aku ngerti." Ega menarik tangan Rain ke dalam genggamannya lalu keduanya kembali tertawa bersama.
Dasar, kalau akhirnya bisa dibicarakan baik-baik kenapa harus berdebat dulu? Inikah namanya bumbu cinta, oh sangat merepotkan.
__ADS_1